Renungan Harian Katolik Senin 23 Februari 2026, "Hidup Berbagi: Relevan Menembus Zaman"
Eflin Rote February 23, 2026 10:19 AM

Renungan Harian Katolik
Oleh: Pater Fransiskus Funan Banusu SVD
Senin, 23 Februari 2026
HIDUP BERBAGI: RELEVAN MENEMBUS ZAMAN
(Im. 19:1-2.11-18; Mzm. 19:8.9.10.15; Mat. 25:31-46)

"Ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku dalam penjara, kamu mengunjungi Aku." (Mat. 25:36).

Manusia hidup karena cinta kasih. Cinta kasih itu mengajarkan kita untuk hidup berbagi. Tanpa berbagi, hidup jadi hampa, kehilangan makna orisinalitasnya.

Subyek yang menjadi kelompok sasar kita berbagi menurut Yesus adalah kaum kecil yang miskin, menderita, terabaikan dan tersisih. Kelompok ini senantiasa ada dalam ruang lingkup hidup kita. Siapa yang biasa peduli dengan mereka? Apakah mereka menjadi sumber belas kasih dari sesamanya? 

Kita hidup dalam zaman di mana individualisme diagung-agungkan. Egoisme memicu dan berperan sangat kuat di mana diri menjadi pusat segala sesuatu.

Berbarengan dengan arus individualisme ini, spirit hidup yang muncul pun sangat egoistik. Kepedulian ada sejauh saling menguntungkan. 

Orang-orang beriman berkualitas memiliki keunggulan dalam spiritualitas berbagi. Spiritualitas kehampaan Tuhan Yesus merasuki hidup mereka.

Dengan demikian orang miskin, orang susah, orang sakit dan terpinggirkan tidak berada dalam kerterasingan karena ada saja kelompok orang yang memberi perhatian tulus.  

Untuk menepis atau menekan kekuatan ingat diri manusia yang hidup enggan berbagi, Yesus berusaha menjadi orang paling hina di dunia. Ia tak segan-segan mengidentikan Diri dengan kaum miskin dan terlantar. Sebab itu sebagai pengikut setia-Nya, Ia mengajak kita untuk belajar dari Dia bagaimana mencintai dan mengasihi orang-orang yang terpinggirkan. 

Nilai berbagi karena belas kasih yang mau Yesus tunjukkan ialah bahwa ukuran hidup dalam kebahagiaan abadi  bersama Allah dalam Surga ditentukan oleh belas kasih murni kepada sesama yang paling hina yang kita jumpai dalam hidup.

Orang-orang dalam penjara, sebagai insan-insan terhina,  berapa banyak orang yang tergerak hati untuk mengunjungi dan  berbuat sesuatu bersama mereka di sana. 

Ukuran bahagia dalam dunia tentu berbeda yaitu: kesuksesan, kekuasaan, harta banyak, rumah mewah dan fasilitas elit. Semua yang diimpikan ini pada hakikatnya hanya dekorasi sesaat dalam bingkai hidup.

Nilai hidup akan nihil jika dekorasi dipinggirran hidup itu, tidak segera didonasikan kepada sesama yang miskin dan terabaikan, sebelum pencuri mengambilnya dan membuat hidup makin tak berarti. Semua yang kita miliki apa pun itu, hanya titipan Tuhan untuk dijadikan sebagai media rohani demi menggapai hidup yang pantas dan layak kelak.

Hidup berbagi dan membagi kasih yang nyata kepada orang miskin dan tersisih disebut sebagai orang benar dan tempat orang benar itu ada dalam kemuliaan Tuhan yang kekal.

Kitab Imamat mewartakan cara hidup menggapai kekudusan. Ada perintah-perintah Allah yang mesti ditaati dengan tujuan tertentu yang mulia. Sebab itu tujuan utama, hidup menurut perintah-perintah Tuhan adalah menggapai hidup yang kudus.

Kekudusan itu merupakan panggilan. Setiap orang beriman bisa menjawabi panggilan itu dengan berupaya sekian rupa supaya menjadi kudus. Musa mengarahkan bangsa Israel untuk hidup menurut perintah Tuhan agar selamat. Kekudusan itu mungkin bagi manusia sebab Allah adalah kudus.

"Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan Allahmu, kudus." (Im. 19:2). Tuhan membentangkan perintah-perintah suci dalam Kitab Imamat 19:11-18. 

Pemazmur menanggapi dalam madah agungnya, "Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa, peraturan Tuhan itu teguh, memberikan hikmat kepada orang bersahaja." (Mzm. 19:8).

Allah melalui bimbingan Roh Kudus mendesak kita untuk selalu mengikut aturan ilahi-Nya dengan cara hidup baik dan benar.

Masa prapaskah adalah kesempatan berahmat yang amat istimewa untuk meningkatkan cara hidup berbagi kepada sesama yang berkekurangan dan tersisihkan. Inilah cara hidup orang beriman pengikut Tuhan, perbanyak kebaikan dan kebenaran dalam hidupnya. Hidup berbagi kebaikan dan kebenaran, selalu relevan menembus zaman.

Selamat beraktivitas hari ini. Tuhan berkatimu semua. (RP. FF. Arso Kota, Senin/Pekan I Prapaskah/A/II, 230226)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.