Prediksi Awal Ramadhan 1447 H Bakal Berbeda, Simak Ulasan BMKG, BRIN dan MUI
Fitriadi February 16, 2026 11:35 AM

BANGKAPOS.COM - Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH M Cholil Nafis menyatakan awal Ramadhan 1447 H di Indonesia berpotensi berbeda antara hari Rabu tanggal 18 Februari 2026 dan Kamis 19 Februari 2026.

Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia akan menggelar Sidang Isbat penetapan 1 Ramadhan 1447 H secara nasional pada hari Selasa tanggal 17 Februari 2026.

Sementara itu, ormas Islam Muhammadiyah sudah lebih dahulu menetapkan 1 Ramadhan 2026 jatuh pada hari Rabu 18 Februari 2026.

Baca juga: Jadwal Puasa Kota Pangkalpinang Full 1 Bulan Ramadhan 2026

MUI meminta umat Islam menyikapi potensi perbedaan awal Ramadhan 1447 H secara dewasa dan menjaga ukhuwah Islamiyah.

Integrasi Metode Hisab dan Rukyat

Dikutip dari kalteng.kemenag.go.id, sidang isbat pada 17 Februari 2026 akan dipimpin Menteri Agama, Nasaruddin Umar.

Forum ini akan dihadiri berbagai unsur, mulai dari perwakilan ormas Islam, ahli falak, pakar astronomi, hingga lembaga negara terkait. 

Baca juga: Jadwal Waktu Imsak Full 30 Hari Ramadhan 1447 H Untuk 41 Kota di Indonesia Lengkap File PDF

Menurut Dirjen Bimas Islam, Abu Rokhmad, sidang akan melalui tiga tahap utama: pemaparan data hisab, verifikasi hasil rukyat dari berbagai titik, lalu musyawarah penetapan keputusan.

Penentuan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah mengikuti integrasi metode hisab dan rukyat, sejalan dengan panduan Majelis Ulama Indonesia. 

Direktur Urusan Agama Islam, Arsad Hidayat, menambahkan bahwa sejumlah lokasi strategis, termasuk kawasan IKN dipertimbangkan sebagai titik rukyat potensial tahun ini.

Karena itu, meski data astronomi sudah memberi gambaran kuat, masyarakat tetap diimbau menunggu pengumuman resmi hasil Sidang Isbat sebagai dasar penetapan 1 Ramadan 1447 H.

Menjelang penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah, proses pengamatan hilal kembali menjadi perhatian utama. 

Rukyatul hilal adalah kegiatan melihat langsung bulan sabit pertama setelah ijtimak sebagai penanda masuknya bulan baru Hijriah, yang dilakukan saat matahari terbenam dengan bantuan metode observasi dan perhitungan astronomi. 

Pengamatan hilal menjadi langkah penting untuk memastikan kapan umat Islam mulai beribadah puasa.

Tahun ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyiapkan pemantauan intensif selama dua hari berturut-turut melalui jaringan pos observasi di berbagai wilayah Indonesia.

Sebanyak 37 titik pengamatan disiapkan untuk melakukan rukyat hilal pada 17 dan 18 Februari 2026.

Pengamatan ini dipadukan dengan perhitungan astronomi (hisab) agar data yang diperoleh lebih komprehensif dan dapat menjadi bahan pertimbangan resmi pemerintah.

Hilal 17 Februari 2026 Masih di Bawah Ufuk

Berdasarkan perhitungan hisab saat Matahari terbenam pada Selasa, 17 Februari 2026, posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia masih berada di bawah ufuk. 

Mengutip dari Instagram @infobmkg, tingginya berkisar antara sekitar minus 2,4 derajat di wilayah timur.

Secara astronomis, kondisi ini membuat kemungkinan terlihatnya hilal sangat kecil.

Berikut gambaran datanya:

Tinggi Hilal:

-2,41° di Jayapura hingga -0,93° di Tua Pejat

Elongasi Geosentris:

0,94° di Banda Aceh hingga 1,89° di Jayapura

Fraksi Iluminasi Bulan:

0,01 persen di Sinabang hingga 0,05 persen di Jayapura

Umur Bulan:

-3,07 jam di Jayapura hingga -0,16 jam di Banda Aceh

Lag (selisih waktu bulan terbenam setelah matahari):

8,27 menit di Jayapura hingga -3,11 menit di Tua Pejat

Data ini menunjukkan bahwa ijtimak (konjungsi) belum sepenuhnya terjadi saat matahari terbenam di sebagian wilayah Indonesia. 

