SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG – Program becak listrik di Kota Malang hingga kini ternyata masih dalam tahap uji coba dan belum secara resmi mengangkut wisatawan.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, Baihaqi, yang menegaskan bahwa layanan becak wisata tersebut baru akan dioptimalkan setelah Hari Raya Idul Fitri 2026.
Menurut Baihaqi, waktu operasional untuk wisatawan sengaja dipersiapkan setelah Lebaran karena kunjungan wisatawan mancanegara biasanya meningkat pada periode Mei–Juni.
“Ini masih tahap uji coba. Layanan becak wisata akan dimulai setelah hari raya, karena masa liburan wisatawan asing itu rata-rata Mei–Juni,” ujarnya kepada SURYAMALANG.COM, Jumat (20/2/2026).
Saat ini para pengemudi becak listrik belum terintegrasi dengan sistem pariwisata kota dan masih bekerja secara mandiri.
“Selama ini memang mereka sendirian. Belum dicarikan wisatawan karena paketnya belum berjalan,” kata Baihaqi.
Meski begitu, pola layanan sudah disiapkan mengikuti rute paket wisata yang selama ini digunakan pramuwisata, yakni dari kawasan Ijen – Kawi – Pasar Besar – Kelenteng, dengan tarif sekitar Rp 100 ribu per perjalanan.
Baihaqi menjelaskan bahwa konsep becak listrik memang diperuntukkan untuk layanan umum, namun di Kota Malang diarahkan sebagai moda wisata sesuai instruksi wali kota.
“Karena Malang ini kota wisata, maka sesuai arahan Bapak Wali Kota, becak elektrik ini juga bisa melayani wisatawan,” jelasnya.
Berbeda dengan becak konvensional, becak elektrik belum memiliki paguyuban.
Pembentukan organisasi pengemudi akan dikoordinasikan oleh Dinas Perhubungan dengan Disporapar.
“Paguyuban becak konvensional sudah ada. Untuk becak elektrik nanti akan dibentuk oleh Dishub setelah regulasinya siap,” kata Baihaqi.
Baca juga: Bantuan Becak Listrik di Kota Malang Bakal Berlanjut Hingga 2027, Kini Sudah Tersalur 200 Unit
Regulasi operasional menjadi faktor utama mengapa sosialisasi dan promosi belum dilakukan.
Baihaqi tidak menampik bahwa hingga kini hampir tidak ada penumpang yang menggunakan becak listrik, baik wisatawan maupun warga umum.
Namun ia optimis penggunaan akan meningkat setelah promosi resmi dilakukan.
“Promosi memang belum ada karena regulasinya masih disiapkan, paguyuban belum dibentuk. Ini kan masih uji coba,” tambahnya.
Baihaqi menegaskan bahwa kehadiran becak listrik akan memberikan dampak positif bagi ekosistem wisata Kota Malang.
Himpunan Pramu Wisata Indonesia (HPI) selama ini telah lama menggunakan becak konvensional sebagai moda paket wisata, dan kehadiran becak elektrik diharapkan menjadi nilai tambah.
M Mochtar, warga Kasin yang mendapatkan becak elektrik mengatakan selama ini tidak pernah mengangkut wisatawan, baik lokal maupun internasional.
Sehari-hari, ia mengoperasikan becak elektrik miliknya untuk mengantar pelanggan ke pasar atau toko.
"Sejauh ini belum pernah mengantar wisatawan, hanya mengantar pelanggan ke pasar," katanya.
Ia juga mengatakan tidak pernah ada pendampingan baik dari lingkungan kelurahan atau kedinasan perihal mekanisme pelayanan wisatawan.
Mochtar sendiri mendengar secara langsung saat mendapat becak elektrik di Balai Kota Malang bahwa moda transportasi itu akan digunakan untuk menunjang wisata.
"Tapi sejauh ini kami sendirian saja, tidak ada promosi, ya antar pelanggan saja," ujarnya.
Mochtar malah berencana ingin mengubah teknis becak elektrik yang ia miliki. Ia akan mengubah becak elektrik itu menjadi bentor.
Moda transportasi yang awalnya menggunakan baterai akan berganti menggunakan bahan bakar. Menurutnya, tidak ada larangan mengubah teknis mesin becak elektrik.