Amerika Serikat (AS) telah mengerahkan aset militer secara besar-besaran ke Timur Tengah.
Langkah ini dinilai bukan hanya sekadar unjuk kekuatan, namun sinyal bahwa Pentagon memiliki kemampuan untuk melenyapkan Iran dalam hitungan jam.
Hal tersebut disampaikan mantan wakil komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Madya (Purn) Robert Harward.
Dalam wawancara bersama Jerusalem Post pada Kamis (19/2/2026), ia menegaskan kembali bahwa AS tidak mentolerir senjata nuklir Iran.
"Salah satu hal yang telah ia tunjukkan adalah bahwa (Presiden Donald) Trump melakukan apa yang dia katakan," ujar Haward.
Menurutnya, Pentagon telah menyiapkan skenario serangan jika tidak ada kesepakatan yang dicapai.
Skenario tersebut menjelaskan bagaimana AS menetralisir kemampuan ofensif Iran sambil melindungi warga sipil.
Gelombang pertama akan menargetkan lokasi dan peluncur rudal strategis.
Kedua yakni menetralisir sisa-sisa kelompok proksi di luar negeri yang berpotensi melakukan pembalasan terhadap Israel.
Namun, perubahan strategi yang paling signifikan menyangkut cengkeraman kekuasaan internal rezim.
Harward menyarankan bahwa serangan tersebut akan menargetkan markas Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
"Fokusnya hanya akan pada hal-hal yang memungkinkan rezim dan IRGC untuk menindas rakyat," sambungnya.
Ia mengklaim, AS punya kemampuan perang yang jauh lebih modern dibandingkan perang Irak dan Afghanistan.
Dulu Pentagon hanya bisa melakukan 40 atau 50 serangan per hari.
Sementara sekarang disebut mampu melakukan ratusan serangan per hari.
Harward yakin bahwa pasukan AS mampu melumpuhkan struktur komando Garda Revolusi Iran hanya dalam hitungan jam.
"Jika Anda menargetkan IRGC dan ingin menyerang semua markas dan fasilitas mereka, Anda mungkin bisa melakukannya dalam hitungan jam. Itu belum pernah terjadi sebelumnya," kata Haward lagi.
Di sisi lain, Iran juga berulang kali memperingatkan AS soal pembalasan.
Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei sempat menyoroti hadirnya kapal induk AS di Timur Tengah.
Menurutnya kapal tersebut memang berbahaya, namun lebih berbahaya lagi senjata yang mampu menenggelamkan kapal tersebut.