Kisah Sidney Siswa SMA Juara Kompetisi Tari Nasional, Tantangan Terberat Membagi Waktu Sekolah
rival al manaf February 14, 2026 11:09 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Kompetisi tari iForte di Semarang tak hanya menghadirkan persaingan ketat, tetapi juga cerita perjuangan dari para peserta yang berhasil melaju ke babak grand final di Jakarta.

Dari kategori SMA, tim Spots asal SMA Cita Hati Surabaya sukses meraih juara pertama. Ketua tim, Sidney Loo (16), mengaku tak menyangka bisa keluar sebagai pemenang di tengah persaingan yang dinilai sangat ketat.

“Kami benar-benar enggak nyangka bisa juara satu, karena menurut kami semua tim bagus-bagus. Bisa masuk saja sudah keren banget,” ujarnya, Sabtu (14/2/2026) malam.

Sidney menjelaskan, timnya melakukan persiapan selama kurang lebih dua bulan. Awalnya latihan dilakukan seminggu sekali, namun mendekati hari perlombaan mereka berlatih setiap hari. 

Baca juga: Detik-detik Longsor di Parkiran Curug Sikarim Wonosobo, 5 Motor Wisatawan Hilang

Baca juga: Link Live Streaming Inter Milan vs Juventus, Kick Off Pukul 02.45 WIB

Para anggota tim berasal dari kelas 10 dan 11.

Untuk lagu wajib berjudul Inspirasi Diri, mereka mengangkat kisah seorang nelayan yang ingin bersekolah setelah melihat anak-anak sekolah, hingga akhirnya berhasil meraih kesuksesan dan wisuda bersama. 

Sementara pada tarian kedua, mereka mengangkat tema jamu sebagai bentuk pengingat agar generasi muda tidak melupakan minuman tradisional di tengah maraknya minuman modern.

“Sekarang anak-anak muda sudah terlalu sering lihat minuman modern, jamu seperti terlupakan. Jadi kami ingin mengingatkan lagi lewat tarian ini,” jelasnya.

Ia mengakui tantangan terbesar adalah membagi waktu antara sekolah dan latihan.

Beberapa jam pelajaran sempat digunakan untuk latihan, namun mereka tetap berusaha menjaga keseimbangan antara akademik dan kesenian.

Untuk persiapan menuju Jakarta, Sidney mengatakan timnya masih menunggu arahan teknis dari panitia, termasuk kemungkinan menghadirkan konsep baru atau melakukan penyempurnaan koreografi.

“Supaya maksimal, kami ingin meningkatkan variasi koreografi, kostum, ekspresi, dan belajar juga dari tim-tim lain sebagai inspirasi,” tambahnya. 

Sementara dari kategori perguruan tinggi, grup Anvesha dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta juga berhasil mencuri perhatian.

Salah satu kapten tim, Virgianto Alisyahputra (20), mahasiswa semester 4 Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan, Fakultas Seni Pertunjukan, menjelaskan konsep yang mereka usung.

“Konsep koreografi kami tentang entitas dan dosa, termasuk sindiran terhadap bencana banjir di Sumatera. Kami menggambarkan kehidupan sebelum adanya manusia, saat alam masih murni dan bersih, lalu berubah menjadi rusak karena ulah manusia,” ungkapnya.

Persiapan dilakukan selama kurang lebih tiga bulan. 

Mereka menggarap konsep, musik, hingga koreografi dari nol. 

Tantangan terbesar, menurutnya, adalah menyatukan karakter gerak dan energi tubuh para anggota yang berasal dari latar daerah berbeda.

“Basic dan power kami beda-beda, jadi harus benar-benar menyamakan ketubuhan dan volume gerak,” jelasnya.

Untuk kostum, proses pengerjaan memakan waktu sekitar tiga hingga empat minggu.

Riasan dilakukan secara mandiri oleh masing-masing anggota, termasuk sesi uji coba make-up sebelum hari tampil.

Menjelang grand final di Jakarta, tim Anvesa berencana melakukan revisi dan penyempurnaan konsep agar tampil lebih matang dan spektakuler.

Head of Area Jawa Tengah 2 iForte, Renard Djunaidi, sebelumnya menyampaikan bahwa dari 13 kota penyelenggara kurasi offline, masing-masing akan mengirimkan satu juara kategori SMA/SMK dan satu juara kategori perguruan tinggi ke Jakarta.

Sementara itu, Head of Marketing Communication iForte, Victor Sihombing, menegaskan bahwa aspek penilaian meliputi koreografi, konsep, dan busana. 

Ia juga menyebutkan total peserta tahun ini mencapai 710 dari seluruh Indonesia, meningkat dibanding tahun sebelumnya.

“Yang kami pilih adalah yang terbaik, tanpa melihat asal daerahnya. Di grand final nanti, mereka akan kembali disaring untuk menentukan juara nasional,” ujar Victor.

Grand final di Jakarta nantinya akan memperebutkan hadiah uang pembinaan, beasiswa, serta logam mulia dengan total nilai mencapai ratusan juta rupiah. (Rad)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.