Laporan Wartawan TribunBanten.com, Muhammad Uqel
TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Kabupaten Serang, Ahmad Muhibbin, mendorong Pemerintah Kabupaten Serang agar mengarahkan kebijakan pembangunan daerah pada pengembangan wilayah berbasis religi, pariwisata, dan sejarah.
Menurutnya, pembangunan daerah tidak cukup hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi harus mampu menciptakan ruang hidup yang memberi manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
"Pembangunan sejatinya bukan hanya soal jalan dan bangunan, tetapi bagaimana menghadirkan ruang publik yang sehat, produktif, dan membahagiakan masyarakat," ujar Ahmad Muhibbin, Jumat (20/2/2026).
Baca juga: DLH Kabupaten Serang Susun Arah Baru Pengolahan Sampah, PSEL dan TPST Jadi Tumpuan
Ia menilai Kabupaten Serang memiliki potensi lokal yang besar, namun belum dioptimalkan secara maksimal.
Oleh karena itu, pengembangan wilayah yang terintegrasi dengan potensi religi, wisata, dan sejarah dinilai mampu menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Ahmad Muhibbin mencontohkan penataan kawasan publik seperti pedestrian yang nyaman, ruang terbuka hijau, serta arena bermain ramah keluarga sebagai langkah konkret yang bisa segera diwujudkan.
Salah satu wilayah yang dinilainya memiliki potensi besar adalah Kecamatan Pamarayan, khususnya kawasan sekitar Bendungan Pamarayan dan jembatan baru.
"Kawasan tersebut punya daya tarik alam yang kuat. Jika ditata dengan baik, bisa menjadi destinasi wisata keluarga yang murah, aman, dan menarik," katanya.
Selain Pamarayan, ia juga menyoroti wilayah Tanara, Ciruas, dan Anyer sebagai titik strategis pengembangan kawasan wisata tematik.
Tanara dikenal memiliki nilai historis dan religius, Ciruas memiliki aksesibilitas yang strategis, sementara Anyer selama ini telah dikenal sebagai kawasan wisata pantai yang berpotensi dikembangkan lebih modern dan ramah keluarga.
Lebih lanjut, Ahmad Muhibbin menegaskan bahwa pengembangan wilayah tersebut bukan semata untuk mempercantik kawasan, melainkan juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal.
Penataan kawasan wisata diyakini akan mendorong tumbuhnya UMKM, pedagang kecil, serta pelaku ekonomi kreatif di sekitar lokasi.
"Ketika kawasan publik tertata dan ramai dikunjungi, maka akan muncul aktivitas ekonomi baru. Warga bisa berjualan kuliner, kerajinan, hingga jasa kreatif lainnya," ujarnya.
Ia menyebut konsep pembangunan berbasis wilayah ini memiliki efek berganda atau multiplier effect.
Pemerintah menyediakan ruang publik yang layak, masyarakat memperoleh peluang usaha, dan generasi muda memiliki ruang berkegiatan yang positif.
Menurutnya, ruang-ruang publik tersebut juga dapat menjadi tempat rekreasi terjangkau, ruang berkumpul yang aman, sekaligus simbol kebanggaan daerah.
"Sudah saatnya Kabupaten Serang tidak hanya menjadi wilayah lintasan, tetapi menjadi tujuan. Dengan perencanaan matang, kolaborasi lintas sektor, serta keberpihakan pada ekonomi kerakyatan, pembangunan berbasis religi, wisata, dan sejarah bisa menjadi motor penggerak kesejahteraan," pungkas Ahmad Muhibbin.