"Sudah Biasa Tidak Panik" Warga Kaki Gunung Slamet Tanggapi Status Waspada II
rival al manaf February 16, 2026 08:10 PM

TRIBUNJATENG.COM, BREBES - BMKG mentapkan status waspada level dua pada Gunung Slamet sejak aktivitas kegempaan hembusan di Gunung Slamet meningkat mulai, Jumat (13/2/2026).

Meski begitu, sejumlah warga di sekitar lereng Gunung Slamet mengaku sudah biasa mendapat kabar tersebut.

"Sudah biasa mas, jadi kami tidak panik," ujar Kasor warga Kecamatan Paguyangan kepada tribunjateng.com Senin (16/02/2026).

Baca juga: Bu Lurah Pindah Tugas, Warga di Banjarsari Solo Dipungut Tali Asih Rp50 Ribu, Ini Buktinya

Baca juga: Hal Berbeda Dugderan 2026, Anak-anak Ikut Kirab Denga Rute Khusus

Senada, Riswanto Warga di Kecamatan Sirampog menyebutkan belum ada aktivitas atau getaran apapun dari Gunung Slamet.

"Masih seperti biasanya saja, saat ini suasana mendung. Biasaya Gunung Slamet terlihat dari sini," terangnya.

Pihaknya menyebut, meski BMKG sudah mencatat ratusan kali ada pergerakan gempa. Namun Ia mengungkap belum ada gempa atau pergerakan apapun yang dirasakan di sekitaran dataran tinggi lereng Gunung Slamet di Kabupaten Brebes.

"Dari kemarin sih masih aman saja, belum ada tanda-tanda apapun. Biasanya kalau ada aktivitas Slamet abunya sampai ke ke sini," tuturnya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Brebes, Wibowo Budi Santoso mengatakan, meski belum terasa aktivitas guncangan Gunung Slamet di Kabupaten Brebes, pihaknya tetap menghimbau agar warga tetap waspada karena BMKG telah menetapkan status level dua.

"Kami menghimbau kepada masyarakat di sekitar Gunung Slamet terutama di Dawuhan Kecamatan Sirampog Desa Igir Klenceng, Desa Batusari untuk lebih waspada apabila terjadi getaran ataupun kegempaan untuk segera informasikan kepada kami," ujarnya.

Wibowo menyebut, pihaknya sudah mempersiapkan jalur evakuasi sejak lama apabila terjadi letusan Gunung Slamet.

"Kami sejak tahun 2015 waktu itu sudah memberikan simulasi pelatihan kepada warga untuk mengevakuasi."

"Kami juga sudah membangun jalur evakuasi untuk dilalui apabila sewaktu waktu terjadi bencana. Kami sudah sudah mempersiapkan kepada masyarakat disitu," pungkasya.

Selain itu, juga terekam 71 kali gempa low frekuensi dengan amplitudo 3 - 6 mm dan durasi 7 - 25 detik.

Sementara tremor menerus (microtremor) tercatat dengan amplitudo 0,5 - 1,5 mm, dengan dominan 1 mm.

Petugas melaporkan bahwa kegempaan hembusan tersebut mengalami peningkatan sejak 13 Februari 2026 hingga kini.

Secara visual, gunung yang berada di wilayah Kabupaten Pemalang, Banyumas, Brebes, Tegal, dan Purbalingga itu tampak berkabut pada tingkat kabut 0-I hingga 0-III.

Tidak teramati adanya asap kawah selama periode pengamatan.

Hingga saat ini, tingkat aktivitas Gunung Slamet masih berada pada Level II atau Waspada.

Sumber data Senin (16/2/2026) dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan masyarakat serta pengunjung atau wisatawan tidak beraktivitas dalam radius 1 kilometer dari kawah puncak Gunung Slamet. (Pet)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.