TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Upaya pengentasan masalah sampah di wilayah DI Yogyakarta terus digencarkan melalui berbagai inovasi berbasis komunitas.
Salah satunya melalui optimalisasi teknologi Biowash sebagai salah satu solusi cepat dalam pengolahan limbah organik di tingkat rumah tangga.
Teknologi tersebut menjadi bagian dari program CSR Bank Sinarmas berkolaborasi dengan Yayasan Harapan Lingkungan Hidup (YHLH) dan PT Songsong Buwono Lestari.
Pemateri dari YHLH, Supradani Putri Nurina, menyatakan bahwa program ini difokuskan pada penguatan kelembagaan UMKM dan solusi lingkungan yang berkelanjutan.
"Topiknya memang solusi berkelanjutan, dan tema tahun ini untuk optimalisasi aplikasi berbasis teknologi konsorsium mall dan penguatan kelembagaan UMKM," terangnya, Minggu (15/2/2026).
Menurutnya, teknologi itu mulai diterapkan secara masif di Kube Lansia Tangguh Kelompok Ecoprin, Somodaran, Banyuraden, Gamping, Sleman.
Berbeda dengan metode konvensional, Biowash menjadi pilihan strategis di tengah kondisi darurat sampah karena durasi pengolahannya yang singkat.
Cairan multifungsi dari kulit buah jeruk dan nanas sebagai bahan dasar, hanya memerlukan waktu setidalnya tiga hari saja untuk siap digunakan.
Sehingga, dibandingkan dengan pembuatan eco enzym yang membutuhkan waktu sampai sekitar tiga bulan, solusi yang diboyongnya diklaim lebih praktis.
"Jadi, dengan Biowash ini nggak usah menunggu jadi kompos dulu. Bahan dasarnya dari kulit buah jeruk dan nanas ditambah garam dan starter," terangnya.
Baca juga: Anggaran Pendidikan Tersedot Program MBG, Guru Honorer di Jogja Dukung Uji Materiil UU No 17/2025
"Prosesnya cepat. Kalau kita buat kompos itu kan kadang-kadang paling cepat dua minggu. Biowash ini langsung bisa dipakai (jadi media tanam)," urai Putri.
Melalui program yang dilangsungkan tersebut, pihaknya pun mengajarkan para sasaran, yang membentuk wadah-wadah seperti koperasi atau kelompok.
Menariknya, selain pengolahan sampah, fermentasi Biowash juga bisa difungsikan sebagai pestisida nabati untuk menjaga ketahanan pangan keluarga.
"Kemarin sudah kita coba juga pada tanaman cabai, daunnya yang semula mengalami keriting-keriting itu bisa dipulihkan kembali," ucapnya. (*)