TRIBUNNEWS.COM - Berpuasa di bulan Ramadan merupakan kewajiban bagi umat Muslim yang mampu menjalankannya.
Namun, menjalankan puasa tentu mengubah pola dan jadwal makan sehari-hari.
Bagi sebagian orang, perubahan ini bisa menjadi momentum untuk memperbaiki pola hidup agar lebih sehat.
Akan tetapi, bagi pasien atau penderita diabetes, pola makan yang teratur dan terjadwal sangat penting untuk menjaga kestabilan kadar gula darah.
Karena itu, puasa bagi penderita diabetes perlu dilakukan dengan perencanaan yang matang dan pengawasan yang tepat agar kondisi tubuh tetap sehat dan gula darah tetap terkontrol.
Kondisi ini pun memunculkan pertanyaan: apakah penderita diabetes tetap diperbolehkan menjalankan ibadah puasa, sementara selama Ramadan waktu makan menjadi lebih terbatas?
Lalu, bagaimana tips aman bagi penderita diabetes yang ingin tetap berpuasa?
Dilansir dari laman ugm.ac.id, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Sub Endokrin Metabolik RSA UGM, Ali Baswedan, menjelaskan bahwa penderita diabetes tetap diperbolehkan berpuasa dengan dua syarat utama.
Pertama, wajib berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.
"Artinya harus ada izin dari dokter karena itu penting. Dokterlah yang dapat menentukan boleh berpuasa atau tidak," jelas Ali.
Baca juga: Pasien Diabetes Wajib Tahu! Cara Aman Olahraga dan Tetap Aktif Saat Puasa
Syarat kedua, penderita diabetes tidak boleh melewatkan sahur dan tidak boleh makan atau minum secara berlebihan saat berbuka.
Meski demikian, tidak semua pasien diabetes dianjurkan untuk berpuasa.
Mereka yang diperbolehkan adalah pasien tanpa komplikasi berat, seperti tidak memiliki luka serius, tidak sedang mengalami infeksi paru aktif, tidak dalam kondisi gula darah yang melonjak tinggi, serta tidak sedang sakit akut.
Jika pasien sedang batuk, pilek, demam, atau memiliki luka di kaki, sebaiknya tidak memaksakan diri untuk berpuasa.
Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan dokter yang memahami riwayat kesehatan pasien.
"Nanti yang menentukan boleh puasa atau tidak itu dari dokter, karena dokter itu punya riwayatnya," terangnya.
Perubahan pola dan jadwal makan selama Ramadan dapat memengaruhi kadar gula darah yang cenderung naik turun.
Karena itu, Ali mengingatkan agar pasien tidak melewatkan sahur untuk mencegah gula darah turun drastis di siang hari.
Ia juga menekankan agar tidak berlebihan saat berbuka puasa.
Untuk mengatur pola makan saat berbuka, Ali menyarankan pembagian waktu makan menjadi tiga tahap, yakni saat adzan magrib, sebelum salat tarawih, dan setelah tarawih.
"Jika berbuka puasa secara berlebihan, akan terjadi lonjakan secara berlebihan," terangnya.
Baca juga: 4 Rekomendasi Minuman Diabetes Berdasarkan Cara Kerja di Tubuh dan Dampaknya
Terkait konsumsi obat, terdapat panduan yang menyarankan pengurangan sepertiga dari dosis biasa selama puasa.
Namun, Ali lebih menyarankan pengurangan setengah dosis terlebih dahulu.
Menurutnya, memulai dari dosis yang lebih kecil lebih aman untuk mencegah risiko gula darah turun drastis.
"Jika mengurangi sepertiga dari dosis, kemungkinan terjadinya drop itu kan lebih besar. Tapi kalau setengah dulu tidak apa-apa," ungkap Ali.
Ia menambahkan, setelah sekitar 45 hari, kondisi pasien perlu dievaluasi untuk menentukan apakah dosis perlu disesuaikan kembali.
Untuk menu sahur, penderita diabetes dianjurkan mengonsumsi karbohidrat kompleks seperti beras merah, roti gandum, atau oatmeal.
Asupan protein dan sayuran juga penting, serta memastikan kebutuhan cairan terpenuhi dengan minum air putih yang cukup.
Saat berbuka, makanan manis boleh dikonsumsi, tetapi dalam porsi kecil.
"Pokoknya secukupnya. Tapi yang manis-manis memang dianjurkan pada saat buka itu yang manis dianjurkan tapi sedikit saja porsinya," jelasnya.
Setelah itu, makan besar dapat dilakukan sebelum tarawih, dan camilan ringan bisa dikonsumsi setelahnya.
Gejala gula darah tinggi biasanya ditandai dengan rasa haus berlebihan, sering buang air kecil, lemas, badan terasa hangat, dan pusing.
Sementara gula darah rendah umumnya ditandai dengan lemas berlebihan dan keringat dingin.
Untuk mencegah kondisi berbahaya, pasien disarankan memeriksa gula darah selama tiga hingga empat hari pertama puasa, yakni sebelum sahur, sekitar pukul 12 siang, dan dua hingga tiga jam sebelum berbuka.
Ali menegaskan bahwa jika saat berpuasa pasien mengalami gejala gula darah rendah seperti jantung berdebar, puasa wajib dibatalkan.
"Wajib dibatalkan karena resiko terjadinya hipoglikemia (gula darah rendah) itu jauh lebih berbahaya," jelasnya.
Untuk jumlah kadar gula darah yang ideal atau yang relatif aman berada di bawah 180–200 mg/dL, dengan rentang ideal sekitar 110–180 mg/dL.
(Tribunnews.com/Latifah)