*) Oleh: Djamaluddin Husita, S.Pd., M.Si
SUATUwaktu saya membaca sebuah kajian tentang kehidupan manusia di era digital yang menyebutkan bahwa ancaman terbesar terhadap iman bukan lagi penolakan terhadap agama, melainkan keterbukaan yang terus-menerus terhadap hal-hal yang melalaikan.
Iman tidak hilang dalam satu kejadian besar yang mengguncang keyakinan, tetapi terkikis perlahan melalui kebiasaan kecil yang diulang setiap hari.
Ketika waktu lebih banyak dihabiskan di depan layar ponsel, media sosial, dan berbagai platform digital daripada untuk refleksi diri, ketika pikiran lebih dipenuhi arus informasi dan hiburan daripada dzikir, maka yang berubah bukan sekadar gaya hidup, tetapi kondisi batin.
Fenomena ini dalam kajian kontemporer sering disebut erosion of faith by exposure, yaitu terkikisnya iman karena terlalu sering bersentuhan dengan hal-hal yang menjauhkan hati dari nilai spiritual.
Prosesnya tidak berlangsung drastis atau mengejutkan. Justru terjadi pelan, bertahap, dan sering tidak terasa.
Kita hidup di zaman yang terbuka. Melalui ponsel di tangan, gaya hidup, opini, hiburan, dan tren global masuk ke ruang pribadi tanpa penghalang. Informasi datang tanpa jeda, hiburan tersedia setiap saat. Kemudahan ini membawa banyak manfaat, tetapi juga memunculkan banjir hal-hal instan yang membawa mudharat.
Awalnya mungkin hanya kebiasaan mengisi waktu luang dengan berselancar di media sosial. Lalu muncul kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang tampak lebih berhasil atau lebih bahagia. Tanpa terasa, orientasi hidup bergeser. Keinginan duniawi makin dominan, sementara perhatian terhadap kebutuhan ruhani makin menipis.
Gejalanya terasa dalam keseharian. Ibadah menjadi kurang khusyuk, waktu berzikir berkurang, dan hati mudah gelisah. Kondisi seperti ini jarang disebabkan oleh runtuhnya iman secara mendadak, melainkan karena hati terlalu sering dipenuhi hal yang tidak memberi nutrisi spiritual.
Apa yang kini disebut erosion of faith by exposure sebenarnya bukan konsep asing dalam khazanah Islam. Para ulama sejak lama menjelaskan bahwa hati sangat dipengaruhi oleh apa yang sering dilihat, didengar, dan dikerjakan.
Rasulullah menggambarkan perubahan hati sebagai proses bertahap. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa setiap kali seseorang melakukan kesalahan (baca=dosa), muncul satu titik hitam di hatinya. Jika bertaubat, hati kembali bersih.
Namun jika kesalahan diulang, titik itu bertambah hingga menutup hati. Pesan ini menegaskan bahwa kerusakan spiritual sering terbentuk dari pengulangan, bukan semata dari satu peristiwa besar.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa hati akan cenderung mengikuti apa yang terus-menerus masuk ke dalamnya. Jika diisi dengan kelalaian, hati terbiasa lalai. Jika dibiasakan dengan dzikir dan kebaikan, hati menjadi hidup. Artinya, kualitas iman tidak hanya ditentukan oleh keyakinan, tetapi juga oleh pola kebiasaan harian.
Imam Al-Ghazali juga mengingatkan bahwa hati bisa mengeras karena tenggelam dalam urusan dunia dan kelalaian yang berulang. Kelalaian kecil yang dibiarkan terus-menerus dapat menimbulkan dampak besar pada kondisi batin.
Dalam kehidupan modern, bentuk gangguan makin beragam: hiburan tanpa batas, arus informasi deras, budaya konsumtif, dan gaya hidup serba cepat. Jika tidak ada kendali, perhatian mudah berpindah dari kedalaman ke permukaan, dari perenungan ke pengalihan.
Ketika kebiasaan yang berulang pelan-pelan menggeser perhatian dan mengurangi kekuatan batin, hadir satu masa yang memberi kesempatan untuk menata ulang.