Tinggi hilal yang masih negatif berarti posisi bulan masih berada di bawah garis cakrawala. 

Dengan elongasi yang masih sangat kecil, hilal secara teori belum memenuhi kriteria visibilitas.

Namun demikian, pengamatan tetap dilakukan sebagai bagian dari prosedur ilmiah dan dokumentasi astronomis.

Situasi berbeda diperkirakan terjadi pada Rabu, 18 Februari 2026. 

Data hisab menunjukkan posisi hilal sudah berada cukup tinggi di atas ufuk saat matahari terbenam.

Rentang parameter pada tanggal tersebut antara lain:

  • Tinggi hilal sekitar 7,6° hingga 10°
  • Elongasi geosentris di kisaran 10,7°–12,2°
  • Fraksi iluminasi mendekati 1 persen
  • Umur bulan sudah lebih dari 20 jam
  • Lag waktu terbenam bulan setelah matahari mencapai 35–45 menit
  • Angka ini telah melampaui ambang kriteria yang ditetapkan oleh MABIMS, yakni tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

Secara teoritis, peluang terlihatnya hilal menjadi jauh lebih besar pada tanggal tersebut.

BMKG Siapkan Tim dan Data Pendukung

Keterlibatan BMKG tidak hanya pada penyediaan lokasi, tetapi juga dukungan data teknis. 

Deputi bidang geofisika, Nelly Florida, memastikan bahwa data hisab detail telah dibagikan kepada para pengamat sebagai panduan lapangan. 

Sementara itu, jajaran teknis yang diwakili A. Fachri Radjab menjelaskan bahwa seluruh laporan rukyat dari berbagai daerah akan direkap dan diserahkan ke pemerintah sebagai bahan pertimbangan resmi.

Masyarakat juga dapat memantau proses observasi melalui siaran langsung yang disediakan BMKG di laman pemantauan hilal mereka.

Prediksi BRIN

Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin, memprediksi awal puasa 1 Ramadhan 1447 Hijriah di Indonesia berpotensi mengalami perbedaan tanggal pada Februari 2026.

Potensi perbedaan ini muncul karena adanya penggunaan kriteria hilal lokal dan hilal global yang berbeda di antara organisasi Islam dan pemerintah.

"Akan ada perbedaan penentuan awal Ramadhan 144 H. Sumber perbedaan bukan seperti sebelumnya yang terkait posisi hilal, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan 'hilal lokal' dan 'hilal global'," ucapnya, saat dihubungi Kompas.com, Jumat (6/2/2026).

Dia mengatakan, Pemerintah Indonesia melalui Kemenag dan sebagian besar ormas Islam di Indonesia diperkirakan menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Hal ini karena pada saat sidang isbat digelar, posisi hilal di wilayah Asia Tenggara belum memenuhi kriteria baru Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) Kriteria ini mensyaratkan posisi hilal memenuhi tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

"Pada saat Maghrib 17 Februari, posisi hilal/bulan masih di bawah ufuk. Jadi tidak mungkin dirukyat (diamati). Jadi, awal Ramadhan pada hari berikutnya, yaitu 19 Februari 2026," kata Thomas.

Sementara itu, menurut kriteria Turkiye, posisi bulan telah memenuhi kriteria dan ijtimak terjadi sebelum fajar di Selandia Baru. Ini artinya, penetapan menggunakan kriteria Turkiye menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Thomas mengatakan, kriteria ini disebut sebagai "hilal global" yang juga digunakan oleh Muhammadiyah untuk menetapkan 1 Ramadhan 1447 H. 

"Muhammadiyah menggunakan 'hilal global', yaitu asalkan hilal memenuhi kriteria visibilitas di mana pun dan konjungsi sebelum fajar di Selandia Baru, maka besoknya masuk awal bulan," terang Thomas.

Dia menjelaskan, pada 17 Februari 2026 posisi hilal atau bulan telah memenuhi kriteria di Alaska dan konjungsi terjadi sebelum fajar di Selandia Baru, maka awal Ramadhan ditetapkan 18 Februari 2026.

