TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) menegaskan tidak akan mengendurkan pengawasan terhadap sebaran penyakit Tuberkulosis (TBC).
Sejumlah langkah taktis dipersiapkan dan digencarkan dalam upaya pengawasan hingga pencegahan penyakit menular ini.
Mulai dari penemuan kasus aktif, penguatan pengobatan sampai tuntas, hingga pemberian terapi pencegahan bagi mereka yang berada di lingkaran kontak erat.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Yogyakarta, dr Endang Sri Rahayu, mengungkapkan potret kondisi kasus TBC tahun lalu.
Sepanjang 2025, pihaknya mencatat setidaknya ada 1.333 kasus TBC yang terdiagnosis di seluruh fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) di Kota Yogyakarta.
"Penemuan kasus kita memang cukup tinggi. Tetapi, persoalannya masih ada pada kontak serumah yang belum optimal dilakukan pemeriksaan. Ini yang perlu terus kita tingkatkan," ujarnya.
Menariknya, dari ribuan kasus tersebut, hanya sekitar 600an jiwa yang merupakan warga ber-KTP Kota Yogyakarta.
Sementara sisanya adalah warga luar kota yang mengakses layanan kesehatan di wilayahnya.
Hal tersebut, kata Endang, menjadi bukti tingginya mobilitas penduduk sebagai faktor krusial dalam peta penularan TBC yang tak mengenal batas wilayah, terutama di lingkungan padat penduduk dengan sirkulasi udara minim.
"Kalau satu rumah ada beberapa orang, dan satu terkena TB, maka lebih mudah menular ke yang lain. Apalagi, rumahnya lembab, tidak ada sirkulasi udara, dan tidak mendapat akses sinar matahari langsung, itu jadi faktor risiko," jelasnya.
Krusialnya kondisi hunian ini pula yang membuat program bedah rumah gagasan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menjadi instrumen penting dalam mitigasi risiko penularan.
Baca juga: Mengenal Teknologi Biowash, Solusi Cepat Pengolahan Sampah Organik yang Diboyong ke Jogja
Namun, di tengah efisiensi anggaran yang memangkas sejumlah kegiatan, strategi investigasi kontak kini menjadi ujung tombak karena dinilai paling efektif dan efisien.
"Orang yang sudah kontak dengan pasien TB berisiko terinfeksi. Infeksi itu belum tentu langsung sakit, karena proses TB kan panjang. Dengan terapi pencegahan, harapannya tidak berkembang menjadi sakit TB di kemudian hari," katanya.
"Dengan pemahaman yang benar, sebenarnya kita tidak perlu terlalu takut. Ada upaya pencegahan agar tidak menular, dan ada obat untuk menyembuhkan serta mencegah agar infeksi tidak berkembang menjadi sakit," urai Endang.
Lebih lanjut, jika diilihat dari kacamata epidemiologi, angan menuju eliminasi TBC 2030 di Yogyakarta, masih harus menempuh jalan yang cenderung mendaki.
Epidemiolog Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, Setyo Gati Candra Dewi, memaparkan tiga indikator utama yang menjadi rapor daerah meliputi 90 persen penemuan kasus, 90 persen keberhasilan pengobatan, dan 80 persen pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).
"Untuk penemuan kasus, kita sudah melampaui 90 persen dari estimasi. Tapi, yang masih jadi tantangan adalah keberhasilan pengobatan dan pemberian TPT," ungkapnya.
Menurutnya, dewasa ini, masalah klasik masih membayangi, seperti pasien yang putus obat, pindah domisili tanpa jejak, hingga komplikasi yang berujung kematian.
Evaluasi tahun 2025 yang menunjukkan ada 90 pasien meninggal dari sekitar 1.319 orang yang diobati, menjadi angka yang melampaui ambang batas kematian 2 persen.
"Memang tidak semua kematian murni karena TB. Banyak pasien memiliki penyakit penyerta seperti diabetes, HIV, atau komorbid lainnya. Tapi, secara pencatatan tetap masuk sebagai kematian TB," jelasnya.
Dinkes pun terus mendorong skrining rutin bagi kelompok berisiko tinggi dan meminta komitmen penuh dari para pasien untuk menyelesaikan pengobatannya hingga titik terakhir.
Bukan tanpa alasan, pengobatan yang tidak selesai bukan hanya berdampak pada diri sendiri, namun juga membuka potensi penularan ke orang lain.
"Dengan pengobatan tuntas, kita bisa melindungi diri sendiri sekaligus membantu menurunkan angka penularan di Kota Yogyakarta," pungkasnya. (*)