Ritual Selamatan di Makam Sunan Muria Kudus Jelang Ramadan
khoirul muzaki February 16, 2026 09:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, KUDUS – Bagi Heri Kuswanto menggelar selamatan di kompleks Makam Sunan Muria merupakan hal yang hampir pasti dia lakoni saat menjelang bulan suci Ramadan.

Selamatan ini bukan sekadar berdoa kepada Allah, baginya selamatan ini juga bentuk syukur atas rizki yang diterimanya selama ini.

Di sebuah ruangan yang ada di kompleks Makam Sunan Muria di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Heri menyantap nasi dalam nampan yang lengkap dengan lauk sayur kuluban dan seekor ayam yang sudah dimasak ingkung. Heri makan bersama anak, istri, kakak, dan ibunya.

Mereka tampak lahap. Nasi selamatan itu sebelumnya sudah didoakan oleh pengurus Makam Sunan Muria.

Sebelum menyantapnya, Heri juga telah berziarah dan memanjatkan doa kepada Allah di pusara Sunan Muria. Setelahnya, dia hanya tinggal menyantap nasi selamatan yang dia bawa dari rumah.

Selamatan yang dijalankan oleh lelaki 35 tahun asal Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus tersebut merupakan tradisi turun temurun.

Semula tradisi ini dilakoni oleh orangtuanya. Kini, dia yang sehari-hari berjualan oleh-oleh di kawasan Makam Sunan Muria pun tinggal meneruskannya.

Tidak ada makna tertentu, bagi Heri selamatan yang digelar lebih ke rasa syukur yang telah dia dapat selama setahun belakangan.

 Ibarat orangtua, Sunan Muria merupakan sosok yang sangat dihormati bagi warga yang tinggal di lereng Gunung Muria.

 Oleh sebab itu perlu kiranya dia menghadap ke pusaranya sembari menggelar selamatan kecil-kecilan.

Baca juga: Perusahaan Milik Bupati Kebumen Bagi 3000 Paket Sembako ke Warga

Apalagi sebentar lagi memasuki bulan Ramadan, baginya juga perlu untuk memantapkan diri demi menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.

“Jadi ini syukuran menjelang Ramadan, semoga bisa berjalan lancar dan barokah,” kata Heri saat ditemui di kompleks Makam Sunan Muria, Senin (16/2/2026).

Heri dan keluarga tidak sendiri. Ada beberapa rombongan yang juga menggelar selamatan serupa. Termasuk rombongan puluhan orang yang datang dari Desa Sowan Kidul, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara. Rombongan keluarga yang dipimpin oleh Ahmad Dhuri. Saat itu dia membawa puluhan nampan yang sudah berisi nasi dan lauk berupa olahan daging kerbau.

Dhuri yang juga sebagai Kepala Desa Sowan Kidul tersebut datang untuk melunasi nazar kakak kandungnya. Sebelumnya kakak kandungnya mengalami sakit, semakin ke sini kondisi kesehatan kakaknya kian pulih. Di masa sakit itulah kakaknya bernazar kalau pulih dari sakit untuk menggelar selamatan di Kompleks Makam Sunan Muria.

“Jadi ke sini mewakili kakak saya Sunaryo yang lebih dulu bernazar,” kata Dhuri.

Selamatan yang diselengarakan oleh Dhuri ini bukan yang pertama. Dia sudah beberapa kali menggelar selamatan tersebut. Selamatan diselenggarakan ketika ada hal mujur yang ditemui keluarganya. Misalnya saat dia terpilih jadi kepala desa atau anaknya lolos seleksi menjadi polisi.

“Selamatan ini merupakan bentuk rasa syukur kami kepada Allah,” kata Dhuri.

Apa yang dilakukan Dhuri ini semula juga dilakukan oleh orangtuanya. Karena dirasa hal itu mampu meningkatkan rasa syukur dan mendekatkan diri kepada Allah, Dhuri masih tetap menjalankan selamatan tersebut. Seperti yang saat ini dia lakukan menjelang Ramadan.

Salah seorang sesepuh di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus Mastur membenarkan bahwa selamatan acap dilakukan oleh warga di Desa Colo atau sekitarnya.

Selamatan yang dilakukan di Makam Sunan Muria menurutnya selain mengingat jasa Sunan Muria juga untuk menyiapkan mental spiritual menjelang Ramadan.

Mastur yang juga sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria (YM2SM) mengatakan, warga di Desa Colo dan sekitarnya percaya bahwa Sunan Muria semula telah mengajarkan untuk tidak meninggalkan daun kelor, dadap, dan daun mengkudu dalam setiap selamatan.

Daun itu diolah dengan cara dimasak kuluban. Pesan itu masyhur di kalangan masyarakat. Mereka percaya pesan itu disampaikan oleh Sunan Muria untuk para pengikutnya.

“Maka setiap selamatan warga sini pasti tidak meninggalkan sayur kuluban dari daun itu,” kata Mastur.

Dan sekarang, kata Mastur, pesan yang disampaikan oleh Sunan Muria itu benar adanya. Daun-daun tersebut ketika dikonsumsi memiliki manfaat bagi tubuh.

Hal inilah yang kian memantapkannya berikut warga di lereng Muria untuk membuat sayur kuluban dari daun-daun tersebut dalam setiap selamatan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.