Masuk Daftar Kota Terbersih Asia Tenggara, Ini 7 Fakta Kota Bukittinggi
GH News February 27, 2026 10:10 PM
Jakarta -

Kota Bukittinggi berhasil meraih nominasi kota terbersih di Asia Tenggara dalam ASEAN Tourist Awards. Simak fakta Bukittinggi yang mungkin belum diketahui.

Kabar gembira datang dari Sumatera Barat. Bukittinggi berhasil mencatat prestasi internasional dan masuk dalam daftar kota terbersih di Asia Tenggara.

Melansir , Jumat (27/2/2026), Bukittinggi menjadi salah satu kota dalam The 5th ASEAN Clean Tourist City Award. Penghargaan itu diberikan dalam rangkaian ajang ASEAN Tourism Awards.

Ajang bergengsi ini diselenggarakan oleh ASEAN dan dilangsungkan di Cebu, Filipina pada Jumat (30/1/2026), sebagai bagian dari rangkaian ASEAN Tourism Forum (ATF) 2026.

ASEAN Clean Tourist City 2026 merupakan salah satu kategori penghargaan yang diberikan kepada kota-kota di kawasan Asia Tenggara yang dinilai memenuhi standar kebersihan, pengelolaan lingkungan, serta kualitas layanan pariwisata.

Penghargaan ini tidak hanya menyoroti kebersihan fisik kota, tetapi juga sistem tata kelola destinasi, fasilitas umum, serta komitmen terhadap pembangunan pariwisata berkelanjutan.

Bukittinggi menjadi satu dari lima daerah di Indonesia yang berhasil meraih predikat tersebut. Selain Bukittinggi, kota dan kabupaten lain yang turut menerima penghargaan adalah Kota Malang, Kota Surakarta, Kabupaten Gianyar, dan Tomohon.

Apa saja fakta menarik dari Kota Bukittinggi yang belum banyak diketahui? Melansir situs resmi Bukittinggi dan detiksumut, Jumat (27/2), berikut sejumlah fakta Kota Bukittinggi yang wajib diketahui!

Fakta-fakta Kota Bukittinggi, Sumatera Barat

1. Pernah Jadi Ibu Kota Indonesia

Tahukah detikers, pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), Kota Bukittinggi dipilih sebagai ibu kota sementara Republik Indonesia. Hal ini terjadi pada tahun 1948 ketika pasukan Belanda kembali menyerang ibu kota Indonesia Yogyakarta.

Pada saat itu, Belanda menyerang tiga kota yang menjadi jantung utama pemerintahan Indonesia yaitu Yogyakarta, Bukittinggi, dan Lubuk Linggau. Pemerintah di Yogyakarta kemudian mengeluarkan mandat untuk pemerintahan di luar Pulau Jawa mengambil alih pemerintahan dalam masa darurat.

Salah satu tokoh penting dalam peristiwa ini adalah Syafruddin Prawiranegara dan sejumlah tokoh lain di Bukittinggi. Pada 21 Desember 1948 tokoh-tokoh ini menggelar rapat darurat untuk kembali menyusun pemerintahan sipil Indonesia di Sumatera.

Dua hal penting yang menjadi hasil rapat tersebut adalah pembekuan sementara provinsi-provinsi di Sumatera dan pengutusan tiga gubernur Sumatera sebagai koordinator DPD, serta mengumumkan pendirian PDRI di Sumatera Barat ke seluruh Indonesia.

2. Nama Masa Kolonial: Fort de Kock

Benteng Fort de Kock di BukittinggiBenteng Fort de Kock di Bukittinggi (Dok. Situs Resmi Kemendikbud)

Pada masa Pemerintahan Kolonial, Kota Bukittinggi dikenal sebagai Fort de Kock. Nama ini diambil dari nama perwira Belanda, Hendrik Merkus de Kock. Kota ini dikuasai Belanda sejak 1837 setelah berhasil mengalahkan kaum Padri dalam Perang Belanda dan masyarakat adat yang dikenal dengan Perang Padri.

Kota Bukittinggi juga dijadikan sebagai ibu kota residesi Padangsche Bovenlanden atau Padang Dataran Tinggi. Kota ini dijadikan sebagai tempat peristirahatan para opsir dengan wilayah jajahan bagian timur.

3. Kota Paris van Sumatera

Pengunjung menikmati suasana alam di Taman Panorama Baru Bukittinggi, Sumatera Barat, Sabtu (24/2/2024). Objek wisata yang berada sekitar lima kilometer dari pusat kota tersebut menyajikan wisata alam dan panorama Ngarai Sianok dengan tiket masuk Rp5000 per orang.  ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/tom.Pengunjung menikmati suasana alam di Taman Panorama Baru Bukittinggi, Sumatera Barat. (Iggoy el Fitra/Antara)

Jika Jawa punya Bandung sebagai kota budaya dan sejarah untuk julukan Paris van Java maka Sumatera memiliki Bukittinggi yang jadi salah satu kota yang dijuluki Paris van Sumatera.

