TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG — Dini memilih menghabiskan waktu menjelang berbuka dengan berjalan santai di kawasan Kota Lama Semarang.
Kamera ponselnya sibuk merekam sudut-sudut bangunan tua, sebelum akhirnya ia melangkah masuk ke Monod Diephuis untuk berbuka puasa.
Monod Diephuis merupakan bangunan bersejarah peninggalan Belanda yang didirikan tahun 1921.
Baca juga: Rekomendasi Bukber ala Fine Dining di Kawasan Kota Lama Semarang
Awalnya merupakan kantor pialang hasil bumi dan broker untuk NV Handel Maatschappij Kian Gwan milik Raja Gula, Oei Tiong Ham.
“Suasananya dapet banget. Sebelum buka bisa foto-foto dulu, pas adzan tinggal masuk,” ujar Dini, salah satu pengunjung buka puasa di gedung heritage tersebut, Jumat (27/2/2026).
Dini mengaku puas dengan sajian makanan yang disediakan.
Menu favoritnya adalah sop buntut bakar yang disajikan hangat.
“Rasanya enak, badannya langsung hangat, cocok banget setelah seharian puasa,” katanya.
Pengalaman Dini adalah potret dari konsep buka puasa yang dihadirkan Sonokembang Catering di Monod Diephuis.
Mengusung konsep open kitchen di bangunan bersejarah, Sonokembang mencoba menawarkan pengalaman berbuka yang tak sekadar soal rasa, tetapi juga suasana.
Manager Operasional Sonokembang Catering Semarang, Dhoby Perdana Putra, mengatakan pemilihan Monod Diephuis dilandasi keinginan menghadirkan nuansa berbeda dibanding buka puasa di hotel atau gedung konvensional.
“Kami ingin ngasih pengalaman yang beda. Bukan cuma makan, tapi menikmati tempat. Lidah dimanja, mata juga dimanja,” ujarnya.
Bangunan heritage itu disulap dengan tema klasik berpadu sentuhan Arabian.
Lampu-lampu temaram, ornamen ukiran, serta dekorasi bernuansa Timur Tengah membuat suasana terasa hangat dan estetik.
Penataan meja dibuat longgar, dengan jarak antarmeja diperlebar dan kapasitas dibatasi sekitar 150 orang demi kenyamanan tamu.
Meja disediakan untuk dua hingga delapan orang, bahkan bisa dikondisikan hingga 10 orang dalam ruang terbatas tanpa saling bersenggolan.
Pengunjung perorangan juga tetap dilayani, lengkap dengan ruang meeting bagi yang membutuhkan.
Untuk urusan kuliner, Sonokembang memilih tak mengejar jumlah.
Sekitar 20 menu disajikan, perpaduan Nusantara dan Arabian.
Mulai dari sup iga bakar, dimsum, chicken steak, aneka pasta, hingga kambing guling dengan nasi kebuli sebagai menu andalan.
Sajian penutup seperti puding, es krim gelato, kue manis, hingga gorengan dengan sambal kecap turut melengkapi.
“Kami lebih fokus ke kualitas dan rasa. Daripada terlalu banyak tapi bikin bingung,” kata Dhoby.
Buka puasa di Monod Diephuis berlangsung mulai 25 Februari hingga 15 Maret 2026 atau selama 19 hari.
Harga dibanderol Rp160 ribu per orang dewasa, Rp80 ribu untuk anak usia 5–10 tahun, sementara balita di bawah 5 tahun digratiskan.
Baca juga: Usai Berkeliling Kota Lama Banyumas, Rezal Penasaran Cicipi Street Coffee
Fasilitas baby chair juga disediakan untuk pengunjung yang membawa anak kecil.
Dhoby menambahkan, Sonokembang menyasar pengunjung dari dalam maupun luar Semarang.
Selain di Kota Lama Semarang, konsep serupa juga dibuka di Yogyakarta.“Biasanya orang buka puasa di hotel. Di sini beda. Buka puasa rasa kota lama, tapi tetap nyaman,” ujarnya. (Rad)