Investigasi Dinkes Kulon Progo Terkait Keracunan di Sentolo: Telur Kukus Dimasak Sehari Sebelumnya
Yoseph Hary W February 16, 2026 08:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo, Susilaningsih, membeberkan hasil pemeriksaan dari BB Labkesmas dan penelusuran instansinya terkait dugaan keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di Sentolo pada 20 Januari 2026. 

Susilaningsih mengatakan hasil pemeriksaan dan investigasi menunjukkan telur kukus pada menu MBG kala itu dimasak sehari sebelum makanan dibagikan kepada para siswa. 

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo, Susilaningsih
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo, Susilaningsih (Tribun Jogja/Alexander Aprita)

Menurut hasil penelusurannya, telur yang dimasak 12 jam sebelum didistribusikan itu bahkan tidak dimasak ulang pada pagi harinya.

Dugaan keracunan pada 20 Januari 2026 kala itu dialami sekitar 200 orang. 

Pemeriksaan BB Labkesmas Yogyakarta

Pascakejadian, menurut Susilaningsih, pemeriksaan sampel makanan, feses, hingga muntahan dilakukan oleh Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BB Labkesmas) Yogyakarta.

"Pemeriksaannya membutuhkan waktu 14 hari sejak sampel dikirim, dan kami juga melakukan investigasi," jelasnya pada wartawan, Senin (16/02/2026).

Adapun menu makanan  MBG  di hari itu meliputi nasi putih, telur kukus asam manis, tempe goreng, tumis sayur, dan buah anggur.

Dimasak sore, dibagikan pagi

Menurut hasil pemeriksaan, telur kukus disebut jadi salah satu pemicu terbesar.

Berdasarkan penelusuran, rupanya telur kukus tersebut dimasak sekitar pukul 18.30 WIB, Senin (19/02/2026) atau sehari sebelum didistribusikan.

"Jadi telur kukusnya dimasak 12 jam sebelum didistribusikan, dan itu tidak dimasak ulang," kata Susilaningsih.

Telur kukus jadi pemicu karena paling banyak dikonsumsi oleh sekitar 1.044 pelajar yang menerima MBG pada 20 Januari itu. Adapun yang bergejala sebanyak 200 pelajar.

Ditemukan bakteri

Selain itu, ditemukan pula bakteri Bacillus cereus pada nasi dan tempe serta bakteri Staphylococcus aureus pada nasi, tempe, dan sayur tumis.

Susilaningsih mengatakan bakteri ini mudah muncul pada makanan yang mengandung gula.

"Jadi telur kukusnya sebagai kendaraan utama penyebaran bakteri karena makanan disimpan di suhu ruang yang terlalu lama," ujarnya.

Pastikan standar higienitas

Susilaningsih pun mendorong agar pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses menyiapkan, pengolahan, hingga distribusi makanan.

Terutama memastikan prosesnya sesuai standar higienitas.

Ia pun merekomendasikan SPPG untuk mengimplementasikan sistem Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) dalam memastikan keamanan pangan.

Pelatihan hingga evaluasi diperlukan bagi para pegawai SPPG guna memastikan Prosedur Operasional Standar tetap berjalan.

"Pelatihan dan evaluasi terhadap kepatuhan prosedur harus dilakukan secara berkala," kata Susilaningsih.

SPPG sedang evaluasi

Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Kulon Progo, Aini menyatakan belum menerima hasil pemeriksaan dan rekomendasi dari Dinkes tersebut. Pihaknya pun masih menunggunya.

Selagi menunggu, ia mengatakan SPPG Kaliagung yang memproduksi dan mendistribusikan MBG di Sentolo tengah melakukan perbaikan infrastruktur.

Termasuk evaluasi secara menyeluruh berdasarkan catatan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) dari Puskesmas dan Dinkes usai kejadian keracunan makanan.

"Sampai saat ini SPPG Kaliagung belum beroperasi dan sedang dalam perbaikan fasilitas infrastruktur," ujar Aini melalui pesan singkat.

Kronologi kejadian

Sebelumnya, ratusan siswa di sejumlah sekolah di wilayah Sentolo, Kulon Progo mengalami keracunan massal setelah mengkonsumsi menu makanan program Makan Bergizi Gratis.

Ratusan siswa itu harus dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan di wilayah Sentolo karena mengalami gejala keracunan, mulai dari pusing, mual, muntah.

Sebanyak 104 korban dilarikan ke Puskesmas Sentolo I dengan 72 pasien, menyusul RSUD Nyi Ageng Serang Sentolo sebanyak 16 pasien.

Selanjutnya Klinik Pengasih Husada sebanyak 9 pasien dan RS Queen Latifa Sentolo sebanyak 7 pasien.

Para korban berasal dari 37 sekolah penerima program MBG di wilayah Sentolo. (alx)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.