Arab Saudi Diprediksi Ramadhan Lebih Awal

Sementara itu, Thomas menambahkan bahwa Arab Saudi mungkin akan lebih awal memulai 1 Ramadhan 1447 H. Dia mengatakan, Arab Saudi menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) tetapi berdasarkan rukyat.

Meski demikian, Thomas berkata, rukyatnya seringkali terpengaruh kalender Ummul Quro, sehingga diperkirakan di Arab Saudi awal Ramadhan Rabu, 18 Februari 2026.

"Jadi, kalau Arab Saudi (awal puasa) 18 Februari 2026 sekadar kebetulan," ungkapnya.

MUI Ingatkan Soal Perbedaan Metode Penetapan Ramadhan

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH M Cholil Nafis menyatakan awal Ramadhan 1447 H di Indonesia berpotensi berbeda antara 18 atau 19 Februari 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan di Jakarta, Senin (16/2/2026), menjelang penetapan awal puasa Ramadhan 2026.

Perbedaan dipicu penggunaan metode penentuan awal bulan yang berbeda, yakni hisab kalender global dan hisab dengan pendekatan imkan rukyat.

MUI meminta umat Islam menyikapi potensi perbedaan awal Ramadhan 1447 H secara dewasa dan menjaga ukhuwah Islamiyah.

Cholil menyebut sebagian pihak telah menetapkan awal Ramadhan pada 18 Februari 2026.

"Hampir dipastikan berpotensi berbeda, mengawali Ramadhan ini kita berbeda. Karena sudah ada yang sudah menetapkan awal Ramadhan pada 18 Februari ini. Karena menggunakan hisab sekaligus kalender global," kata Cholil di Jakarta, Senin (16/2/2026), dilansir dari MUI.

Sementara itu, pihak lain menggunakan hisab sekaligus metode imkan rukyat yang mempertimbangkan kemungkinan hilal dapat diamati saat matahari terbenam.

"Nah, menurut imkan rukyat kemungkinan hilal bisa dilihat ini tak mungkin dapat diamati," sambungnya.

Ia menjelaskan posisi derajat hilal diperkirakan masih berada di bawah 3 derajat.

Ketentuan Mabims yang melibatkan Malaysia, Indonesia, Singapura, dan Brunei Darussalam menetapkan hilal dapat terlihat jika sudah berada di atas 3 derajat.

"Jadi bisa dipastikan awal Ramadhan kita ini akan berbeda. Ada yang tanggal 18 dan ada yang tanggal 19 Februari. Saya berharap semuanya memaklumi hal ini. Yang penting kita bisa menjalankannya dengan baik dan khusyuk," ungkapnya.

Jangan Sampai Perbedaan Memicu Perpecahan

Cholil menekankan agar perbedaan awal Ramadhan 1447 H tidak menimbulkan gesekan di tengah masyarakat.

Ia menilai perbedaan tersebut termasuk khilafiyah fikr atau perbedaan pemikiran yang sudah lama dikenal dalam tradisi keilmuan Islam.

"Saya berharap masyarakat sudah dewasa. Ini masalah khilafiyah fikr, masalah perbedaan pemikiran. Dan tidak perlu dibawa-bawa pada perpecahan, tapi dijadikanlah perbedaan ini untuk kita belajar lebih banyak," sambungnya.

Ia menegaskan pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah sebagai bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Perbedaan Mathla’ Jadi Bahan Pembelajaran

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat itu menjelaskan perbedaan juga berkaitan dengan konsep wihdatul mathali’ dan sa’atul mathali’, yakni perbedaan dalam menentukan lokasi terlihatnya bulan.

"Ada yang menganggap seluruh dunia adalah satu kalender, satu mathla’, satu tempat terlihatnya bulan. Sehingga di satu negara yang dilihat bisa di sini juga sama-sama dianggap melihat dan memulai puasa," terangnya.

Ia mempersilakan umat Islam mempelajari perbedaan tersebut sebagai bagian dari pendalaman ilmu.

"Tapi jadikan ikhtilaf ummati rahmat. Menjadi rahmat bagi kita untuk kita belajar lebih banyak," tegasnya.

Potensi perbedaan awal Ramadhan 1447 H dinilai sebagai dinamika ijtihad yang perlu disikapi dengan sikap saling menghormati dan menjaga persatuan umat.

(Tribunnews.com/Farra Putri Affifah) (Kompas.com/Khairina, Alinda Hardiantoro, Albertus Adit)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.