Lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) sempurna 4,00, mahasiswa program Magister Rancang Kota Institut Teknologi Bandung (ITB), Kelvin Narada Gunawan merancang desain kota pesisir berbasis iklim dengan potensi penurunan suhu udara hingga sekitar 2 derajat Celcius.
Kelvin juga meraih predikat Tesis Terbaik S2 Rancang Kota ITB Tahun 2024, oleh lingkungan akademik Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK). Tesis tersebut berjudul "Design Review Kota Iklim Pesisir dengan Pendekatan Climate Sensitive Urban Design". Tesisnya telah menjawab pertanyaan mendasar terkait konsep kota pesisir di Indonesia.
Berawal dari pengamatannya tentang kondisi iklim wilayah pesisir Indonesia, yang khas dengan angin kencang, tingkat kelembapan tinggi, serta dinamika angin darat dan laut. Ia menilai hal tersebut berpotensi untuk dikembangkan melalui konsep kota pesisir.
Hawa di area pesisir dapat meningkat lebih panas lagi, dan juga lembab jika desain kotanya tidak tepat. Kondisi tersebut akan menjadikan masyarakat tidak bisa hidup tanpa pendingin ruangan, dan tidak nyaman beraktivitas di luar ruang.
"Jika kota pesisir salah didesain, bukannya menjadi lebih nyaman. Orang yang berjalan kaki malah bisa merasa lebih gerah karena kelembapannya lebih tinggi dibanding kota di wilayah dalam daratan. Selain itu, angin yang terlalu kencang juga dapat menimbulkan perasaan 'masuk angin' bagi pejalan kaki," ujar Kelvin, dikutip laman resmi ITB (27/2/2026).
Rancangannya Berpotensi Turunkan Suhu sampai 2°C
Posisi kota yang dekat dengan pantai, memiliki karakteristik iklim yang berbeda dengan daratan pada umumnya. Itulah sebabnya area tersebut memiliki, angin laut yang berhembus kencang, udara yang sangat lembab, serta ciri khas angin darat dan laut. Kondisi alam tersebut, dinilai sebagai peluang untuk menciptakan kota pesisir yang lebih sejuk serta hemat energi.
Maka dari itu, Kelvin merancang konfigurasi kawasan pusat kota pesisir lewat pendekatan Climate Sensitive Urban Design dan simulasi mikroklimat berbasis ENVI-met. Pada iklim tropis Indonesia, desainnya dinilai mampu menurunkan suhu panas kota pesisir hingga 2°C.
Dengan melakukan simulasi mikroklimat, ia menilai konfigurasi bentuk bangunan tertentu dapat mengatur kecepatan angin yang dapat dinikmati manusia tanpa merusak potensi angin laut. Selain itu, ruang terbuka hijau yang ditanami pepohonan, taman dengan fitur air mancur serta water misting, juga dapat mengatur temperatur dan kelembapan area tersebut.
Dalam kasus ini, area pesisir kota Jakarta dan Banten dipilih sebagai lokasi yang mampu merepresentasikan kota pesisir yang bertumbuh.
Sedang Dikembangkan Jadi Buku
Desain kota pesisir yang inovatif karya anak bangsa ini tidak hanya diakui di lingkungan akademik internal ITB, tapi juga sudah dipresentasikan dan mendapat apresiasi dari berbagai forum dan publikasi ilmiah, seperti forum internasional Urban Design Lab - UDL Thesis Publication 2025. Penelitian Kelvin juga sudah terbit pada Jurnal Teknosains Universitas Gadjah Mada (terakreditasi SINTA 2) dengan judul "Optimization of Urban Thermal Environment for Indonesia Coastal-Climate Urban Area: a Microclimatic Modelling"
Lebih lanjut, ide brilian ini rencananya akan disampaikan kepada pemangku kebijakan pengembangan kawasan perkotaan di Indonesia. Karena potensi yang dikembangkan, dinilai aplikatif dan relevan untuk rancangan area pesisir dan waterfront.
Adapun tesis milik Kelvin ini tengah dikembangkan menjadi buku ber-ISBN, yang diharapkan dapat menjadi rujukan akademik, perencanaan kota, hingga pemerintah dan pemangku kebijakan lainnya terkait perancangan kota pesisir yang adaptif terhadap iklim tropis dan berkelanjutan.
Sekarang ini Kelvin berkarier sebagai Manager Masterplan & Business Development perusahaan pengembang kawasan industri swasta di Indonesia. Di sana, ia terlibat dalam penyusunan masterplan kawasan industri dan infrastruktur, studi kelayakan, serta pengembangan proyek skala kawasan yang mengintegrasikan aspek desain, bisnis, dan keberlanjutan.
Pencapaian Kelvin menjadi bukti riset rancang kota tidak berhenti pada tumpukan lembar akademik saja, tetapi bisa berdampak; diuji secara ilmiah; diapresiasi di tingkat internasional; dan relevan untuk diaplikasikan secara praktik. Prestasinya ini diharapkan dapat menginspirasi generasi muda perancang kota untuk menghasilkan karya adaptif, berkelanjutan, dan mampu berkontribusi di masa depan.







