TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan ultimatum keras kepada Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Dalam pernyataan video yang diunggah melalui platform Truth Social pada Sabtu (28/2/2026), Trump menyerukan agar seluruh anggota IRGC dan aparat kepolisian Iran segera menyerah dan meletakkan senjata.
“Letakkan senjata kalian. Kalian akan diperlakukan secara adil dengan kekebalan total, atau kalian akan menghadapi kematian yang pasti,” tegas Trump dalam pernyataannya, sebagaimana dikutip dari News18
Ultimatum tersebut disampaikan di tengah eskalasi konflik Iran–Israel yang kian memanas setelah serangan rudal Israel dilaporkan meluas ke enam kota di Iran.
Trump menggambarkan rezim Iran sebagai ancaman yang terus berkembang terhadap keamanan Amerika dan sekutunya, terutama terkait program nuklir serta kemampuan misil balistik Teheran yang dianggap mampu menargetkan wilayah AS dan kawasan sekutu.
Ia menilai pendekatan diplomasi telah gagal dan karena itu mengerahkan kekuatan militer untuk “menghilangkan ancaman nyata dari rezim Iran.”
Pernyataan keras Donald Trump terhadap IRGC menandai babak baru dalam konflik yang kini melibatkan tiga aktor utama: Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Desakan agar Garda Revolusi Iran menyerah dengan iming-iming kekebalan total dipandang sebagai tekanan psikologis sekaligus pesan politik bahwa Washington siap terlibat lebih jauh dalam konflik ini.
Adapun gertakan dilontarkan Trump usai konflik terbaru pecah setelah Israel meluncurkan serangan pendahuluan ke sejumlah wilayah strategis Iran pada Sabtu pagi waktu setempat.
Awalnya, rudal dilaporkan menghantam Teheran, Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah. Namun, perkembangan terbaru menyebut dua wilayah tambahan, yakni Lorestan dan Tabriz, juga menjadi sasaran.
Baca juga: Wilayah Iran yang Dirudal Israel Bertambah, 6 Kota Jadi Sasaran
Laporan dari Fars News Agency menyebutkan suara ledakan keras terdengar di beberapa titik strategis. Kepulan asap tebal membumbung tinggi dari lokasi yang diduga terdampak serangan.
Televisi pemerintah Iran turut menayangkan gambar asap hitam pekat dari area terdampak. Infrastruktur jalan dan sejumlah fasilitas penting dilaporkan mengalami kerusakan, meski hingga kini otoritas Iran belum merinci jumlah korban maupun tingkat kehancuran secara detail.
Adapun serangan Israel ke Iran tidak berlangsung sendiri. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka mengonfirmasi bahwa militer AS turut terlibat dalam operasi gabungan tersebut.
Trump menyebut operasi tersebut sebagai langkah militer skala besar untuk menghilangkan ancaman terhadap Amerika Serikat.
“Belum lama ini, militer AS memulai operasi tempur besar-besaran di Iran. Tujuan kami adalah untuk membela rakyat Amerika dengan melenyapkan ancaman dari rezim Iran,” ujar Trump, mengutip dari Al Jazeera.
Ia juga menyinggung kepemimpinan Iran di bawah Ali Khamenei yang disebutnya selama puluhan tahun mengancam stabilitas dan kepentingan Amerika.
Pernyataan ini menegaskan keterlibatan langsung Washington dalam konflik yang sebelumnya dipandang sebagai operasi militer Israel semata.
Konfirmasi tersebut menandai babak baru dalam ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, serta meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
(Tribunnews.com / Namira)