Bukittinggi mendapatkan predikat Paris van Sumatera sejak era kolonial Belanda. Sebutan itu muncul karena kota ini berkembang sebagai pusat perdagangan, pendidikan, dan gaya hidup modern di Sumatera Barat pada masanya, mirip citra Paris sebagai kota kosmopolitan di Eropa.

Tata kota yang relatif tertata serta keberadaan bangunan-bangunan bergaya kolonial ikut memperkuat julukan tersebut.

Selain faktor sejarah, udara sejuk pegunungan dan panorama alam di sekeliling Bukittinggi membuatnya tampil memesona. Ikon seperti Jam Gadang dan panorama Ngarai Sianok menjadikan kota ini bukan hanya pusat budaya Minangkabau, tetapi juga destinasi wisata yang elegan dan romantis-selaras dengan citra Paris-nya Sumatera.

4. Pusat Perdagangan Grosir di Sumatera

Kota Bukittinggi dikenal sebagai pusat perdagangan grosir terbesar di Pulau Sumatera, khususnya untuk komoditas tekstil dan pakaian.

Sentra perdagangan tersebut terpusat di beberapa pasar legendaris, seperti Pasar Ateh, Pasar Bawah, dan Pasar Aur Kuning. Aktivitas perdagangan di kota ini telah berlangsung sejak lama dan menjadi salah satu penggerak utama roda perekonomian masyarakat.

5. Kota Terbesar Kedua di Sumatera Barat

Warga berbincang saat Gunung Marapi mengeluarkan abu vulkanik yang terlihat dari kaki Gunung Singgalang, Nagari Pandai Sikek, Tanah Datar, Sumatera Barat, Minggu (7/1/2024). Gunung Marapi kembali erupsi pada awal tahun 2024 dan mengeluarkan suara gemuruh serta dentuman pada Sabtu (6/1/2024) malam. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/aww.Gunung Marapi mengeluarkan abu vulkanik yang terlihat dari kaki Gunung Singgalang, Nagari Pandai Sikek, Tanah Datar, Sumatera Barat, Minggu (7/1/2024). (Iggoy el Fitra/Antara)

Secara administratif, kota ini menjadi kota terbesar kedua di provinsi Sumatera Barat setelah Kota Padang. Secara de jure, luas wilayahnya mencapai 145,29 km², tetapi secara faktual hanya 25,24 km² karena beberapa warga menolak perluasan wilayah.

Kota ini berada di ketinggian 780-950 mdpl dan berada pada rangkaian Bukit Barisan. Kota Bukittinggi dikelilingi tiga gunung berapi yaitu Gunung Marapi, Gunung Sago, dan Gunung Singgalang.

6. Ikon Jam Gadang yang Unik

Foto udara pekerja mengecat ulang monumen Jam Gadang di Bukittinggi, Sumatera Barat, Minggu (23/3/2025). Pemkot Bukittinggi mengecat ulang bangunan cagar budaya yang diresmikan pada tahun 1927 itu sekaligus membenahi kawasan pedestrian untuk menyambut kedatangan wisatawan pada momen Lebaran 2025.  ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/rwa.Foto udara Jam Gadang di Bukittinggi, Sumatera Barat (Iggoy el Fitra/Antara)

Jam Gadang merupakan landmark utama Kota Bukittinggi yang berdiri megah di jantung kota dan menjadi simbol kebanggaan masyarakat setempat. Dibangun pada tahun 1926 pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Menara ini memiliki ketinggian 26 cm dengan ciri khasnya menggunakan mesin jam buatan Vortmann Recklinghausen, Jerman, yang disebut-sebut serupa dengan mesin jam yang digunakan pada Big Ben, London dan diklaim hanya ada dua unit di dunia.

7. Lanskap Alam yang Spektakuler

tempat foto ngrai sianokTempat foto Ngarai Sianok (detik)

Kota Bukittinggi dikenal memiliki lanskap alam yang spektakuler berkat letaknya yang berada di dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut. Salah satu panorama paling ikonik adalah Ngarai Sianok, lembah hijau dengan tebing curam dan aliran sungai yang membentang indah.

Dari berbagai sudut kota, pengunjung juga dapat menyaksikan kemegahan Gunung Singgalang dan Gunung Marapi yang menjulang di kejauhan, menambah kesan megah pada lanskap Bukittinggi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.