Palekko Permintaan Terakhir Bripda DP Sebelum Dikabarkan Meninggal Dunia
Alfian February 23, 2026 01:04 AM

TRIBUN-TIMUR.COM, PINRANG -- Anggota Ditsamapta Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) Bripda DP (19) meninggal dunia diduga dianiaya seniornya.

Kematian Bripda DP menyisakan kepedihan mendalam bagi keluarga, karena terjadi hanya beberapa jam setelah berkomunikasi dengan orangtuanya.

Paman korban, Hardianto mengisahkan, pada Minggu subuh, Bripda DP sempat menelepon sang ibu.

Dalam percakapan singkat itu, ia meminta dibawakan Palekko' (makanan khas Pinrang) dari kampung halaman.

Mendengar permintaan sang anak, ayah almarhum Aipda Muhammad Jabir, bersama istrinya langsung bersiap. Mereka berencana bertolak ke Makassar pagi itu juga untuk membawakan makanan tersebut sekaligus berbuka puasa bersama putranya.

"Bapak dan mamanya sudah siap-siap mau mengantar makanan ke Makassar. Rencananya mau buka puasa bersama di sana. Tapi tiba-tiba sekitar jam 7 atau jam 8 pagi, dikabarkan kalau dia sudah meninggal. Ini yang kami rasa tidak logis," jelas Hardianto kepada Tribun-Timur.com, Senin (23/2/2026) malam.

Baca juga: Suasana Duka Menyelimuti Rumah Bripda DP di Desa Pincara Pinrang

Hardianto mengungkapka, bagi keluarga klaim awal yang menyebutkan Bripda DP meninggal karena sakit sulit diterima.

Kata dia, kecurigaan keluarga diperkuat dengan temuan luka fisik pada jasad personel Ditsamapta Polda Sulsel tersebut.

"Ada luka memar di perutnya, dadanya. Terus ada darah keluar dari mulutnya. Tidak ada latar belakang juga dia sakit, kalau ada pasti dia bilang saat telponan sama mamanya itu," ungkapnya.

Lulusan Baru yang Berdedikasi

Bripda DP merupakan alumni SMA Negeri 1 Pinrang yang baru saja menyelesaikan pendidikan kepolisian pada tahun 2025.

Ia baru bertugas sekitar satu bulan di Ditsamapta Polda Sulsel sebelum nyawanya terenggut. Di mata kerabat, ia adalah sosok pemuda yang lurus dan tidak pernah memiliki latar belakang masalah.

Peristiwa dugaan penganiayaan itu disebut terjadi di Asrama Ditsamapta Polda Sulsel, Minggu (22/2/2026) subuh.

Lokasi asrama itu berada di dalam Lingkungan Mapolda Sulsel Jl Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Untuk mengungkap penyebab pasti kematian Bripda DP, jenazah almarhum pun diautopsi di RS Bhayangkara.

Ayah Bripda DP, Aipda Muhammad Jabir mengatakan, hasil koordinasi sementara dengan Bid Propam Polda Sulsel, ada enam orang polisi yang diperiksa.

Keenam orang itu, adalah teman seangkatan dan senior Bripda DP.

"Sudah ada diperiksa di Polda sekarang, tiga, lettingnya juga dipanggil semua," ujar Aipda Muhammad Jabir ditemui di depan Ruang Forensik Dokpol Biddokkes Polda Sulsel.

"Lettingnya tiga orang dan seniornya juga tiga orang," lanjutnya.

Dugaan penganiayaan terhadap Bripda DP mencuat setelah keluarganya menemukan luka memar di tubuh almarhum.

Aipda Muhammad Jabir mengatakan, luka memar itu diduga kuat akibat pukulan.

"Ada luka memar di perut, di sini (dada dekat leher) hitam, sama mulut keluar darah terus," ucap Aipda Muhammad Jabir yang masih mengenakan kaos olahraga Polisi.

Sebagai seorang polisi, Aipda Muhammad Jabir tentu paham betul luka yang dialami putranya itu.

Ia menduga, luka tersebut terindentifikasi kuat akibat pukulan.

"Kalau benda tumpul (mungkin tidak ada), kalau bekas pukulan mungkin ada," jelasnya.

Personel Polres Pinrang ini pun berharap, agar penyelidikan penyebab kematian Bripda DP diungkap transparan.

Ayah tiga anak ini, sangat berharap keadilan atas meninggalnya putra keduanya itu.

"Kabid Propam sudah langsung tadi datang di sini dan kami selaku orang tua sudah menyampaikan untuk diusut tuntas sampai jelas siapa yang melakukan penganiyaan kalau memang ada penganiayaan," tegasnya.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.