Gubernur NTB Dorong Pengelolaan TNGR Lebih Inklusif dan Libatkan Masyarakat
Laelatunniam February 24, 2026 02:22 PM

TRIBUNLOMBOK.COM - Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal, menegaskan keinginan pemerintah provinsi agar pengelolaan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) lebih inklusif dengan mengajak semua pihak dan melibatkan masyarakat.

Hal itu dikatakan Gubernur saat menerima audiensi Kepala Balai TNGR, Budhy Kurniawan, dan General Manager Geopark Rinjani, Moh. Faozal (Qwadru P. Wicaksono), serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan di ruang kerja, Senin (23/02/2026), dengan penegasan bahwa pemerintah provinsi siap bekerja sama dan mendukung penuh program kegiatan Balai TNGR.

"Akhirnya, apa pun yang terjadi dalam pengelolaan Gunung Rinjani, kami (pemerintah provinsi) orang pertama yang menghadapi situasi itu sehingga kami merasa TNGR tidak akan mampu menghadapi sendiri semua masalah," tegas Gubernur.

Gubernur menjelaskan, pengelolaan eksklusif yang dimaksud karena selama ini TNGR belum maksimal berkoordinasi dengan Pemprov dan Pemkab Lombok Utara, Lombok Timur, Lombok Tengah, maupun masyarakat dalam hal konservasi dan pengelolaan destinasi wisata yang telah mendunia ini.

Menurutnya, pola-pola kerja sama pengelolaan bersama TNGR harus dicarikan best practice terbaiknya sesuai dengan karakteristik lokal.

Gubernur mencontohkan saat terjadi kecelakaan wisatawan beberapa waktu lalu, inisiatif vertical rescue yang digagas mandiri Pemprov NTB bersama beberapa stakeholder dalam hal keamanan pendakian dan penyelamatan menjadi contoh pentingnya kerja sama yang baik antara TNGR, pemerintah provinsi dan kabupaten, serta masyarakat dalam pengelolaan agar tidak berjalan sendiri-sendiri.

Baca juga: Gunung Rinjani Dikunjungi 80 Ribu Wisatawan di Tahun 2025, Pemasukan PNBP Rp25,9 Miliar

Begitu pula dalam hal konservasi seperti penanganan sampah, potensi lokal desa penyangga, infrastruktur pendukung, maupun wisata pendakian sebagai pendapatan.

"Saya mendorong kalau perlu tiket pendakian dibuat mahal dan bersertifikat serta berasuransi sebagai pendakian eksklusif khusus bagi pendaki mancanegara, bukan mass tourism, asalkan manfaat ekonominya untuk pengembangan masyarakat sekitar melalui badan layanan usaha daerah," sebut Gubernur.

Menutup arahannya, Iqal mengingatkan Gunung Rinjani sebagai simbol kehidupan masyarakat dan berharap inovasi TNGR dalam tata kelola lingkungan dan pariwisata segera diwujudkan.

"Perlu dilakukan konferensi pers dengan media-media termasuk internasional untuk memberikan informasi perubahan-perubahan yang sudah kita lakukan. Termasuk kesalahan terbesar kita kemarin karena promosinya trekking bukan mountaineering, sehingga orang menganggap Rinjani seperti bukit Teletubbies," tambahnya.

Sejalan dengan hal itu, pihak TNGR dalam pertemuan tersebut memaparkan beberapa program pemberdayaan potensi dan konservasi di tahun ini. Di antaranya, potensi desa penyangga, sistem pengelolaan sampah, fasilitas keamanan, merchandise, dan suvenir khas wisata dan geopark.

"Rencana pembukaan pendakian 28 Maret mendatang," ujar Budhy.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.