Proliga 2026: Dari Back to Back Juara ke Hattrick Gagal Final Four, Ironi BJB Tandamata
Bagus Setiawan February 22, 2026 01:48 PM

TRIBUNGAYO.COM – Musim Proliga 2026 menjadi babak penuh ironi bagi Bandung bjb Tandamata. Untuk ketiga kalinya secara beruntun—2024, 2025, dan 2026—tim kebanggaan Jawa Barat itu gagal menembus babak final four.

Kepastian tersingkirnya BJB musim ini terjadi usai kalah 1-3 (12-25, 16-25, 25-20, 17-25) dari Jakarta Popsivo Polwan di Padepokan Voli Jenderal Polisi Kunarto, Kamis (19/2/2026) malam.

Hasil tersebut membuat BJB tertahan di peringkat enam dengan 12 poin. Dengan hanya satu laga tersisa di fase reguler, poin maksimal yang bisa diraih hanyalah 14—tak cukup untuk mengejar pesaing di atasnya seperti Jakarta Electric PLN (18 poin), Popsivo Polwan (17 poin), dan Jakarta Livin Mandiri (16 poin).

Sementara itu, dua tiket final four telah diamankan lebih dulu oleh Jakarta Pertamina Enduro dan Gresik Phonska Plus Pupuk Indonesia.

Baca juga: Jadwal Proliga 2026: Livin Mandiri Buru Final Four, BJB Tandamata Bidik Laga Perpisahan Manis

Kontras dengan Era Keemasan

Kegagalan tiga musim beruntun ini terasa kontras jika menilik masa kejayaan BJB beberapa tahun lalu. Pada Proliga 2022, mereka tampil sebagai juara usai menumbangkan Gresik Petrokimia Pupuk Indonesia 3-1 di partai final.

Kesuksesan itu berlanjut pada 2023 ketika BJB kembali mengangkat trofi setelah mengalahkan Jakarta Pertamina Fastron lewat duel lima set yang dramatis.

Kunci keberhasilan tersebut tak lepas dari peran trio Timnas Indonesia: Wilda Siti Nurfadilah, Yulis Indahyani, dan Nandita Ayu Salsabila. Ketiganya menjadi tulang punggung tim, baik dari segi pengalaman, mental juara, maupun konsistensi performa.

Namun pada 2024, trio tersebut kompak hengkang dan bergabung dengan Jakarta BIN. Hasilnya langsung terasa: Jakarta BIN sukses merebut gelar juara Proliga 2024, sementara BJB mulai memasuki fase kemunduran.

Baca juga: Proliga 2026: Megawati dkk Lengser dari Puncak Klasemen, Phonska Plus Comeback!

Tantangan Regenerasi dan Konsistensi

Absennya pemain-pemain kunci membuat BJB kesulitan menjaga stabilitas permainan. Regenerasi memang berjalan, tetapi belum mampu menghadirkan dampak instan seperti era Wilda dan kolega. Performa inkonsisten sepanjang musim 2026 menjadi bukti bahwa proses transisi belum sepenuhnya tuntas.

Kini, BJB Tandamata dihadapkan pada pekerjaan rumah besar untuk membangun ulang kekuatan tim. Tanpa pembenahan serius—baik dari sisi komposisi pemain, strategi, maupun mental bertanding—era keemasan 2022-2023 akan semakin terasa sebagai kenangan jauh.

Ironi pun tak terelakkan: dari tim yang pernah mendominasi Proliga, BJB Tandamata kini harus menerima kenyataan pahit tersingkir tiga musim berturut-turut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.