Oleh: Anshar A Rahman
Praktisi Manajemen, Bekerja di Kalla Group
"It's more important to do the right things than to do things right."
— Peter F. Drucker
TRIBUN-TIMUR.COM - Ada perbedaan tegas dan menentukan antara doing things right dan doing right things. Yang pertama berbicara tentang ketepatan cara: prosedur diikuti, aturan ditaati, target tercapai. Yang kedua berbicara tentang ketepatan arah: apakah yang kita kerjakan memang layak dikerjakan? Apakah tujuan yang kita kejar benar?
Seseorang bisa sangat efisien, sangat disiplin, sangat rapi—namun mengerjakan hal yang keliru. Ia ibarat pelari yang berlari kencang, tetapi menuju arah yang salah. Doing the things right adalah soal teknis; doing the right things adalah soal pilihan mengerjakan yang benar dan keberanian menentukan prioritas. Di situlah kedalaman makna kutipan Drucker: efektivitas mendahului efisiensi.
Sayangnya, budaya doing the right things belum sepenuhnya menjadi arus utama—baik dalam manajemen perusahaan maupun dalam pengelolaan negara. Di banyak organisasi, ukuran keberhasilan berhenti pada laporan yang rapi, grafik yang menanjak, dan presentasi yang meyakinkan. Manajer dinilai dari kemampuannya memenuhi target jangka pendek, bukan dari keberaniannya mempertanyakan apakah yang sudah dikerjakannya dan menjadi aturan sudah benar dan bermakna. Para manajer dan direktur dipanggil sebagai leaders tetapi dominan dicekoki dengan aspek manajerial dan bukan aspek leadership, padahal seperti kata Drucker “management is doing things right, leadership is doing right things”.
Berangkat dari pengalaman pekerjaan sekedar sebagai contoh, mendahulukan prosedur aturan dari pada menjaga relasi jangka panjang dengan pelanggan yang berpotensi repeat order padahal hanya penambahan volume dan bukan kontrak baru, kenapa memaksakan ada lagi persyaratan down payment, akhirnya merusak hubungan baik yang susah payahdibangun. Selain itu, prosedur insentif sales yang lama padahal insentif itu bertujuan untuk memotivasi berubah menjadi demotivasi. Lain lagi pengalaman seorang teman di sebuah perusahaan swasta menengah, uang perjalanan yang menghemat, efisien sih tapi jadi tidak efektif karena level menengah jadi malas mencari proyek “masa’ kalau kita disnaker Jakarta, disuruhnya kita makan di warteg, padahal kita keliling bermobil ada sopir dan mengurus proyek miliaran” celetuk teman tersebut gemas. Mungkin, semua yang dicontohkan itu sudah melaksanakan the things right tapi itu juga sudah the right things?
Dalam tata kelola bernegara, kita pun sering menyaksikan kebijakan yang dikerjakan dengan sangat sistematis, tetapi kehilangan roh keberpihakan pada kepentingan jangka panjang rakyat. Kebijakan terupdate pemerintah kita yang terjebak pada perjanjian dagang AS –Indonesia yang bukan hanya sekedar persoalan tarif tapi lebih jauh ada banyak jebakan batman di dalamnya yang akan mencederai komitmen founding fathers kita di sisi kebijakan luar negeri yang bebas aktif dengan posisi non-blok. Tempo.co menyatakan secara ekplisit “Perjajian Dagang: RI wajib Ikut jika AS Boikot Negara Lain”. Hal lain yang tidak menunjukkan doing the right things adalah kalimat ini “…Indonesia will provide certainty regarding the ability to transfer personal data out of its territory to the United States.” yang penulis baca di whitehouse.gov. Tafsirnya tidak akan berubah walaupun sudah dijawab oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian RI melalui juru bicaranya bahwa transfer personal data tersebut dilindungi oleh UU Perlindungan Data Pribadi. Bagaimana bisa mempercayai yurisdiksi mereka, sementara kedaulatan data kita sepertinya dikorbankan demi keuntungan ekonomi.
Belum lagi kita bicara impor mobil dari India sebanyak 105 ribu unit untuk kebutuhan koperasi merah putih? Kalau Cuma persoalan spesifikasi dan harga ekonomis bisa dirancang untuk menghidupkan industri otomotif nasional dan spare part maintenance bisa lebih terjamin. Pengadaan mobil di negeri sendiri akan menjadi motor penggerak pabrikan dalam negeri dalam membuka lapangan kerja, memperkuat rantai pasok lokal dan meningkatkan nilai tambah dalam negeri. Impor mobil ini tidak sesuai janji untuk mengurangi ketergantungan impor, memperkuat produksi dalam negeri dan mengembangkan kemandirian industri nasional. Apakah Yang mereka kerjakan adalah pekerjaan seorang leader atau hanya pekerjaan administrator yang sibuk memastikan mobilnya berjalan, tetapi jarang berhenti untuk memastikan kemana mobil itu melaju. Semua itu menunjukkan mereka tidak do the right things.
Selama ini, tanpa kita sadari, sistem pendidikan dan dunia kerja lebih banyak melatih kita untuk doing the things right, bukan doing the right things. Sejak sekolah, kita diajarkan mencari jawaban yang benar menurut kuncijawaban, bukan mempertanyakan apakah pertanyaannya sudah tepat untuk mengajarkan murid menjadi calon calon leader atau tidak. Kita dilatih mengerjakan soal sesuai rumus, mengikuti instruksi, menaati tata tertib, dan mengejar nilai tinggi. Di bangku kuliah, kita berlomba lulus tepat waktu, menyelesaikan tugas sesuai format, dan memenuhi standar akademik. Semua itu penting—tetapi itu wilayah ketepatan cara, bukan ketepatan arah.
Di dunia kerja, pola itu berlanjut. Karyawan dinilai dari kepatuhan pada SOP, kemampuan memenuhi target, dan keterampilan menjalankan sistem. Jarang ada ruang untuk bertanya: apakah strategi sudah benar? Apakah kebijakan ini adil? Apakah keputusan ini membawa kebaikan jangka panjang? Kita dibentuk menjadi eksekutor yang efisien, bukan penentu arah yang efektif dan reflektif. Akibatnya, banyak orang sangat terampil menjalankan perintah, tetapi gagap ketika harus menentukan prioritas melakukan yang benar, termasuk penulis. Budaya doing the right things menuntut keberanian berpikir, keberanian berbeda, dan kedewasaan nilai. Ia tidak cukup diajarkan lewat instruksi; ia harus ditumbuhkan lewat pembiasaan berpikir kritis dan kesadaran etis. Dan disitulah letak kekosongan yang sering kita rasakan: kita pandai bekerja dengan benar, tetapi belum tentu terbiasa memilih yang benar.
Di titik inilah Ramadhan hadir sebagai sekolah syahdu tentang doing the right things. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan memilih yang benar di atas yang sekadar menyenangkan. Ia mendidik manusia untuk menunda kepuasan, mengendalikan diri, dan mengarahkan kehendak pada nilai yang lebih tinggi. Tujuan akhirnya jelas: mencapai taqwa—kesadaran spiritual yang membuat seseorang peka terhadap benar dan salah, bukan sekadar patuh pada prosedur. Namun seringkali, puasa berhenti pada aspek syariat dan fisik: berapa jam menahan lapar, berapa kali khatam, berapa banyak menu berbuka. Dimensi hakikatnya—yakni pembentukan karakter dan kepemimpinan batin—tertinggal. Padahal Ramadhan sejatinya adalah training camp tahunan untuk melahirkan manusia tangguh yang sanggup memilih yang benar bahkan ketika tak ada yang mengawasi.
Manusia tangguh hasil didikan Ramadhan bukanlah manusia dua dimensi yang hanya bergerak pada sumbu X dan Y—efisiensi dan keteraturan. Ia adalah manusia tiga dimensi dengan tambahan sumbu Z: nilai dan makna. Pada dua dimensi, seseorang bisa sangat produktif, tetapi produktivitas itu bisa hampa arah. Pada tiga dimensi, ia bukan hanya bekerja cepat dan tepat, melainkan juga bekerja benar. Ia mampu berkata “tidak” pada yang menguntungkan tetapi salah, dan berkata “ya” pada yang berat tetapi bermakna. Sumbu Z itulah taqwa—kompas batin yang mengangkat manusia dari sekadar makhluk administratif menjadi pemimpin sejati. Dengan tiga dimensi itu, keputusan tidak lagi semata-mata berbasis kalkulasi tetapi juga pertimbangan hati yang taqwaha nya lebih dominan dari fujuraha nya, karena mengikuti sesuatu yang terbit dari hati adalah bagian dari takwa itu sendiri, relevan dengan Quran 22:32. Semoga kita semua, pembaca dan khususnya diriku yang sering salah dan sering mengabaikan kebenaran yang terbit dari hati, diampuni segala dosa dan memperoleh berkah Ramadhan tahun ini menjadi orang-orang bertakwa, aamiin ya Mujibassailin.
Akhirnya, Ramadhan mengajarkan bahwa efektivitas hidup tidak lahir dari kecanggihan technical, melainkan dari kejernihan niat yang di dalam hati sesuai Hadits “sesungguhnya amal kebajikan itu bermula (tergantung) dengan niat yang di dalam hati” dan ketepatan arah tujuan takwa yaitu kemuliaan, sesuai Quran 49:13. Seperti pula diingatkan oleh Peter F. Drucker yang dijuluki Bapak Manajemen Modern, “Yang lebih penting bukanlah sekedar melakukan sesuatu dengan benar, melainkan memastikan kita melakukan hal yang benar.” Puasa melatih kita untuk berhenti sejenak, mengevaluasi orientasi, dan menyelaraskan tindakan dengan nilai. Jika latihan sebulan itu benar-benar meresap dan dipraktikkan sepanjang tahun, maka lahirlah pemimpin—di keluarga, di masyarakat, di kantor dan di negeri ini—yang bukan hanya piawai mengelola, tetapi juga arif menentukan arah. Dan mungkin disitulah Ramadhan menemukan maknanya yang paling strategis: membentuk manusia yang tidak hanya do the thing right dalam menjalani hidup, tetapi terlebih do the right thing membuatnya efektif memaknai dan memimpin hidupnya. Wallahu A’lam.