SURYA.CO.ID, PONOROGO - Ratusan warga di perbatasan Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur (Jatim), kini harus bertaruh nyawa setiap hari.
Kondisi memprihatinkan ini dialami warga Dusun Purworejo, Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo,
Mereka terpaksa menyeberangi Sungai Jabak menggunakan kereta gantung sederhana demi bisa mencapai wilayah Kabupaten Trenggalek, maupun sebaliknya.
Lokasi ini berada di wilayah pelosok yang cukup sulit dijangkau dari pusat keramaian.
Dari pusat kota Bumi Reog, perjalanan menuju lokasi menggunakan sepeda motor memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan.
Medan yang dilalui sangat bervariasi, mulai dari jalan aspal, rabat beton, hingga jalanan tanah lumpur yang licin.
Pantauan SURYA.co.id pada Sabtu (14/2/2026) pagi, menunjukkan sejumlah siswa berseragam pramuka mulai mengantre kereta gantung untuk menyeberang.
Para siswa tersebut merupakan warga Desa Gedangan yang menempuh pendidikantingkat SMA di Panggul, Kabupaten Trenggalek.
Satu-satunya cara agar mereka bisa sampai ke sekolah tepat waktu, adalah dengan menaiki kereta gantung rakitan tersebut.
Langkah ekstrem ini diambil, setelah jembatan utama yang dibangun secara swadaya diterjang banjir besar pada awal tahun 2026.
Sudah satu bulan terakhir, para siswa dan warga umum hanya mengandalkan alat transportasi manual yang sangat berisiko ini.
Kereta gantung ini, dibuat warga dengan bentuk seadanya menggunakan penyangga kayu dan tali seling.
Warga tidak punya pilihan lain, karena jika harus mencari jalur alternatif, mereka harus memutar sejauh 20 kilometer.
Alat ini digerakkan secara manual oleh warga yang berjaga secara bergantian untuk menarik tali penggerak.
Meski berisiko tinggi, warga tidak mengenakan tarif bagi siapa pun yang melintas, melainkan hanya sumbangan sukarela.
Risky Kurniawan, salah satu siswa, mengaku tetap memilih jalur ini, karena lebih dekat dibandingkan sekolah di pusat Ponorogo.
“Sejak kecil saya memang sekolah di Kabupaten Trenggalek. Lebih dekat ke sini dibanding ke sekolah yang ada di Kabupaten Ponorogo,” ungkap Risky.
Meski rutin melintas, ia tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya saat bergelantungan di atas aliran sungai yang deras.
“Setiap hari lewat sini. Kalau pas banjir besar takut banget. Deg-degan banget,” lanjutnya dengan nada cemas.
Selain siswa, warga asal Trenggalek bernama Febia Elen juga terpaksa memanfaatkan fasilitas darurat ini untuk bekerja ke arah Ponorogo.
“Paling dekat lewat sini, ini mau kerja ke Ponorogo. Putar juga sangat jauh,” papar Febia menjelaskan alasannya bertaruh nyawa.
Diketahui, Jembatan Jabak sebelumnya memiliki panjang 70 meter sebelum dua pondasi betonnya roboh akibat hantaman arus air.
Akibatnya, sepanjang 25 meter sisi jembatan hilang, dan warga kini menyambungnya dengan akses kereta gantung sepanjang 40 meter.