Oleh: Mujiburrahman, Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID- DI hari pertama puasa, seseorang berkata, “Tinggal 29 hari lagi kita akan lebaran.” Kawan-kawan lain yang mendengar ucapannya itu sontak tertawa. Alangkah jauhnya lebaran dari sekarang, tetapi dia sudah menghitung-hitung. Namun di dalam ungkapan itu juga terkandung optimisme, bahwa puasa ini, betapapun beratnya, akan berakhir dengan kegembiraan. Bahwa proses mendidik diri, lahir dan batin, harus dijalani dengan sungguh-sungguh karena kelak di ujung perjalanan ada lebaran.
Pengalaman serupa juga dirasa saat menunggu berbuka puasa tiap hari. Ketika salat Ashar sudah lewat, kita biasanya menunggu-nunggu, kapan waktu berbuka tiba. Sebentar-sebentar melihat jam. Apalagi cuaca mendung, yang membuat hari cepat gelap. Rasanya ingin sekali azan Magrib segera berkumandang. Kalau bisa, tepat beduk ditabuh, saat itu pula sebutir kurma masuk ke mulut kita, dan seteguk air membasahi kerongkongan. Namun, jika waktunya belum tiba, kita tetap bersabar. Kesabaran inilah yang nanti membuahkan kegembiraan saat berbuka.
Manusia memang memiliki kecenderungan untuk tergesa-gesa, ingin serba cepat meraih hasil. “Ikan sepat, ikan gabus, makin cepat, makin bagus”. Ungkapan ini tepat untuk kondisi tertentu ketika proses memang bisa dilewati dengan cepat tanpa melanggar rambu-rambu yang telah ditetapkan. Namun, ia akan salah jika orang menghalalkan segala cara dalam prosesnya. Nafsu ingin cepat dan tidak sabaran seringkali menjerumuskan manusia kepada penghalalan segala cara. Akibatnya, hasil yang didapat nanti malah tidak bermutu bahkan palsu. Kalengnya indah tetapi isinya kosong.
Di sisi lain, teknologi telah banyak membantu mempercepat kelambatan manusia. Alat transportasi seperti mobil dan kereta api di darat, kapal di laut, pesawat dan helikopter di udara, telah mempercepat pergerakan manusia berlipat-lipat. Begitu pula teknologi informasi dan komunikasi digital saat ini, yang seolah tak lagi mengenal ruang dan waktu. Asalkan ada internet dan ponsel di tangan, orang bisa terhubung dengan cepat kemana-mana dan kapan saja. Selain itu, kecerdasan buatan (AI) juga bisa membantu manusia berpikir lebih cepat. Jadi, kini hampir semua serba cepat.
Di sisi lain, menunggu berbuka dan lebaran, adalah perjuangan lahir dan batin. Secara lahir, fisik kita sudah mulai lemah, menuntut makan dan minum. Secara batin, iman dan nafsu bergolak, antara taat menjalankan ibadah puasa atau tunduk kepada dorongan nafsu. Dengan demikian, menunggu dalam proses menjalani ibadah puasa, merupakan antitesis terhadap kecenderungan tak sabaran dalam budaya modern. Dalam berpuasa ini, kita tidak hanya melakukan penyangkalan terhadap keinginan nafsu, tetapi juga terhadap berbagai kebiasaan serba cepat dalam kehidupan kita sehari-hari.
Sudah menjadi hukum alam, ada hubungan antara hasil dan proses/usaha. Sesuatu yang didapat secara instan cenderung kalah dibanding yang didapat melalui proses yang sulit. Atlet yang rutin dan displin berlatih akan meraih hasil yang lebih baik daripada atlet dadakan. Ilmuwan yang rajin meneliti dan jujur tentu lebih bermutu dibanding peraih gelar doktor bahkan profesor dengan membayar orang lain mengerjakan karya-karya ilmiahnya. Begitu pula, orang yang benar-benar puasa dan yang pura-pura puasa akan berbeda kadar kegembiraannya saat berbuka dan lebaran nanti.
Meskipun demikian, kita masih mudah tergoda dengan jalan pintas. Di zaman sekarang, kadangkala orang tanpa malu bahkan bangga merayakan berbagai capaian yang sebenarnya palsu. Kadangkala ucapan selamat dibuat dan dibayai sendiri oleh yang bersangkutan mengatasnamakan para pejabat atau lembaga tertentu. Ada lagi yang mengklaim hasil kerja orang lain atau kerja bersama untuk dirinya sendiri semata. Lebih buruk lagi, si penyandang atribut-atribut hebat tetapi palsu itu justru berhasil mengelabui publik dan dapat meraih kepentingan-kepentingan pribadinya.
Karena itu, sabar menunggu hasil perjuangan, dan menyaksikan kebenaran mengalahkan kebatilan tidaklah mudah. Mengapa dia yang korup dan jahat terus berjaya? Mengapa orang yang pandai bersilat lidah dan menipu publik tak jatuh-jatuh? Ternyata, keraguan ini juga terjadi di masa lampau. Umat terdahulu, kata Al-Qur’an, telah ditimpa kesusahan, kesengsaraan dan amat terguncang dengan berbagai cobaan, sampai-sampai Rasul dan orang-orang beriman bersamanya bertanya, “Kapan pertolongan Allah datang?” “Ketahullah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat” (QS 2: 214).
“Ada dua kegembiraan untuk orang yang berpuasa. Pertama saat dia berbuka, dan kedua saat dia bertemu Tuhannya,” kata Nabi. Saat berbuka, dia gembira karena telah mampu bersabar hingga waktu berbuka tiba. Bergitu pula, setelah bersabar, berpuasa dari mengikuti kebatilan, kebenaran akhirnya terbukti mengalahkan kebatilan. Saat itulah dia “bertemu” dengan Tuhannya. (*)