TRIBUNGORONTALO.COM – Menjelang bulan suci Ramadan, dinamika harga bahan pokok di Kota Gorontalo mulai menunjukkan kenaikan yang signifikan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, masyarakat kini harus lebih jeli dalam memilih tempat berbelanja guna menyiasati anggaran dapur, mengingat adanya perbedaan harga yang cukup mencolok antara pasar modern dan pasar tradisional.
Norma Datau (35), seorang ibu rumah tangga yang ditemui saat berbelanja di Indogrosir Gorontalo, mengungkapkan bahwa setiap tempat memiliki keunggulannya masing-masing.
Menurutnya, untuk komoditas minyak goreng, ayam, dan telur, harga di supermarket cenderung lebih miring dibandingkan tempat lain.
“Kalau di supermarket, daging tertentu seperti daging meltique juga lebih tersedia, termasuk sayuran yang sulit dicari di pasar seperti brokoli atau kembang kol,” ujarnya.
Di ritel modern ini, harga telur ayam negeri dibanderol pada kisaran Rp65.000–Rp66.000 per baki, sementara ayam potong dijual mulai dari Rp40.900 untuk ukuran kecil hingga Rp54.900 untuk ukuran besar.
Untuk bumbu dapur atau “Barito” (bawang, rica, tomat), harga di supermarket dipatok per 100 gram, seperti cabai rawit Rp6.890 dan bawang merah Rp5.490.
Namun, daya tarik pasar tradisional tetap tidak tergantikan bagi sebagian warga.
Baca juga: Rawan Kecelakaan, Warga Gorontalo Minta Pemerintah Pangkas Tanaman di JDS
Wahyuni Bahsoan (47) mengaku tetap setia berbelanja di pasar tradisional karena faktor harga yang lebih fleksibel dan adanya ruang untuk tawar-menawar.
Meski demikian, ia mengeluhkan tren kenaikan harga yang mulai terasa.
“Telur sekarang naik ke angka Rp60 ribuan per rak, padahal sebelumnya hanya Rp50 ribuan. Beruntung harga beras sejauh ini masih terpantau stabil,” katanya.
Kondisi kenaikan harga ini dikonfirmasi oleh Gaston (39), salah satu pedagang di pasar tradisional.
Ia menjelaskan bahwa lonjakan harga “Barito” terjadi cukup drastis mendekati Ramadan. Harga cabai (rica) yang semula Rp30.000 kini melesat menjadi Rp60.000 per kilogram.
Hal serupa terjadi pada bawang merah dan bawang putih yang juga menyentuh Rp60.000 per kilogram.
“Tomat juga naik dari Rp8.000 menjadi Rp12.000. Stok minyak kelapa botolan pun ikut naik seribu rupiah karena pasokan mulai menipis sementara permintaan menjelang puasa sangat tinggi,” tuturnya.
Sektor perikanan pun tak luput dari badai kenaikan harga. Duelem (45) menyebutkan bahwa harga ikan yang biasanya berada di angka Rp25.000 kini melambung hingga Rp35.000.
Fenomena ini juga dirasakan oleh Amin Ahyari (52), seorang penjual ikan baby tuna.
Ia menjelaskan bahwa harga beli di pelelangan sudah naik, sehingga ia terpaksa menjual ikan tuna kecil dari Rp25.000 menjadi Rp32.000 per ekor.
Sementara itu, ayam potong di pasar tradisional kini menyentuh Rp70.000–Rp85.000 per ekor tergantung ukuran, jauh lebih tinggi dibandingkan harga di supermarket.
Wahid (50) menambahkan bahwa untuk jenis ikan oci, harga saat ini berkisar Rp35.000–Rp40.000. Menurutnya, harga ikan sangat bergantung pada faktor alam.
“Kalau sedang musim ikan atau tangkapan melimpah, harga pasti akan turun lagi. Tapi untuk saat ini, kami harus menyesuaikan dengan kondisi pasar menjelang hari raya,” pungkasnya.
Telur ayam negeri:
• Supermarket Rp65.000–Rp66.000 per baki
• Pasar tradisional ±Rp60.000 per rak
Ayam potong:
• Supermarket Rp40.900–Rp54.900 per ekor
• Pasar tradisional Rp70.000–Rp85.000 per ekor
Cabai rawit:
• Supermarket Rp6.890 per 100 gram
• Pasar tradisional Rp60.000 per kilogram
Bawang merah:
• Supermarket Rp5.490 per 100 gram
• Pasar tradisional Rp60.000 per kilogram
Bawang putih:
• Pasar tradisional Rp60.000 per kilogram
Tomat:
• Pasar tradisional Rp12.000 per kilogram (naik dari Rp8.000)
Minyak kelapa:
• Pasar tradisional naik sekitar Rp1.000 per botol
Ikan segar umum:
• Pasar tradisional Rp25.000 → Rp35.000 per kilogram
Baby tuna:
• Pasar tradisional Rp25.000 → Rp32.000 per ekor
Ikan oci:
• Pasar tradisional Rp35.000–Rp40.000 per kilogram
Beras:
• Stabil baik di supermarket maupun pasar tradisional
(TribunGorontalo.com/*)