Ayatollah Ali Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran yang Paling Diincar Amerika dan Israel
Iwan Al Khasni March 01, 2026 10:14 AM

 

Tribunjogja.com -  Amerika Serikat dan Israel melancarkan putaran baru serangan terhadap Iran, kembali menggagalkan perundingan mengenai program nuklir Iran dan menimbulkan pertanyaan tentang upaya menargetkan aparat keamanan serta kepemimpinan negara tersebut.

Di antara lokasi yang diserang pada hari Sabtu di ibu kota Iran, Teheran, terdapat tempat-tempat yang terkait dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei.

Siapakah Ayatollah Ali Khamenei pemimpin tertinggi Iran yang kini paling diincar oleh dua agresor Amerika Serikat dan Israel. 

Dilansir dari Aljazeera, Ayatollah Ali Khamenei mengambil alih kepemimpinan Republik Islam pada tahun 1989 setelah wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini, pemimpin karismatik yang memimpin revolusi Islam satu dekade sebelumnya.

Jika Khomeini adalah kekuatan ideologis di balik revolusi yang mengakhiri kekuasaan monarki Pahlavi, maka Khamenei yang membentuk aparat militer dan paramiliter yang menjadi pertahanan Iran terhadap musuh-musuhnya sekaligus memberi pengaruh jauh melampaui batas negara.

Sebelum menjadi pemimpin tertinggi, ia memimpin Iran sebagai presiden dalam perang berdarah melawan Irak pada 1980-an. Konflik yang melelahkan itu, ditambah rasa terisolasi di kalangan rakyat Iran karena negara-negara Barat mendukung pemimpin Irak Saddam Hussein, memperdalam ketidakpercayaan Khamenei terhadap Barat secara umum dan Amerika Serikat secara khusus, menurut para analis.

Sentimen itu menjadi dasar pemerintahannya selama puluhan tahun dan memperkuat gagasan bahwa Iran harus selalu berada dalam keadaan siaga menghadapi ancaman eksternal maupun internal.

“Orang-orang menganggap [Iran] sebagai teokrasi, karena ia [Khamenei] mengenakan sorban dan bahasa negara adalah bahasa agama. Namun kenyataannya, ia adalah presiden masa perang yang keluar dari perang dengan asumsi bahwa Iran rentan dan membutuhkan keamanan,” kata Vali Nasr, pakar urusan Iran dan penulis Iran’s Grand Strategy: A Political History. 
“Bahwa AS bermusuhan dengan Iran; dan bahwa revolusi, republik Islam, serta nasionalisme tidak terpisahkan, sehingga harus dilindungi.”

Dalam visi ini, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berkembang dari pasukan paramiliter menjadi institusi keamanan, politik, dan ekonomi yang kuat, serta menjadi pusat pengaruh Iran di kawasan. Khamenei juga mendorong “ekonomi perlawanan” untuk menumbuhkan kemandirian menghadapi sanksi Barat, mempertahankan sikap skeptis terhadap keterlibatan dengan Barat, dan merespons keras kritik yang menilai fokusnya pada pertahanan menghambat reformasi yang sangat dibutuhkan.

Namun pemerintahannya diuji berkali-kali, termasuk pada 2009 ketika demonstran turun ke jalan menentang hasil pemilu presiden yang mereka klaim curang, dan pada 2022 terkait hak-hak perempuan.

Tantangan terbesar mungkin datang pada Januari lalu, ketika protes akibat kesulitan ekonomi berkembang menjadi gejolak nasional, dengan banyak demonstran secara langsung menyerukan penggulingan Republik Islam. Respons aparat memicu salah satu konfrontasi paling keras sejak revolusi 1979.

Para pengkritik menilai ia terlalu jauh dari realitas generasi muda yang menginginkan reformasi dan perbaikan ekonomi, bukan isolasionisme dan bayang-bayang perang abadi dengan AS dan Israel.

“Iran membayar harga terlalu mahal atas penekanan berlebihan pada kemandirian nasional – dalam prosesnya, ia kehilangan dukungan rakyat karena mereka tidak lagi percaya pada kebijaksanaan kemandirian itu,” kata Nasr.

Pendidikan

Lahir pada 1939 di kota suci Syiah Mashhad, Iran timur laut, Khamenei adalah putra seorang pemimpin Muslim ternama dan etnis Azerbaijan dari Irak. Keluarganya sempat menetap di Tabriz sebelum pindah ke Mashhad, tempat ayahnya memimpin sebuah masjid Azerbaijan.

Khamenei menggambarkan ibunya, Khadijeh Mirdamadi, sebagai pembaca Al-Qur’an dan buku yang tekun, yang menanamkan kecintaan pada sastra dan puisi, serta mendukungnya bergabung dalam gerakan menentang dinasti Pahlavi.

Ia mulai belajar Al-Qur’an pada usia empat tahun dan menempuh pendidikan dasar di sekolah Islam pertama di Mashhad. Ia tidak menyelesaikan sekolah menengah, melainkan masuk sekolah teologi dan belajar dari ulama ternama, termasuk ayahnya dan Sheikh Hashem Ghazvini. Kemudian ia melanjutkan studi di pusat pendidikan Syiah di Najaf dan Qom.

Di Qom, ia belajar dari dan dekat dengan sejumlah ulama terkenal, termasuk Ayatollah Khomeini, yang populer di kalangan mahasiswa muda karena sikap menentangnya terhadap shah.

Khamenei mengajar kursus fikih dan tafsir teologi publik, yang memberinya akses ke audiens yang semakin besar, terutama mahasiswa muda yang mulai kecewa dengan monarki.

Sebagai aktivis politik, ia berulang kali ditangkap oleh polisi rahasia shah (SAVAK) dan diasingkan ke kota Iranshahr, Iran tenggara, sebelum kembali ikut serta dalam protes 1978 yang menggulingkan Pahlavi.

Pemimpin Tertinggi

Setelah monarki digulingkan, Khamenei menjadi tokoh penting dalam membangun Iran baru. Ia sempat menjabat menteri pertahanan pada 1980 dan kemudian mengawasi IRGC setelah pecahnya perang Iran-Irak. Sebagai orator ulung, ia juga menjadi imam salat Jumat di Teheran.

Tahun 1981 menjadi titik penting: ia kehilangan fungsi lengan kanan akibat percobaan pembunuhan oleh kelompok oposisi MEK, dan di tahun yang sama terpilih sebagai presiden, menjadi presiden ulama pertama Iran.

Pada 1989, wafatnya Khomeini menjadi titik balik. Dewan revisi konstitusi menunjuk Khamenei sebagai pemimpin tertinggi, meski ia tidak memenuhi syarat ulama tinggi. Ia sendiri sempat berkata, “Saya percaya saya tidak pantas menduduki posisi ini; mungkin Anda dan saya tahu hal ini. Ini akan menjadi kepemimpinan simbolis, bukan nyata.”

Namun kepemimpinannya terbukti jauh dari simbolis.

Masa awalnya sebagai ayatollah ditandai dengan upaya membangun kembali negara yang hancur akibat perang delapan tahun dengan Irak. Lebih dari satu juta orang tewas, ekonomi porak-poranda, dan rakyat marah atas sikap dunia internasional yang dianggap pasif terhadap penggunaan senjata kimia oleh Irak.

Sebagai presiden, Khamenei sering mengunjungi garis depan, mendapatkan loyalitas IRGC dan pemahaman langsung tentang realitas perang.

“Dia adalah pemimpin yang terbentuk dari perang dengan Irak – itu membentuk pandangannya tentang politik domestik dan luar negeri. Setelah menjadi pemimpin tertinggi, ia fokus membangun aparat militer dan paramiliter untuk bertahan dan terus melawan,” kata Narges Bajoghli, profesor antropologi dan studi Timur Tengah di Universitas Johns Hopkins.

Namun suasana mulai berubah pada 1990-an. Negara membutuhkan investasi, sementara semangat revolusi mulai mereda. Reformis Mohammad Khatami memenangkan pemilu 1997 dengan agenda keterbukaan terhadap Barat.

Meski begitu, skeptisisme Khamenei terhadap Barat tetap kuat. Ia melihat suara reformasi sebagai ancaman, sehingga membangun basis pendukung loyal untuk melawan reformis.

Ia memberi IRGC keleluasaan membangun jaringan bisnis yang mendominasi ekonomi Iran dan memperkuat pelatihan paramiliter, khususnya bagi generasi muda Basij. Pasukan inilah yang kemudian dikerahkan untuk menekan protes besar pasca pemilu 2009 yang dimenangkan Mahmoud Ahmadinejad.

Gerakan Hijau menjadi tantangan terkuat bagi kepemimpinannya, dengan ratusan ribu orang turun ke jalan menentang hasil pemilu. Ribuan ditangkap dan puluhan tewas. Pemerintah menuduh Barat menghasut kerusuhan untuk menggulingkan pemerintahan agama. (*)

• Sekolahan di Iran Jadi Target Serangan Udara Israel, 57 Siswa Gugur

• Siapa Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Iran yang Diklaim Trump Tewas dalam Serangan AS-Israel?

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.