Suasana Latihan Operasi Pertahanan Pantai (Latopshantai) yang biasanya sarat ketegangan, Minggu (15/2), berubah menjadi momen penuh tawa dan keceriaan anak-anak. Sejak pagi, ratusan anak dari sekitar kawasan Muara Tengkorak, Kampung Nelayan, Sungailiat, hadir menyaksikan aksi TNI Angkatan Laut.
DENTUMAN ledakan, peluncuran roket, dan tembakan senapan menimbulkan decak kagum. Beberapa anak bertepuk tangan, sementara yang lain menatap serius aksi para prajurit yang melatih operasi anti akses dan anti amfibi. Namun, ketegangan itu segera terpecah ketika anak-anak mendekati prajurit untuk bertanya dan mencoba memegang senjata laras panjang.
“Pak, boleh lihat senjatanya enggak, Pak?” tanya seorang anak polos.
Para prajurit dengan ramah menjawab rasa penasaran mereka, bahkan mengajak anak-anak berfoto bersama di tepi pantai meski diguyur rintik hujan. “Sini, sini, kita foto ramai-ramai,” seru seorang prajurit, memecah senyum dan tawa anakanak yang hadir.
Latopshantai ini digelar dengan melibatkan 1.443 personel gabungan dari unsur laut dan marinir, sembilan kapal perang, serta tujuh pesawat udara, termasuk pesawat patroli CN-235 MPA dan helikopter Panther. Drone kamikaze dan Multi Launcher Roket System (MLRS) Korps Marinir juga digunakan, sementara pasukan pendarat melakukan demonstrasi amfibi.
Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana TNI Muhammad Ali, yang hadir langsung mengamati latihan, menekankan bahwa kegiatan ini merupakan pembuktian kemampuan TNI AL dalam melaksanakan operasi pertahanan pantai dan mencegah pendaratan musuh. Latihan juga menjadi sarana mengamankan sumber daya alam, terutama pasir timah dan logam tanah jarang di Bangka Belitung.
“Hari ini (kemarin-red), kita sudah berhasil mengamankan 496 ton timah dari upaya penyelundupan,” jelas Muhammad Ali.
Sinergi dengan Satgas Tricakti, yang melibatkan tiga matra TNI, dan unsur angkatan laut membuat pengawasan terhadap penyelundupan berjalan efektif.
Ia menambahkan bahwa operasi ini sekaligus menertibkan praktik ilegal yang merugikan negara.
Latopshantai bukan sekadar latihan militer.
Dengan teknologi baru seperti drone surveillance, drone kamikaze, dan pusat komando mobile (Puskodal), TNI AL menguji kemampuan anti akses dan anti amfibi secara nyata. Bahkan roket multilaras RM-70 Grad yang biasanya untuk sasaran darat, dicoba untuk sasaran laut, menunjukkan efektivitasnya.
Bagi anak-anak yang menonton, kegiatan itu bukan hanya tentang ledakan dan suara keras.
Mereka belajar melihat disiplin, keberanian, dan profesionalisme prajurit TNI AL, sambil menikmati kesempatan langka berinteraksi langsung.
Momen foto bersama menjadi penutup sempurna dari Latopshantai yang sarat aksi dan edukasi itu.
“Melihat anak-anak tersenyum dan penasaran, kita merasa bangga bisa mengenalkan mereka pada TNI AL,” ucap seorang prajurit sambil tersenyum.
Bagi masyarakat Sungailiat, Latopshantai kali ini bukan sekadar latihan, melainkan perpaduan edukasi, hiburan, dan patriotisme yang tersaji dalam satu hari. (Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra)