TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Era ponsel layar raksasa yang memenuhi saku tampaknya mulai menemui titik jenuh.
Memasuki Februari 2026, tren pasar smartphone di Indonesia justru bergeser ke arah yang lebih ergonomis.
Fenomena ini membuktikan bahwa konsumen kini tidak lagi hanya mengejar ukuran layar, melainkan kenyamanan genggaman tanpa ingin mengorbankan performa kelas atas.
Salah satu pemain utama yang berhasil mencuri perhatian adalah Xiaomi 15.
Ponsel ini menjadi standar baru di kategori compact flagship berkat kombinasi layar yang responsif, baterai besar, dan tenaga chipset gahar.
Keberhasilan strategi ini pun tercermin dari data Counterpoint Research yang mencatat lonjakan penjualan segmen premium Xiaomi sebesar 55% (YoY) secara global.
Ini menjadi sinyal kuat bahwa "kecil" bukan berarti "lemah".
“Kami memahami bahwa konsumen Indonesia punya preferensi unik, terutama soal desain yang praktis. Xiaomi terus berinovasi menghadirkan compact flagship yang menawarkan fleksibilitas tanpa kompromi pada kualitas,” ujar Andi Renreng, Marketing Director Xiaomi Indonesia.
Baca juga: Kolaborasi POCO–Bose Warnai Debut F8 Series di Pasar Flagship
Bukan sekadar ponsel berukuran kecil, sebuah perangkat baru bisa menyandang gelar compact flagship jika memenuhi standar "dewa" berikut:
Dapur Pacu Gahar: Wajib mengusung chipset kasta tertinggi untuk multitasking dan gaming berat.
Kamera Pro dengan AI: Sensor kamera premium yang didukung optimalisasi AI untuk hasil foto sinematik.
Layar Tanpa Cela: Meski ringkas, layar harus memiliki resolusi tinggi, refresh rate yang halus, dan tingkat kecerahan maksimal.
Baterai & Charging: Kapasitas baterai yang awet meski ruang bodi terbatas, lengkap dengan fitur fast charging.
Mengapa orang-orang mulai beralih ke ponsel yang lebih ringkas di tahun 2026? Jawabannya ada pada mobilitas:
Ingin beralih ke ponsel ringkas tahun ini? Perhatikan tiga poin krusial ini sebelum membeli: