BANJARMASINPOST.CO.ID RANTAU - Aroma santan yang dipadu wangi daun pisang dan bambu terbakar menyeruak di sepanjang Jalan Brigjen Hasan Basri, Kelurahan Rantau Kiwa, Kecamatan Tapin Utara, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.
Di kawasan inilah sentra pedagang makanan khas Banjar, Lamang Rantau, menggeliat setiap Ramadan. Deretan bambu berisi ketan bersantan tersusun rapi, menggoda siapa saja yang melintas.
Salah satu pedagang yang setia bertahan adalah Wanti. Perempuan ini sudah lima tahun terakhir mengais rezeki dari berjualan lamang setiap bulan puasa.
“Alhamdulillah, dari jualan lamang ini bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan belanja anak-anak,” ujarnya, sembari melayani pembeli, Jumat (27/2/2026).
Baca juga: Buah Hutan Langka Mulai Banjiri Rantau Tapin, Ada Mantawala dan Pempaken
Baca juga: Diduga Setubuhi Anak di Bawah Umur, Pria Paruh Baya di Tabalong Dibekuk Polisi
Lamang yang dijajakan Wanti bukan produk titipan. Semua diolah sendiri dari rumahnya di Desa Binderang, Kecamatan Lokpaikat, Kabupaten Tapin.
Sejak pagi, ia sudah menyiapkan beras ketan yang dicampur santan, lalu dimasukkan ke dalam bambu yang telah dilapisi daun pisang sebelum dibakar hingga matang.
Dalam sehari, Wanti bisa menghabiskan sekitar 7 bambu lamang. Jika sedang sepi, paling sedikit tak kurang dari 5 bambu tetap terjual.
Satu potong lamang dibanderol Rp 20 ribu. Teksturnya lembut dan gurih, cocok disantap sendiri maupun bersama keluarga saat berbuka puasa.
Bagi penikmat rasa yang lebih kaya, tersedia tambahan cocolan bumbu sate seharga Rp 5 ribu. Ada pula telur bebek asin seharga Rp 5 ribu yang menambah sensasi gurih dan legit di lidah.
Di antara pembeli yang datang, terlihat Fauzi, warga Kelurahan Binuang, Kecamatan Binuang. Ia sengaja mampir untuk mencicipi lamang di Kota Rantau.
“Sebenarnya di Binuang juga ada yang jual lamang. Kebetulan tadi bawa anak berobat ke RSUD Datu Sanggul Rantau, jadi sekalian mampir beli Lamang Rantau,” katanya.
Baginya, lamang bukan sekadar makanan pengganjal lapar. Ada rasa tradisi yang sulit tergantikan oleh makanan cepat saji atau kuliner kekinian yang kini menjamur.
Di tengah maraknya aneka hidangan modern, lamang tetap punya tempat tersendiri di hati masyarakat Banjar. Kesederhanaannya justru menjadi kekuatan.
Dari bambu yang dibakar perlahan, tersimpan cerita tentang ketekunan, keluarga, dan tradisi Ramadan yang terus menyala dari tahun ke tahun di Kota Rantau.
(Banjarmasinpost.co.id/ Mukhtar Wahid)