Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Pelaksanaan salat tarawih di Masjid Nurul Ikhsan, Desa Jagapura Wetan, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, bisa berjalan lama dengan durasi hingga tiga jam.
Tarawih di masjid ini bahkan dipimpin lima imam yang secara bergilir membaca tiga juz Alquran setiap malamnya.
Sepintas, pelaksanaan salat tarawih di masjid tersebut tak berbeda dengan masjid pada umumnya.
Baca juga: Para Bobotoh Sempatkan Salat Tarawih di Masjid Al Jabbar Sebelum Merapat ke GBLA
Usai azan Isya berkumandang, warga berbondong-bondong menuju masjid untuk melaksanakan salat berjemaah dengan penuh khusyuk demi memanen pahala Ramadan.
Namun, keunikan mulai terasa saat rakaat demi rakaat berlangsung.
Di Masjid Nurul Ikhsan, salat Tarawih dilaksanakan sebanyak 23 rakaat dengan bacaan mencapai tiga juz Alquran.
Tak heran jika ibadah malam itu bisa berlangsung lebih dari tiga jam.
Imam yang memimpin jalannya salat pun bukan hanya satu orang.
Pihak masjid menyiapkan lima imam yang bertugas secara bergantian.
Mereka merupakan para santri dan kiai penghafal Alquran atau hafidz.
Dengan durasi yang panjang, tak sedikit jemaah yang terlihat beristirahat sejenak, duduk maupun berbaring, terutama para jemaah sepuh.
Meski demikian, suasana tetap khidmat dan tertib.
Salah satu jemaah, Fatikhatul Jannah mengatakan, tarawih di masjid tersebut memang dikenal sebagai yang terlama di wilayahnya.
Baca juga: Daftar 8 Masjid di Kota Bandung Ramai saat Ramadhan untuk Salat Tarawih dan Buka Puasa
"Saya mengikuti salat tarawih di Masjid Nurul Ikhsan, di mana dikenal sebagai salat tarawih terlama. Karena di Masjid Nurul Ikhsan ini melaksanakan salat tarawih dengan bacaan Alqurannya itu bisa sampai 3 juz ya," ujar Jannah, Senin (23/2/2026).
Ia mengakui, mayoritas jemaah berasal dari kalangan sepuh sehingga ada yang merasa lelah karena durasi salat yang cukup panjang.
"Iya, dikarenakan jemaahnya mayoritas dari kalangan sepuh, maka tentunya ditemukan beberapa jemaah yang kelelahan ya karena salatnya terlalu lama. Namun, itu justru bisa membuat menambah kekhusyukan juga sebagai momen untuk peregangan atau istirahat karena durasinya yang lama itu," ucapnya.
Dari pantauan di lokasi, lantunan ayat suci terdengar panjang dan tartil.
Karpet hijau membentang rapi, sementara jemaah laki-laki dan perempuan menempati area terpisah.
Di bagian belakang, beberapa jemaah tampak membaca Alquran menggunakan meja kecil sambil menunggu giliran rakaat berikutnya.
Sementara itu, pendiri Masjid Nurul Ikhsan, Ikhsan Abdullah menjelaskan, bahwa pelaksanaan tarawih berdurasi panjang tersebut sudah berjalan sekitar lima tahun terakhir.
Menurutnya, konsep pembacaan yang santai dan tidak terburu-buru justru lahir dari permintaan jemaah sendiri.
"Salat tarawih dengan santai. Artinya, salat ini dibacakan dengan surat-surat yang panjang sehingga jemaah lebih mengikutinya dengan khusyuk ya, dengan tartil dan tidak terburu-buru. Mengingat jemaahnya banyak yang berusia lanjut, sehingga kalau kita dengan cara normal atau cepat-cepat, tentu beliau-beliau tertinggal. Sehingga atas permintaan dari jemaah," jelas Ikhsan.
Ia menambahkan, tujuan utama pelaksanaan tarawih dengan bacaan panjang tersebut agar jemaah bisa lebih menghayati setiap ayat yang dibaca serta memberi ruang tuma’ninah dalam setiap gerakan.
Meski tak semua orang sanggup mengikuti salat hingga tuntas, para jemaah setempat mengaku sudah terbiasa menjalankan tarawih hingga tiga jam lamanya.
Bagi mereka, durasi panjang bukan menjadi beban, melainkan bagian dari kekhusyukan Ramadan yang dinantikan setiap tahun.