Lolos Teknik UI Tanpa Tes, Fathan Asal Bengkulu Punya Prestasi Olimpiade Sains Nasional saat SMA  
Rr Dewi Kartika H February 26, 2026 06:07 PM

TRIBUNJAKARTA.COM, DEPOK - Fathan Rizky Janathan (19) merupakan salah satu putra asal Bengkulu Utara yang berprestasi.

Ia mampu diterima menjadi mahasiswa Teknik Metalurgi dan Material Universitas Indonesia (UI) angkatan 2025 tanpa melalui tes tertulis alias melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).

Saat ini, Fathan memasuki semester II dalam menjalankan kuliahnya di UI. IPK-nya di semester pertama cukup membanggakan dan membuatnya berhasil mendapatkan beasiswa sampai tuntas dari salah satu perbankan.

"Alhamdulillah baru dapat beasiswa full dari BSI sampai 8 semester dan ada uang sakunya juga," kata Fathan saat berbincang dengan TribunJakarta.com di masjid dekat kampusnya kawasan Kukusan, Beji, Depok, Jawa Barat, Kamis (26/2/2026).

Berprestasi Sejak Sekolah

Sejak di masa sekolah, Fathan memang tergolong anak yang berprestasi meskipun harus berhadapan dengan keterbatasan ekonomi.

"Belajar otodidak saja, palinh belajar dari internet atau youtube," kata Fathan.

Semasa duduk di bangku SMA, Fathan aktif mengikuti kompetisi, khususnya Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Informatika. Pada 2023, Fathan pertama kali mencoba peruntungannya di ajang tersebut.

“Waktu itu ikut Olimpiade Sains Nasional bidang Informatika, tapi belum menang,” ujarnya.

Tak menyerah, Fathan kembali mengikuti kompetisi yang sama pada 2024. Usahanya membuahkan hasil. Ia berhasil meraih juara satu di tingkat kabupaten.

“Alhamdulillah dapat juara satu tingkat kabupaten. Habis itu lanjut ke provinsi, tapi belum rezeki juga,” katanya.

Adaptasi di Perantauan

Awalnya, Fathan sempat ragu mendaftar ke UI. Ia pernah mempertimbangkan Teknik Geologi di UGM atau FTTM ITB. Namun akhirnya ia memilih UI dan dinyatakan lolos.

Kini, ia perlahan beradaptasi sebagai mahasiswa perantau. Untuk sementara, ia baru mengikuti satu organisasi kampus karena masih dalam tahap penyesuaian.

"Kalau untuk saat ini kan memang baru semester awal ya jadi baru ikut satu organisasi aja. Tapi untuk tingkat kedua mungkin ini lebih pengen dibanyakin lagi organisasi," kata dia.

Bahagiakan Ibu

Ditanya soal cita-cita besarnya, sulung dari tiga bersaudara ini hanya ingin membahagiakan ibunya yang merupakan orangtua tunggal.

“Saya pengen bahagiain mama. Naikin derajat keluarga,” ucapnya.

Baginya, ibunya adalah idola sekaligus inspirasi terbesar.

“Perempuan bisa sekuat itu. Kadang saya ngerasa saya sendiri belum tentu bisa sekuat mama,” katanya.

Diminta Tinggal di Masjid

Kisah Fathan menyeruak setelah ibunya mempertimbangkan sang anak untuk tinggal sementara di masjid karena khawatir tak sanggup membayar kosan.

"Mas, maaf anak saya sekarang masih tinggal di kosan, cuma kemarin karena saya belum mampu bayar kostan anak saya, jadi saya berpikir lebih baik anak saya tinggal di masjid biar dia tetap bisa melanjutkan kuliahnya di UI.

Karena biaya kost di Jakarta sangat mahal menurut saya," ujar ibunda Fathan, Novi Hartati kepada TribunBengkulu.com.

Kalimat itu terucap bukan tanpa pergulatan. Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Novi memikul seluruh beban keluarga seorang diri.

"Masih di kos, rencananya begitu, karena saya tidak sanggup bayar biayanya lagi, saya minta dia tinggal di masjid.

Semalam saya ada dapat rezeki, saya kirim untuk bayar kosan, tapi untuk satu bulan," katanya.

Uang itu hanya cukup menunda kegelisahan selama sebulan. Setelahnya, ia belum tahu harus bagaimana.

Pedagang Kaki Lima

Setiap sore, Novi berdiri di Alun-alun Argamakmur, Bengkulu Utara. Ia berjualan burger dengan gerobak sederhana. Dari sanalah ia menghidupi tiga anaknya.

"Pekerjaan jualan berdagang, dagang makanan burger di alun-alun Argamakmur, Bengkulu Utara," tuturnya.

Fathan adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Adiknya yang kedua duduk di bangku SMA, sementara si bungsu masih SMP.

Namun, pendidikan anak kedua kini terancam tersendat karena lebih sering membantu sang ibu berjualan.

"Tapi anak kedua, antara sekolah dan tidak, karena membantu saya jualan. Katanya dia mau jualan saja untuk biaya kakak kuliah," tuturnya.

Akui Kosan Mahal

Fathan mengakui biaya kosan di kawasan sekitar kampus UI memang tergolong mahal. Biaya kos di tempatnya tinggal saja yakni mencapai Rp 1,2 juta perbulannya untuk ukuran satu petak.

"Itu termasuk yang paling murah. Rata-rata di sekitar sini itu udah di atas Rp 1,3 dan itu belum termasuk listrik. Kalau di tempat saya sudah sama listrik," ujarnya.

Ia sebenarnya sempat ditawari tinggal di asrama yang lebih murah. Namun jaraknya cukup jauh dari kampus dan harus melewati area hutan UI.

“Kata mama, enggak usah. Yang dekat saja biar fokus kuliahnya,” tuturnya.

Fathan menceritakan sebenarnya ia memiliki nenek yang tinggal di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Namun, oleh sang ibu, ia diminta untuk tinggal di kosan karena alasan faktor jarak.

"Sebenarnya kemarin itu saya sendiri mau di rumah nenek. Cuma kata mama itu nggak usah karena kejauhan gitu kan. Karena juga kegiatan kampus itu kadang sampai malam ya. Jadi cari yang deket aja gitu kan," kata Fathan.

"Kalau misalkan tinggal kot disini itu deket paling cuman 10 menit saya jalan kaki dari kosan ke kampus," lanjutnya.

Rajin Ibadah

Di sela aktivitas kuliah, Fathan banyak menghabiskan waktunya di masjid untuk beribadah sekaligus melepas lelah.

Termasuk di bulan Ramadan ini di mana ia kerap berbuka di masjid jika sedang tak ada kegiatan kuliah.

"Sebenarnya saya ngekos di dekat masjid. Cuma memang sering ke sini buat salat atau ibadah,”kata Fathan.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.