BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Sore itu, lorong sempit di Rumah Tahanan (Rutan) Polres Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung terasa berbeda. Di atas tikar hijau yang digelar memanjang, para perwira berseragam duduk bersila, berhadapan langsung dengan para tahanan yang berada di balik jeruji besi. Di atas tikar sederhana tersaji air mineral, kurma, dan kotak makanan berbuka.
Dari dalam ruang tahanan, para tahanan yang mengenakan baju tahanan berwarna oranye dan biru tampak duduk rapat. Beberapa menunduk khusyuk, sebagian lainnya menyimak dengan tangan terlipat di pangkuan sembari mengenakan bersarung dan berkopiah. Tatapan mereka beragam, ada yang kosong, ada pula yang menyimak dengan mata yang tampak basah oleh renungan.
Lantai kayu menjadi alas duduk mereka, sementara dinding kusam dan barang-barang sederhana di sudut ruangan menjadi latar kehidupan yang tengah mereka jalani. Suasana hening ketika Kapolres Bangka Selatan, AKBP Agus Arif Wijayanto memberikan pesan tentang kesalahan dan kesempatan kedua kapada para tahanan. Di ruang terbatas itu, kata-kata tentang taubat dan perbaikan diri terdengar lebih dalam.
“Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Namun yang terpenting adalah bagaimana menjadikan kesalahan tersebut sebagai pelajaran untuk memperbaiki diri ke arah yang lebih baik,” kata AKBP Agus Arif Wijayanto di hadapan para tahanan, Selasa (24/2/2026) petang.
Seorang tahanan di sudut ruangan menunduk lama, jemarinya saling menggenggam erat. Di sebelahnya, pria lain menatap lurus ke depan, seakan mencerna setiap kalimat yang melintas. Tidak ada yang bersuara, tetapi bahasa tubuh mereka bercerita tentang penyesalan, tentang rindu keluarga serta harapan untuk kembali memulai. Ketika azan akhirnya berkumandang, tangan-tangan terangkat untuk berdoa. Sebagian memejamkan mata lebih lama dari biasanya.
Agus Arif Wijayanto bilang buka puasa bersama tahanan dilakukan sebagai ajang introspeksi diri. Lewat momentum Ramadan dirinya mengajak para tahanan untuk memperbaiki akhlak, meningkatkan keimanan, dan menjadi pribadi lebih baik. Dirinya ingin selama berada di dalam rutan para tahanan dapat menjalani segala proses dengan baik. Paling penting mampu mengambil nilai-nilai positif yang dapat menjadi bekal untuk kehidupan ke depan.
Adapun kegiatan buka puasa bersama tahanan merupakan bentuk pendekatan humanis Polri dalam rangka pembinaan mental dan spiritual terhadap para tahanan. Tujuannya untuk mempererat silaturahmi antara pimpinan, personel, dan para tahanan. Sekaligus bentuk kepedulian dan pendekatan humanis dalam memberikan pembinaan rohani dan motivasi kepada para tahanan agar senantiasa memperbaiki diri.
“Kami memposisikan diri sebagai saudara, kegiatan berbuka puasa bersama ini merupakan wujud kebersamaan dan kepedulian kami,” ucap Kapolres.
Kegiatan berbuka puasa bersama itu juga diisi dengan kultum yang disampaikan oleh Ustaz Syahrullah. Dalam tausiyah singkatnya para tahanan diajak untuk tidak terjebak pada masa lalu. Bahwa pintu taubat selalu terbuka, dan setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah selama masih diberi waktu.
Kapolres berharap setelah menyelesaikan proses hukum, para tahanan dapat kembali ke masyarakat dengan jalan hidup yang lurus dan penuh tanggung jawab. Di hadapan Allah SWT, lanjutnya, semua manusia memiliki kedudukan yang sama. Yang membedakan hanyalah ketakwaan dan perbuatan baik. Beberapa tahanan tampak menunduk khusyuk mendengarkan. Ada yang mengangguk pelan, ada pula yang sesekali menyeka wajahnya.
“Mudah-mudahan setelah menyelesaikan proses di sini, bapak-bapak sekalian dapat menjalani kehidupan dengan jalan yang lurus serta penuh tanggung jawab,” ucapnya. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)