Dalam konteks inilah Ramadhan menjadi relevan. Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi kesempatan untuk memperkuat kembali daya tahan batin setelah sekian lama perhatian tersebar ke banyak hal yang kurang bernilai.
Jika iman bisa melemah karena pengulangan kebiasaan kecil, maka penguatannya pun tumbuh melalui cara yang mirip, yakni kebiasaan baik yang dijaga dan diulang setiap hari.
Puasa adalah latihan pengendalian diri yang nyata. Bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan dorongan berlebihan, termasuk dalam mengonsumsi informasi dan hiburan.
Dari proses menahan diri itu, orang biasanya mulai lebih jujur melihat ulang kebiasaan yang selama ini terasa nyaman dijalani. Banyak hal yang sebelumnya dianggap wajar, ternyata menguras fokus dan energi batin.
Selama Ramadhan, pola keseharian sosial dan keagamaan ikut berubah. Masjid lebih hidup, tadarus meningkat, kajian diikuti lebih luas, sedekah bertambah, dan percakapan keagamaan lebih sering hadir.
Suasana seperti ini memberi asupan makna yang lebih kuat bagi hati. Yang sebelumnya dipenuhi hal-hal yang melalaikan perlahan diganti dengan ingatan kepada Allah, Al-Qur’an, dan nilai akhirat.
Di luar Ramadhan, yang sering mendominasi adalah dorongan duniawi. Selama Ramadhan, yang menguat kebiasaan ibadah, refleksi, dan pengendalian diri.
Perubahan arah kebiasaan ini membuat Ramadhan berfungsi sebagai benteng terhadap proses pengikisan iman yang berjalan pelan tetapi terus-menerus.
Agar manfaat ini terasa, diperlukan kesadaran pribadi. Mengurangi aktivitas digital yang tidak bernilai, memilih konten yang lebih mendidik, serta mengganti waktu luang dengan tadarus, dzikir, dan membaca adalah langkah sederhana namun menentukan. Tidak perlu drastis, tetapi nyata.
Lingkungan juga memegang peranan penting. Keluarga, kerabat, dan pergaulan yang kondusif membantu menjaga konsistensi. Banyak kajian sosial menunjukkan bahwa kebiasaan seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkaran terdekatnya. Dalam urusan iman, pengaruh itu terasa kuat.
Ujian sebenarnya muncul setelah Ramadhan berlalu. Ketika suasana kembali biasa, kebiasaan lama mudah mengambil tempat lagi. Jika tidak ada praktik baik yang dipertahankan, proses terkikisnya iman bisa berulang dengan pola yang sama.
Karena itu, Ramadhan layak dipahami sebagai masa pelatihan intensif. Selama satu bulan, seseorang melatih disiplin batin, mengatur ulang waktu, dan membangun kebiasaan spiritual yang lebih sehat. Harapannya, kekuatan itu tidak berhenti di akhir Ramadhan, tetapi berlanjut dalam sebelas bulan berikutnya.
Ramadhan memberi kesempatan untuk berhenti sejenak, membersihkan hati, dan menata ulang prioritas hidup. Jika dijalani dengan sadar, Ramadhan bukan hanya bulan ibadah rutin, tetapi juga perisai yang menjaga iman tetap bernyala di tengah perubahan zaman.
Kita mungkin tidak bisa sepenuhnya lepas dari dunia digital, tetapi kita bisa memberi batas. Menyediakan waktu untuk berzikir dan membiasakan diri kembali dengan Al-Qur’an serta doa adalah langkah kecil yang berdampak besar.
Pada akhirnya, menjaga iman bukan hanya tentang menambah amal, tetapi juga menjaga apa yang masuk ke dalam hati: apa yang dilihat, didengar, dan dikonsumsi setiap hari.
Sebab hati cenderung mengikuti apa yang paling sering mengisinya. Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memastikan yang memenuhi hati adalah cahaya, bukan kelalaian.
Pilihan sikap kecil yang konsisten sering lebih menentukan daripada perubahan besar yang hanya sesaat. Wallahu Ta‘ala ‘Alam. (*)
*) Penulis adalah Kepala MA Ulumul Quran Kota Banda Aceh