Pt. Maxxi Agri Indonesia Sosialisasi Paket Pestisida Komplit Bagi Masyarakat Petani di Harekakae
Apolonia Matilde February 26, 2026 06:38 AM

 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Kristoforus Bota


POS-KUPANG.COM, BETUN - PT. Maxxi Agri Indonesia menggelar kegiatan sosialisasi produk pestisida dan benih pangan bagi masyarakat kelompok tani di Desa Harekakae, Kabupaten Malaka, Rabu (25/2/2026). 

Kegiatan yang berlangsung di Kantor Desa Harekakae itu dihadiri pemerintah desa, Petugas Pendamping Lapangan (PPL), para ketua kelompok tani, serta puluhan petani setempat.

Kegiatan tersebut dikemas dalam bentuk temu lapak yang menghadirkan perwakilan dari 16 kelompok tani di desa tersebut. Dari total 18 kelompok tani yang ada di Desa Harekakae, hampir seluruhnya terlibat aktif dalam sosialisasi tersebut.

Field Assistant wilayah TTU, Belu dan Malaka, PT. Maxxi Agri Indonesia, Simon Nule, menjelaskan bahwa kegiatan itu bertujuan memperkenalkan produk-produk unggulan perusahaan yang bergerak di bidang pestisida, benih padi dan jagung, serta alat mesin pertanian.

“Hari ini kami di Desa Harekakae melakukan kegiatan temu lapak dengan menghadirkan ketua-ketua kelompok tani. Kami memperkenalkan produk dari PT Maxxi Agri Indonesia, khususnya pestisida dan benih padi,” ujarnya saat diwawancarai POS-KUPANG.COM di lokasi kegiatan.

Dalam sosialisasi tersebut, perusahaan memperkenalkan sejumlah produk, di antaranya Paket Padi Josss, Padiklin, Mekar Map, Agcel, Bufos, serta Harber yang difokuskan sebagai pembasmi hama keong.

Menurut Simon, serangan hama keong belakangan ini menjadi persoalan serius bagi petani padi. Keong menyerang tanaman sejak usia nol hari hingga 12 hari setelah tanam, sehingga berpotensi merusak pertumbuhan awal padi secara signifikan.

“Untuk itu kami merekomendasikan produk Harber sebagai solusi pengendalian hama keong. Ini penting karena fase awal pertumbuhan padi sangat menentukan hasil panen,” jelasnya.

Selain itu, produk Agcel dan Mekar Map juga diperkenalkan sebagai solusi untuk mengatasi kondisi tanah yang mengalami asam-asaman, terutama setelah musim tanam pertama. Kedua produk tersebut diklaim mampu membantu memperbaiki struktur tanah sekaligus menambah jumlah anakan padi.

Salah satu keunggulan yang ditawarkan PT. Maxxi Agri Indonesia adalah konsep pestisida dalam bentuk paket komplit. Dalam satu paket Padi Jos, terdapat pupuk daun, insektisida, fungisida, zat perangsang tumbuh, serta perekat, penembus, dan perata.

“Dalam satu paket ada lima botol dan satu bungkus ukuran 500 gram. Secara ekonomis ini membantu petani karena tidak perlu membeli satu per satu,” terang Simon.

Harga satu paket tersebut berkisar Rp 140.000 untuk enam produk di dalamnya. Sementara untuk produk seperti Agcel dan Mekar Map dijual dengan harga Rp 45.000 hingga Rp 50.000 per botol atau per bungkus, tergantung kemasan. Harga normal untuk kemasan 250 ml berada di kisaran Rp 50.000, sedangkan Mekar Map tersedia dalam kemasan satu kilogram.

Dalam distribusinya, PT. Maxxi Agri Indonesia bekerja sama dengan retailer terdekat, yakni Duta Tani Betun, sehingga harga yang ditawarkan menyesuaikan dengan ketentuan pihak pengecer.

Menariknya, setelah sesi sosialisasi, perusahaan juga menggelar penjualan berhadiah langsung. Petani yang membeli produk berkesempatan mendapatkan hadiah berupa tangki semprot, sepatu lumpur, hingga gelas atau mug yang dapat digunakan di lahan pertanian.

Tak hanya memasarkan produk, pihak perusahaan juga memberikan edukasi teknis terkait penggunaan pestisida yang benar dan aman. Dalam paket Padi Jos, misalnya, pupuk daun diaplikasikan pada fase vegetatif dengan dosis empat hingga lima sendok per tangki semprot dan tidak lebih dari sepuluh sendok.

Untuk insektisida dalam botol berisi 33 ml, dosis pengendalian yang dianjurkan adalah 10 ml per aplikasi. Fungisida Reosol juga dicampurkan bersama zat perangsang tumbuh serta perekat dan penembus agar efektivitas penyemprotan lebih optimal.

Simon juga menekankan pentingnya aspek keselamatan kerja dalam penggunaan pestisida. Petani diimbau menggunakan masker saat penyemprotan, memperhatikan arah angin agar tidak melawan arah semprot, serta dilarang makan atau merokok saat melakukan aplikasi pestisida.

Sementara itu, Kepala Desa Harekakae, Petrus Klau Luan, menyambut positif kegiatan sosialisasi tersebut. 

Ia mengungkapkan bahwa hampir seluruh wilayah Desa Harekakae merupakan lahan basah atau sawah, dengan lahan kering hanya sekitar lima hektare.

“Di desa kami ini sekitar 95 persen masyarakat adalah petani sawah. Jadi sosialisasi seperti ini sangat membantu karena kami sering mengalami kesulitan terutama terkait herbisida,” ujarnya.

Ia menilai konsep paket yang ditawarkan cukup meringankan beban petani. Selama ini, petani kerap membeli produk pertanian secara terpisah sehingga biaya menjadi lebih mahal.

“Kalau beli satu-satu tentu mahal. Tapi kalau satu paket sudah komplit dan harganya lebih murah, tentu kami senang,” katanya.

Petrus bahkan menyatakan pihak pemerintah desa berencana mempertimbangkan pengadaan produk tersebut melalui alokasi dana desa, untuk kemudian dibagikan secara merata kepada para petani sesuai luas lahan masing-masing.

“Saya sudah rencanakan untuk nanti desa bisa alokasikan dana desa untuk pengadaan. Nanti pembagiannya disesuaikan dengan luas lahan yang ada, karena data luas lahan petani sudah tersedia di kelompok tani,” jelasnya.

Setiap kelompok tani di Desa Harekakae rata-rata beranggotakan 10 hingga 15 orang. Dengan potensi unggulan desa yang bertumpu pada pertanian lahan basah, khususnya sawah, pemerintah desa menilai dukungan sarana produksi pertanian menjadi kebutuhan mendesak.

Melalui kegiatan sosialisasi itu, Petrus juga berharap pengetahuan petani terhadap penggunaan pestisida yang tepat semakin meningkat, sekaligus membuka akses terhadap produk pertanian yang lebih terjangkau dan komprehensif. (ito)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.