Hangatnya Tradisi Ramadhan: Bubur Samin Masjid Darussalam Solo Tetap Jadi Primadona
Putri Asti February 21, 2026 07:42 AM

TRIBUNSTYLE.COM - Bulan Ramadan 2026 telah tiba.

Dapur Masjid Darussalam, Jayengan, Kecamatan Serengan, Kota Solo, menjadi penanda bahwa Ramadhan kembali menghadirkan tradisi istimewa.

Di dapur itu, tersaji bubur samin khas Banjar yang dibagikan cuma-cuma setiap bulan suci.

Tradisi ini sudah berlangsung sejak 1985 dan tak pernah kehilangan pesonanya. 

Dari generasi ke generasi, bubur samin menjadi bagian dari ingatan kolektif warga Solo saat Ramadhan tiba.

Bubur samin khas Banjar yang dibagikan cuma-cuma setiap bulan suci di Masjid Darussalam Solo
Bubur samin khas Banjar yang dibagikan cuma-cuma setiap bulan suci di Masjid Darussalam Solo (Kompas.com/Fristin)

Kini, tradisi tersebut bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan pada 2025. 

Tak heran jika warga dari luar Kota Bengawan pun rela datang lebih awal. 

Mereka ingin memastikan diri menjadi bagian dari ritual kuliner yang hanya hadir setahun sekali ini.

Baca juga: 3 Rekomendasi Tempat Bukber Murah, Enak, Instagramable di Solo, Cocok untuk Reuni Keluarga

Sejak pukul 02.30 WIB, antrean sudah mulai terbentuk. 

Dalam gelapnya dini hari, semangat warga tak surut demi mendapatkan sajian khas yang selalu dinanti.

Menjelang waktu Ashar, halaman masjid kian padat. 

Suara percakapan pelan bercampur dengan gemericik hujan menciptakan suasana yang syahdu.

Setiap hari selama Ramadhan, sekitar 1.500 porsi bubur samin disiapkan. 

Dari jumlah itu, sekitar 1.200 porsi dibagikan kepada masyarakat umum.

Sementara itu, 200 hingga 300 porsi lainnya dinikmati bersama di serambi masjid saat buka puasa. 

Tradisi berbagi ini menjadi momen kebersamaan yang selalu dirindukan.

Yang membuat bubur ini istimewa bukan hanya karena dibagikan gratis, melainkan juga karena racikannya yang kaya. 

Beras yang digunakan mencapai 40 hingga 50 kilogram per hari.

Secara total, Pemerintah Kota Solo menyiapkan sekitar 1.500 kilogram beras untuk mendukung tradisi ini sepanjang Ramadhan. 

Dukungan tersebut menunjukkan betapa pentingnya bubur samin dalam kalender budaya kota.

Di dalam kuali besar, beras dimasak bersama santan hingga mengental perlahan. 

Uap panas mengepul, membawa aroma gurih yang menggoda siapa pun yang mendekat.

Daging sapi sekitar empat kilogram, termasuk tetelan, dipotong kecil-kecil. 

Potongan wortel dan bawang bombai ikut menyatu, menambah tekstur dan rasa.

Rempah-rempah empon-empon menjadi rahasia warna cokelat khas bubur samin. 

Campuran bumbu inilah yang menghadirkan kedalaman rasa yang sulit dilupakan.

Sebagian bahan berasal dari donatur yang setia mendukung setiap tahun. 

Dari santan hingga bumbu dapur, semua berpadu dalam semangat gotong royong.

(TribunStyle.com/Putri Asti)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.