TRIBUNMANADO.CO.ID- Melalui Alkitab kitab dapat mengetahui mana yang baik dilakukan dan mana yang tidak.
Untuk itu kita dianjurkan agar membaca dan merenungkan Firman Tuhan tiap hari.
Berikut rekomendasi renungan harian Kristen berjudul jangan menghakimi.
Baca juga: Renungan Harian Kristen Mazmur 130:5, Nantikan Tuhan dan Lakukan Firman
Ditulis oleh Jerry Tamburian dalam buku moment of inspiration LPMI.
Firman Tuhan diambil dalam Lukas 6:37.
"Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi.
Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Lukas 6:37
Dalam pergaulan sehari-hari sering kita mendengar orang berkata, “jangan men-judge orang” atau “jangan berlagak jadi polisi.”
Pernahkah kita menghakimi seseorang dan karena hal ini kita menjadi malu atau merasa bersalah?
Karena apa yang kita nilai atau tuduhkan terhadap seseorang ternyata tidak benar?
Setiap orang pasti pernah menghakimi orang lain.
Kebiasaan menilai dan membicarakan orang lain dengan tidak didasarkan pada bukti yang jelas sering menjadi bagian dalam percakapan kita.
William Barclay menulis: Mengapa tak ada seorang pun yang boleh menilai atau menghakimi sesamanya?
Alasan: (1) Kita tidak pernah mengetahui seluruh kenyataan dan pribadi orang lain seutuhnya;
(2) Hampir tidak ada kemungkinan bagi siapapun untuk mengadakan penilaian atau penghakiman secara jujur dan objektif dan
(3) Yesus-lah yang menyatakan alasan yang utama bagi kita untuk tidak menghakimi orang lain.
Tidak ada ada orang yang pantas untuk menghakimi dan menilai orang lain.
Memang prilaku orang Farisi seperti itu. Mengapa? Mereka selalu merasa diri benar (tidak berdosa) di banding yang lain.
Pikiran dan perkataannya sering tidak berdasarkan penilaian yang objektif.
Firman Tuhan hari ini Yesus berkata "Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi.
Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.”
Prinsip penting dalam kata-kata Tuhan Yesus ini adalah setiap apapun yang kita katakan dan lakukan bagi orang lain pasti ada balasannya.
Ketika kita memperlakukan orang lain dengan baik, kita akan menerima perlakuan yang baik tetapi sebaliknya ketika kita memperlakukan orang lain tidak baik, kita akan menerima perlakuan yang tidak baik juga.
Tetapi mungkin kita berpikir dan bahkan pernah mengalami sendiri bahwa ada kalanya kita berbuat baik terhadap orang lain, tetapi justru balasannya bukan kebaikan tetapi yang jahat.
Kita kecewa, marah dan bahkan membalasnya. Karena itu kita harus melihat kata-kata Tuhan Yesus dari sudut padang Tuhan.
Pembalasan adalah hak Tuhan.
Ketika Tuhan mengatakan, “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. “
Ini menunjukkan bahwa yang berhak untuk menghakimi adalah Tuhan, Karena Tuhan adalah Hakim (Yes. 33:22).
Ia menghakimi manusia dengan adil (Maz. 50:1-6) karena Ia mengetahui persis motivasi hati manusia (1 Kor. 2:11, Roma 2:1-3).
Sekarang ini tindakan menghakimi menjadi pemandangan kita setiap hari.
Kata-kata fitnah, bohong, hoax hampir tiap hari kita dengar.
Media bahkan mengexpose hal ini dan di dipertontonkan, dilihat dan didengar oleh banyak orang.
Di lingkungan kita, komunitas kita bahkan di lingkungan gereja sering kita mendengar orang-orang tertentu melakukan hal ini.
Banyak orang atau mungkin kita sendiri menjadi marah, stress, tertekan bahkan ada orang yang harus membawa hal ini ke ranah hukum untuk diproses.
Dan bukankah ini cara Iblis untuk mencuri sukacita kita, menghancurkan, dan membinasakan banyak orang (baca Yoh. 10:10b).
Karena itu bangunlah komunikasi yang baik dengan orang lain melalui perkataan yang membangun sebagaimana nasehat Paulus dalam Efesus 4:29,
“Ketika kamu berbicara, jangan sampai kata-kata kotor keluar dari mulutmu, atau kata-kata yang menyakiti hati orang lain.
Tetapi bicaralah seperlunya, supaya perkataanmu menolong, mendatangkan kebaikan, dan menguatkan orang-orang yang mendengarnya.”(TSI)
Apakah praktek men-judge masih menjadi bagian percakapan kita?
Ingat! Semakin kita sering melakukannya itu akan menjadi kebiasaan.
Kebiasaan ini adalah dosa dan merugikan kita sendiri. Mari kita serahkan hidup ini dipimpin oleh Tuhan.
Kita berdoa agar Tuhan memberikan kita kemampuan melalui kuasa Roh Kudus untuk hidup dalam kebenaran dan berjalan dalam terang.
Kita menjadi berkat melalui kata-kata dan tindakan kita.
Inspirasi: Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. (Filipi 4:8)