Tribunlampung.co.id, Lampung Timur- Di tengah tugasnya sebagai Bhabinkamtibmas Polsek Way Bungur, Aiptu Bambang menunjukkan bahwa pengabdian seorang anggota Polri tak berhenti pada menjaga keamanan dan ketertiban.
Baru sebulan bertugas di Desa Tegalombo, Kecamatan Way Bungur, Kabupaten Lampung Timur, ia justru dihadapkan pada persoalan kemanusiaan yang menggugah hati.
Semua bermula saat Aiptu Bambang menghadiri rapat BLT Dana Desa (DD) Khusus di Balai Desa Tegalombo. Agenda rapat membahas rencana program bedah rumah bagi warga kurang mampu.
Dalam forum tersebut, dua nama lansia diusulkan sebagai penerima bantuan, yakni Mbah Pairan (62) dan Mbah Solekan (78).
Aiptu Bambang dibuat kaget saat suasana rapat mendadak memanas.
Baca juga: Dentuman Petasan di TPU Resahkan Warga, Polisi Turun Cegah Konflik Remaja
Sejumlah peserta menolak kedua lansia tersebut karena dianggap tidak memenuhi syarat administrasi dan tidak memiliki tanah atas nama pribadi.
Padahal, nominal bantuan BLT DD Khusus sebesar Rp 10 juta jika terealisasi untuk bedah rumah pun sangat minim dan jauh dari cukup untuk membangun rumah layak huni.
"Dari informasi yang kami dapat, pada 2025 lalu, kedua lansia ini juga pernah diusulkan, tapi kembali ditolak dan gagal karena terbentur aturan serupa," ujar Bambang, Jumat (20/2/2026).
Bambang mengatakan, ia pun langsung meminta keterangan lebih lanjut dari aparat desa setempat.
Kepada Bambang, Kepala Dusun 4 Marsin bersama anggota BPD Sunarya menyampaikan kondisi sebenarnya dari kedua lansia tersebut yang tergolong miskin ekstrem dan sangat layak untuk dibantu.
Hal itu terbukti saat Bambang melihat langsung kediaman dan kondisi Mbah Pairan di RT 16 Dusun 4. Ia hidup sebatang kara dan menumpang di tanah milik keponakannya. Rumahnya jauh dari kata layak. Untuk bertahan hidup, ia memelihara empat ekor kambing.
Hal serupa juga terjadi di RT 17. Mbah Solekan menjalani hari-harinya seorang diri, menumpang di tanah milik saudaranya. Puluhan tahun keduanya hidup dalam keterbatasan, menggantungkan harapan pada bantuan tunai dan beras dari pemerintah.
"Kalau hanya terpaku pada aturan, mungkin mereka tidak akan pernah punya rumah layak. Tapi kalau kita bergerak bersama, pasti ada jalan," ujar Bambang.
Tak ingin aturan menjadi tembok penghalang kemanusiaan, Bambang menginisiasi musyawarah bersama kepala dusun, ketua RT, dan anggota BPD.
Dari pertemuan itu, disepakati pembentukan panitia bedah rumah secara swadaya. Warga sepakat bergotong royong membangun rumah untuk kedua lansia tersebut. Bambang pun dipercaya menjadi ketua panitia.
Tak hanya menggerakkan warga, Bambang juga datang secara pribadi ke rumah Mbah Pairan dengan membawa sembako, pakaian, serta perlengkapan salat.
Ia bahkan memanggil tukang cukur untuk merapikan rambut Mbah Pairan yang selama ini dipotong sendiri.
Ia mengaku semua pemberiannya untuk lansia di wilayah binaannya menggunakan dana pribadi dan dilakukan dengan ikhlas.
"Pemberian saya nggak seberapa, hanya sedikit. Tapi saya harap pemberian kecil ini bisa menghadirkan kebahagiaan sederhana dan mengembalikan rasa percaya diri untuk lansia tersebut," ujar Bambang.
Sebagai dukungan pembangunan bedah rumah, Bambang juga menyumbangkan satu bulan gajinya untuk membantu pembangunan rumah tersebut.
Bambang menilai aksi sosial ini menjadi bukti bahwa masih ada yang peduli dengan masyarakat kecil.
"Di Desa Tegalombo, semangat gotong royong kembali hidup. Dan dari sudut kecil di Way Bungur, kami berharap rasa kemanusiaan masih terus tumbuh," tutupnya.
(Tribunlampung.co.id/Fajar Ihwani Sidiq)