Gusdurian Majalengka Gelar Bedah Film Dokumenter, Suarakan Kepedulian Ekologis 
Kemal Setia Permana February 23, 2026 01:11 AM

Laporan Adim Mubaroq 

TRIBUNJABAR.ID, MAJALENGKA - Isu lingkungan hidup dan tanggung jawab kemanusiaan kembali mendapat ruang dialog di Majalengka.

Gusdurian Majalengka menggelar bedah film dokumenter Tambang Emas Ra Ritek usai Salat Tarawih bersama di Rumah Joglo Salawat Majalengka. 

Kegiatan yang diikuti sekitar 40 peserta dari berbagai komunitas ini menghadirkan ruang diskusi yang inklusif. Sejumlah peserta dari komunitas lintas iman turut hadir, memperkaya perspektif dalam membaca persoalan ekologis yang diangkat melalui medium film dokumenter.

Sebagai informasi, Gusdurian adalah jaringan individu, komunitas, dan lembaga yang berkomitmen melanjutkan pemikiran, nilai-nilai, dan perjuangan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Kelompok ini fokus pada pergerakan di ranah kultural, bukan politik prakti, meliputi kemanusiaan, toleransi, keadilan, serta kesetaraan.

Bedah film ini menjadi bagian dari program kerja Gusdurian Majalengka yang secara konsisten mengangkat isu-isu sosial dan ekologis.

Melalui pemutaran film, peserta diajak melihat persoalan lingkungan bukan sekadar data dan wacana, melainkan realitas yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.

Baca juga: Hujan Tak Halangi Semangat Ribuan Bobotoh Persib Datang ke GBLA Hingga Buka Puasa di Jalan

Hadir sebagai pemantik diskusi, Yayan Heryanto, rohaniwan sekaligus aktivis budaya yang berdomisili di Desa Genteng Dawuan. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif untuk menjaga kelestarian lingkungan di tengah maraknya eksploitasi sumber daya alam.

“Film ini mengajak kita untuk tidak menutup mata terhadap dampak ekologis dari aktivitas pertambangan. Alam bukan hanya sumber ekonomi, tetapi juga ruang hidup bersama yang harus dijaga,” kata Yayan dalam keterangannya kepada Tribun, Minggu (22/2/206). 

Dengan motto hidupnya, “Jalani hidup dengan bahagia,” ia mengajak peserta menautkan kebahagiaan personal dengan kepedulian terhadap sesama dan alam.

Film Tambang Emas Ra Ritek menyoroti dinamika pertambangan emas di sebuah wilayah yang berdampak pada perubahan bentang alam, kualitas air, dan kehidupan sosial masyarakat. Dokumenter ini memperlihatkan berkurangnya sumber air bersih, rusaknya lahan pertanian, hingga ancaman kesehatan warga, sekaligus menghadirkan suara masyarakat yang berjuang mempertahankan ruang hidupnya.

Diskusi berlangsung hidup. Sejumlah peserta menyampaikan refleksi bahwa isu ekologis tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan nilai moral dan spiritual. Menjaga lingkungan dipandang sebagai tanggung jawab iman dan kemanusiaan yang melampaui sekat agama.

Baca juga: Usai Taklukkan Persita, Persib Perpanjang Dua Rekor yang Sulit Dijangkau Para Rival

Koordinator Gusdurian Majalengka menegaskan, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen komunitas dalam merawat nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Sejak awal, Gusdurian Majalengka hadir dengan perhatian pada isu ekologis. Kepedulian terhadap alam adalah tanggung jawab bersama, lintas agama dan lintas komunitas,” ujarnya.

Digelar secara gratis dengan peserta terbatas, bedah film ini diharapkan menjadi ruang edukasi dan refleksi, khususnya bagi generasi muda. Film diposisikan bukan sekadar tontonan, melainkan sarana kritik sosial, pertukaran gagasan, dan dialog yang konstruktif.

Melalui kegiatan ini, Gusdurian Majalengka menegaskan pesan penting: menjaga lingkungan adalah investasi bagi masa depan bersama. Kesadaran ekologis tidak bisa ditunda, dan perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah kecil di lingkungan terdekat. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.