Damkar Khairul Umam Ungkap Kondisi Keluarganya Usai Kena Teror Gegara Bikin Konten Kegunaan Helm
jonisetiawan February 26, 2026 06:38 AM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Niat menyampaikan pesan keselamatan justru berubah menjadi pengalaman mencekam. Khairul Umam, seorang anggota pemadam kebakaran (Damkar), mengaku menjadi sasaran teror setelah mengunggah konten yang membahas fungsi helm.

Dalam video tersebut, Khairul menekankan satu pesan sederhana: helm diciptakan untuk melindungi kepala, bukan untuk melukai.

Namun, konten yang sejatinya bersifat edukatif dan dikemas ringan itu diduga ditafsirkan berbeda oleh sebagian pihak.

Video tersebut dianggap sebagai sindiran terhadap kasus dugaan kekerasan oleh aparat kepolisian, yang sebelumnya menyita perhatian publik setelah seorang pelajar SMP dilaporkan meninggal dunia usai dipukul menggunakan helm.

Kesalahpahaman itulah yang kemudian membawa Khairul pada situasi tak terduga ancaman yang menyusup ke ruang pribadinya.

Baca juga: Damkar Khairul Umam Akhirnya Klarifikasi Usai Kena Teror: Saya Tidak Menyindir Institusi Mana Pun

Teror Datang Lewat Pesan Pribadi

Khairul mengungkapkan bahwa teror ia terima melalui pesan pribadi WhatsApp sebanyak dua kali, yakni pada Selasa (24/2/2026) malam dan Rabu (25/2/2026) pagi.

Awalnya, tidak ada yang terasa janggal. Pengirim pesan memperkenalkan diri sebagai penggemar Khairul baik sebagai komika maupun sebagai petugas Damkar.

“Jadi terornya tuh di Whatsapp semua. Seperti yang saya bikin di story, ya awalnya dia ngaku jadi sebagai fans lah gitu-gitu segala macem,” ucap Khairul saat dihubungi Kompas.com, Rabu.

Namun, pesan yang semula terdengar ramah perlahan berubah arah.

Dari Imbauan Halus ke Kalimat Mengancam

Dalam pesan pertama, pengirim mengingatkan Khairul agar berhati-hati dan menjaga keselamatannya. Sekilas, nasihat itu terdengar seperti bentuk kepedulian.

Akan tetapi, menurut Khairul, pesan tersebut kemudian berkembang menjadi rangkaian kalimat yang terasa janggal dan mengusik rasa aman.

“Ternyata ujung-ujungnya malah bilang saya harus pakai helm, jaga keselamatan saya, suruh minta sowan sama orangtua saya gitu-gitu,” kata Khairul.

Teror berlanjut ke pesan kedua. Nada yang digunakan masih terkesan halus, tetapi maknanya jauh lebih mengganggu. Ada satu kalimat yang membuat Khairul merasa benar-benar terancam.

“Ya halus-halus sih halus-halus gitu. Soalnya sempet juga dia ngomong, 'tunggu saya, ada kejutan buat kamu',” kata dia.

BRIMOB ANIAYA PELAJAR - Seorang anggota pemadam kebakaran (Damkar) Khairul Umam, mengaku menerima teror usai membuat konten yang menyinggung perihal penggunan helm.
BRIMOB ANIAYA PELAJAR - Seorang anggota pemadam kebakaran (Damkar) Khairul Umam, mengaku menerima teror usai membuat konten yang menyinggung perihal penggunan helm. (Tangkapan Layar Instagram Khairul Umam)

Alamat Rumah Disebut, Rasa Aman Terusik

Yang membuat situasi kian serius, menurut Khairul, pengirim pesan ternyata mengetahui informasi personalnya.

Bukan sekadar nama, melainkan alamat lengkap rumahnya dan rumah sang istri, bahkan nama orangtuanya.

“Alhamdulillah untuk saat ini buat keluarga sih masih aman-aman aja ya. Meskipun dia tuh nyampein alamat lengkap rumah saya dan rumah istri saya. Untungnya dia nggak tau alamat rumah orangtua saya," imbuh dia.

Meski bersyukur keluarganya masih dalam keadaan aman, Khairul tak menampik bahwa teror tersebut telah mengganggu ketenangan hidupnya.

Baca juga: Anggota Damkar Diteror Usai Bela Pelajar yang Tewas Dihantam Helm Oknum Brimob, Data Pribadi Bocor

Tegaskan Tak Ada Sindiran, Hanya Edukasi

Di tengah tekanan dan rasa tidak nyaman, Khairul kembali menegaskan bahwa konten yang ia buat sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyindir pihak mana pun. Baginya, video tersebut murni bertujuan edukasi sekaligus hiburan.

“Saya mah cuma bilang pake helm itu gunanya untuk apa, melindungi kepala, bukan untuk melukai kepala warga. Kalau kayak gini, ya maksudnya iya karena kontennya emang buat lucu-lucuan dan buat funny aja gitu,” katanya.

Ia juga menegaskan tidak ada satu pun narasi atau keterangan dalam kontennya yang menyebut atau menyinggung institusi tertentu.

“Respons Orang Lain di Luar Kendali Saya”

Khairul menyadari bahwa setiap konten yang dipublikasikan di ruang digital bisa ditafsirkan beragam. Namun, ia menegaskan bahwa ada batas antara apa yang bisa dan tidak bisa ia kendalikan.

“Kalau misalnya emang ada yang ngerasa tersinggung gini, saya sih yang saya pelajarin ya, maksudnya yang bisa saya kontrol adalah apa yang saya buat dan apa yang saya bikin.

Ketika respons dari orang lain itu kan saya enggak bisa kontrol,” kata dia.

Ia kembali menegaskan bahwa dirinya sendiri selalu menggunakan helm dalam pekerjaannya sebagai petugas Damkar.

“Saya adakah narasi atau caption saya adakah narasi-narasi yang memang mengarah ke sana atau ada narasi-narasi yang menyebutkan instansi atau segala sesuatunya? Itu kan tidak. Karena saya pun kerja pakai helm,” tutur Khairul.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di era media sosial, konten edukatif pun dapat berubah menjadi sumber risiko, ketika pesan disalahartikan dan berujung pada ancaman nyata terhadap pembuatnya.

***

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.