Tujuan Akhir Puasa Ramadan: Membentuk Muslim Bertakwa Secara Spiritual dan Sosial
willy Widianto February 20, 2026 10:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Puasa Ramadan bukan sekadar kewajiban menahan lapar dan haus, melainkan ibadah yang memiliki tujuan agung sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam ayat ke-183 Al-Baqarah: “la’allakum tattaqun” — agar kamu bertakwa. Frasa inilah yang menjadi inti dan orientasi akhir dari seluruh rangkaian ibadah puasa. Artinya, puasa tidak berhenti pada aspek ritual, tetapi diarahkan untuk membentuk pribadi yang bertakwa secara utuh, lahir dan batin.

Baca juga: Yang Berkesan di Momen Ramadan, Nia Daniaty: Kebersamaan di Meja Makan

Menurut Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak takwa bukan hanya soal ketaatan personal dalam hubungan vertikal kepada Allah SWT, tetapi juga mencerminkan kualitas hubungan horizontal dengan sesama manusia. Puasa adalah ibadah pribadi karena hanya diri dan Allah yang benar-benar mengetahui kualitasnya namun sekaligus ibadah sosial yang dampaknya harus terasa di tengah masyarakat.

Secara vertikal, puasa adalah panggilan langsung bagi orang-orang beriman untuk meningkatkan ketaatan, memperkuat kesadaran spiritual, serta menjaga diri dari hal-hal yang dilarang. Sementara secara horizontal, puasa melatih empati sosial. 

"Rasa lapar dan dahaga yang dirasakan setiap hari selama Ramadan menjadi pengingat atas kondisi saudara-saudara yang kekurangan," ujar Dahnil.

Karena itu, Ramadan identik dengan meningkatnya sedekah, infak, dan zakat. Ibadah sosial ini bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari pengejawantahan takwa itu sendiri. Seorang Muslim yang bertakwa tidak hanya rajin beribadah secara ritual, tetapi juga peduli terhadap harmoni sosial, menjaga simpati, dan menumbuhkan empati.

Baca juga: Dahnil Anzar Minta Pejabat Kemenhaj Tak Korupsi Pelaksanaan Haji: Jangan Sampai jadi Cibiran 

Dengan demikian, kesejatian puasa adalah membentuk pribadi yang patuh dan taat kepada Allah SWT, sekaligus menghadirkan kebaikan di tengah kehidupan sosial. Pribadi yang la’allakum tattaqun adalah pribadi yang seimbang: kuat spiritualnya dan luas kepedulian sosialnya.

Semoga puasa yang kita jalankan benar-benar mengantarkan kita menjadi insan bertakwa, tidak hanya dalam doa dan ibadah, tetapi juga dalam tindakan nyata di tengah masyarakat.

Baca juga: Dahnil Anzar: Jemaah Umrah Mandiri Akan Dapat Perlindungan Hukum

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.