Mataram (ANTARA) - Warga negara Selandia Baru berinisial ML yang melakukan aksi protes terhadap pengeras suara dari mushala yang ada di Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, terungkap berstatus melebihi izin tinggal (overstay) atas visa kunjungannya.
"Yang bersangkutan sudah dibawa ke kantor imigrasi untuk pemeriksaan lebih lanjut dari izin tinggalnya yang 'overstay'," kata Kepala Satreskrim Polres Lombok Utara AKP I Komang Wilandra melalui pesan tertulis aplikasi WhatsApp, Minggu.
Wilandra menerangkan hal tersebut berdasarkan hasil pendampingan aparat kepolisian dari Subsektor Gili Indah Pos Gili Trawangan bersama Polsek Pemenang atas tindakan pihak Imigrasi yang turun ke lokasi mengecek status bule perempuan tersebut.
Saat pihak kepolisian memberikan pendampingan pengamanan, ML sempat menolak untuk bertemu dengan rombongan, namun melalui upaya pendekatan yang baik akhirnya bule tersebut mau menemui tim dengan catatan ada pembatasan jumlah orang.
Kepada pihak imigrasi, ML mengakui bahwa alasan dia memprotes aktivitas warga di mushala karena merasa terganggu dengan pengeras suara yang digunakan untuk tadarusan. Ia menganggap hal tersebut mengganggu waktu istirahatnya pada malam hari.
Petugas kemudian memberikan penjelasan terkait dengan aktivitas warga lokal, terutama selama bulan suci Ramadhan. Tadarusan bagian dari ibadah rutin umat Muslim. Petugas pun memberi pengertian agar ML memaklumi aktivitas tersebut.
Aksi ML sempat viral dalam rekaman video yang tersebar di media sosial. Dalam rekaman tersebut, nampak sejumlah warga lokal berupaya meredam aksi ML yang berbuat onar di mushala pada Rabu malam (18/2).
Mikrofon yang digunakan warga lokal untuk tadarusan dirusak. Bahkan, ada handphone warga yang terlihat merekam aksinya, turut dirampas.
Ketika pengurus dusun menyambangi ML dengan tujuan meminta handphone warga lokal dikembalikan, ML menolak dan mengancam dengan senjata tajam jenis parang.
Terungkap, ML berada di Gili Trawangan untuk tinggal di tempat orang tuanya yang sudah lebih dahulu diusir oleh warga lokal.
Pasca kejadian tersebut, kepolisian kini memberikan pengamanan di sekitar mushala dan vila tempat tinggal bule tersebut.







