Curhat Warga Lubok Pusaka Aceh Utara: Ramadhan Masih di Tenda Darurat, Menanti Kepastian Relokasi
Mursal Ismail February 27, 2026 08:03 PM

Curhat Warga Lubok Pusaka Aceh Utara: Ramadhan Masih di Tenda Darurat, Menanti Kepastian Relokasi

SERAMBINEWS.COM, ACEH UTARA - Warga Dusun Tanah Merah, Desa Lubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, hingga Jumat (27/2/2026) masih bertahan di tenda-tenda darurat pascabanjir yang melanda kawasan tersebut.

Tokoh masyarakat sekaligus tokoh agama setempat, Tengku Amiruddin, mengungkapkan bahwa warga terpaksa membangun tempat perlindungan seadanya menggunakan material sisa, terpal dan bantuan tenda dari BNPB. 

Kondisi ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga melewati bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idulfitri karena belum adanya kepastian mengenai relokasi dari pihak pemerintah.

“Setelah Ramadhan ini, kita masih menginap di sini dan masih menghuni tempat-tempat ini karena belum ada titik terang dari pemerintah untuk kita direlokasi,”

“Kemungkinan kita selama Ramadhan ini masih di tenda-tenda darurat ini,” ujarnya, dalam keterangan diterima Serambinews.com.

Dalam sebuah video yang direkamnya, Amiruddin memperlihatkan deretan tenda darurat yang kini menjadi satu-satunya tempat berteduh bagi warga. 

Di balik terpal tipis yang terpasang seadanya itu, di sanalah para keluarga-keluarga tidur berhimpitan.

Baca juga: Listrik Masih Padam di Pedalaman Langkahan Aceh Utara Sejak Banjir Akhir November 2025

Ia menggambarkan kondisi permukiman yang sebelumnya padat kini berubah menjadi hamparan lumpur. 

Sekitar 100 unit rumah di kawasan tersebut tertimbun material banjir. 

Yang tersisa hanya bagian pondasi dan beton, sementara dinding, atap, serta perabotan rumah tangga hanyut terbawa arus dan tertimbun lumpur.

“Dulu di sininya rumah-rumah sangat padat. Namun sekarang kita lihat telah tertimbun dan hanya tinggal betonnya saja. Ini ada beberapa material rumah yang tersangkut di pohon-pohon,” sebut Amiruddin.

Sejumlah warga mengumpulkan seng, kayu, dan sisa bangunan lain yang masih layak pakai untuk didirikan kembali sebagai tempat tinggal sementara. 

“Beberapa material sudah dikumpulkan oleh warga kembali untuk bangunkan tempat tinggal sementara, seng-seng yang masih bisa layak pakai dipergunakan kembali,” ujarnya.

Di antara puing-puing, anak-anak tampak bermain di bekas lokasi rumah yang kini berubah menjadi lahan berlumpur.

Menurut Amiruddin, warga kemungkinan masih akan menempati tenda darurat hingga Ramadhan dan Hari Raya Idulfitri jika relokasi belum terealisasi. 

Ia mengkhawatirkan kondisi para lansia yang harus bertahan di bawah cuaca panas dalam keterbatasan tempat tinggal.

“Kita lihat kondisi para orang-orang tua dengan cuaca yang sangat panas, tidak mungkin mereka sanggup berlama-lama di tenda-tenda darurat ini. Maka kami mohon kepada pihak pemerintah untuk segera relokasikan kami,” pintanya.

Dari sisi logistik, Amiruddin menyebut bantuan kebutuhan pokok untuk sementara masih mencukupi hingga Hari Raya Idul Fitri.

Namun, persoalan besar lainnya adalah hilangnya peralatan rumah tangga yang hanyut terbawa banjir, mulai dari peralatan masak, perlengkapan tidur, hingga barang elektronik seperti kulkas.

Atas kondisi tersebut, warga Desa Lubok Pusaka meminta seluruh pihak terkait segera mengambil langkah konkret untuk mempercepat relokasi dan membantu pemulihan kehidupan mereka.

“Maka pada hari ini kami memohon dan meminta kepada seluruh pihak terkait untuk segera memperhatikan kami di Desa Lubok Pusaka ini,” ucap Amiruddin.

Pesantren di Lubok Pusaka Rusak Parah Diterjang Banjir

Banjir bandang yang melanda Desa Lubok Pusaka tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga menghancurkan sebuah pesantren yang selama ini menjadi pusat pendidikan agama bagi anak-anak setempat.

Bangunan yang dulunya merupakan sekolah milik Dinas Pendidikan itu telah lama beralih fungsi menjadi pesantren setelah sekolah dipindahkan ke lokasi lain. 

Aset tersebut kemudian diserahkan kepada desa dan dikelola sebagai lembaga pendidikan keagamaan. 

Namun kini, bangunan yang telah berdiri puluhan tahun itu mengalami kerusakan parah akibat terjangan banjir.

Amiruddin menjelaskan, sejumlah balai tempat belajar-mengajar santri dan guru hanyut dan rusak berat. 

Dari tiga balai utama yang sebelumnya digunakan untuk proses pembelajaran, sebagian besar kini tak lagi bisa difungsikan.

Musala pesantren pun tak luput dari kerusakan. Bangunan yang menjadi pusat ibadah santri itu kini hanya menyisakan lantai tanpa atas,

“Mushala hanya tinggal lantainya saja, tidak ada atap. Kami masih pakai tenda, namun tenda tidak mencukupi,” ujarnya.

Asrama santri serta rumah dewan guru juga mengalami kerusakan berat. 

Beberapa bangunan yang sebelumnya dibangun melalui dukungan pemerintah daerah kini tak lagi layak huni. 

Material bangunan yang masih tersisa dikumpulkan dan ditumpuk, dengan harapan dapat digunakan kembali saat proses pembangunan ulang dimulai.

Namun keterbatasan dana membuat perbaikan belum dapat dilakukan. 

Pengelola pesantren memilih menunggu bantuan dan perhatian dari berbagai pihak untuk memulihkan kembali sarana pendidikan tersebut.

“Kami ingin membangun kembali, cuma kondisi dana sangat terbatas. Untuk sementara kami memilih untuk diam. Kami menunggu perhatian daripada pihak-pihak yang ingin membantu di pesantren ini,” pungkasnya.

(Serambinews.com/Agus Ramadhan)

Bergabunglah Bersama Kami di Saluran WhatsApp SERAMBINEWS.COM 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.