Selama 16 Tahun, Lemang Ibu Agung Tak Pernah Absen di Pasar Ramadan Pangkalpinang
Hendra February 26, 2026 02:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Subuh bahkan belum benar-benar pecah ketika bara api itu sudah menyala terang di halaman rumah sederhana di Desa Kace, Kabupaten Bangka.

Asap tipis mengepul, menari pelan di udara dini hari yang masih basah oleh embun.

Di hadapan lubang tanah yang dijadikan tungku, puluhan batang bambu berdiri miring, memeluk bara sejak pukul tiga pagi.

Di sanalah saya melihat Asmi (62), lebih dikenal sebagai Ibu Agung, menunduk tekun. Tangannya yang dibalut sarung tangan tebal sesekali menyentuh bambu, memastikan panas merata.

Wajahnya diterangi cahaya jingga api, memperlihatkan gurat usia sekaligus keteguhan yang tak lekang waktu.

Pukul 05.00 pagi, Kamis (26/2/2026), aktivitas itu sudah hampir memasuki tahap akhir. Lemang-lemang itu nyaris matang.

Anak Ibu Agung juga turut berdiri di sisi tungku, membolak-balik bambu agar tak gosong sebelah. Gerakannya cekatan, terlatih oleh waktu dan musim Ramadan yang datang silih berganti.

Setengah jam berselang, satu per satu lemang diangkat. Bunyi kayu berderak bersahut dengan desis bara. Ibu Agung meraih bambu-bambu panas itu, memasukkannya ke dalam ember besar yang sudah disiapkan. Tangannya mungkin tak lagi muda, tetapi geraknya tetap sigap. 

Padahal, proses panjang sudah dimulai jauh sebelum fajar.

Sejak pukul 01.00 dini hari, Ibu Agung telah memasukkan beras ketan yang sudah dicuci bersih dan direndam santan serta dibumbui garam, kemudian didiamkan sekitar setengah jam agar santan meresap sempurna.

Di dalam bambu, sudah terpasang daun pisang muda sebagai pelapis alami yang memberi aroma khas ketika dipanggang berjam-jam.

"Dari dulu caranya beginilah, memang harus dari pagi sekali," ujarnya pelan.

Tak ada mesin, tak ada teknologi. Hanya api, bambu pilihan, santan, dan kesabaran.

Bambu pun bukan perkara mudah. Menurutnya, tak semua bambu bisa dipakai. Harus yang berkualitas baik, tebalnya pas, tak mudah retak ketika dipanggang lama di atas bara.

Mencari bambu kini semakin sulit, sama sulitnya menjaga usaha tradisional tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

Ibu Agung sudah berjualan lemang sejak 2010 di Pasar Ramadan Masjid Jami Kota Pangkalpinang. Enam belas tahun bukan waktu yang singkat.

Dari masa ketika lemangnya bisa habis 150 batang sehari, hingga pandemi Covid-19 yang memukul penjualan secara drastis.

"Dulu bisa 150-an. Sekarang paling 50-an," katanya.

Lima puluh batang lemang itu setara sekitar 12 kilogram beras ketan. Jumlah yang mungkin terdengar kecil dibanding masa jayanya, tetapi selalu habis terjual setiap hari. Bahkan kadang sebelum pukul enam sore, lapaknya sudah kosong.

Ramadan memang membawa berkah tersendiri. Lemang Ibu Agung hanya dijual di bulan suci ini saja. Saat sore menjelang berbuka, deretan bambu berisi ketan itu mejeng di Pasar Ramadan Masjid Jami. 

Lemang itu bisa disantap dengan tape ketan hitam yang manis legit, atau disandingkan dengan rendang yang gurih dan berempah.

Harga pun ikut berubah mengikuti zaman. Jika pada 2010 satu batang lemang dijual Rp25 ribu, kini menjadi Rp40 ribu. Kenaikan harga bahan pokok, santan, hingga bambu membuat penyesuaian tak terhindarkan. 

Ibu Agung kini tak lagi kuat duduk lama di pasar. Usia membuat punggungnya cepat pegal, lututnya tak setangguh dulu. Karena itu, anak-anaknya mengambil alih berjualan. Mereka kompak membantu, dari proses memasak hingga menjaga lapak.

Namun satu hal tak pernah berubah, Ibu Agung tetap memastikan kualitas lemangnya. Ia yang mengawasi beras ketan direndam, ia yang memilih bambu, ia yang memastikan api tak terlalu besar atau terlalu kecil. Baginya, menjaga rasa berarti menjaga kepercayaan.

"Alhamdulillah, setiap hari habis," ucapnya.

Tak hanya Ramadan, menjelang Idul Fitri pesanan biasanya berdatangan. Lemang menjadi pelengkap meja hari raya, simbol kebersamaan dan tradisi yang terus hidup.

Enam belas tahun terakhir, lemang itu bukan sekadar makanan. Ia menjadi sumber penghasilan keluarga, menjadi pengikat kerja sama anak-anaknya, menjadi alasan api tetap menyala di halaman rumah setiap dini hari Ramadan.

Di tengah kota yang terus bergerak, di tengah makanan modern yang kian beragam, Ibu Agung memilih bertahan pada cara lama, membakar ketan dalam bambu di atas bara.

Ketika matahari akhirnya naik dan asap mulai menipis, halaman rumah itu kembali tenang. Bara perlahan padam, tetapi harapan tak pernah ikut redup.

Di tangan perempuan 62 tahun itu, lemang bukan sekadar ketan dan santan. Ia adalah kesetiaan pada tradisi, ketekunan yang tak mengeluh, dan keyakinan bahwa rezeki akan selalu datang bagi mereka yang sabar menjaga rasa.

Ramadan boleh datang dan pergi. Namun selama bara itu masih dinyalakan, selama bambu-bambu itu masih berdiri menghadap api, kisah Ibu Agung akan terus hidup, menghangatkan, seperti lemang yang matang perlahan dalam pelukan bara.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.