Kisah Batu Tempat Shalat Imam Bonjol serta Sumur Air Wudhu di Pineleng, Minahasa
Glendi Manengal March 01, 2026 06:48 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Peninggalan Tuanku Imam Bonjol di Desa Lotta, Kecamatan Pineleng, kota Manado, provinsi Sulut, tak hanya makamnya. 

Tapi batu tempatnya Sholat. 

Tribun manado mengunjungi tempat tersebut pada Sabtu (28/2/2026). 

Batu tersebut berada tak jauh dari makam Imam Bonjol. 

Lokasinya di tepi sungai. 

Terdapat tangga untuk menuju ke sana dari makam. 

Tangga itu menurun serta membelok ke arah kiri. 

Batu tersebut terdapat dalam sebuah mushola kecil. 

Wisata religi tempat sholat Tuanku Imam Bonjol di Pineleng
WISATA - Wisata religi tempat sholat Tuanku Imam Bonjol di Pineleng, Minahasa, Sulawesi Utara, Sabtu (28/2/2026). Ini kisah batu tempat shalat Imam Bonjol serta sumur air wudhu.

Pemandangan sekelilingnya indah. Dengan aneka pepohonan serta sungai yang airnya deras. 

Mushola tersebut menghadap ke sungai. 

Ada tiga ruangan disana. 

Batu peninggalan Imam Bonjol ada di ruangan kiri. 

Disana terdapat sebuah batu kecil dan sebuah batu besar. 

Batu yang kecil memiliki lekukan yang pas untuk posisi dahi dan lutut saat sujud. 

Tak jauh dari sana terdapat sebuah sumur kecil. Sumur tersebut dulunya digunakan Imam Bonjol untuk mengambil air wudhu. 

Ken seorang peziarah mengaku suasana di masalah tersebut begitu syahdu. 

"Suasana alam di sekitar sini juga sangat indah," katanya. 

Wisata Religi di Sulawesi Utara

Sulawesi Utara (Sulut) memiliki kekayaan objek wisata religi yang beragam. Salah satu yang paling ikonik adalah Makam Tuanku Imam 

Bonjol yang terletak di Desa Lotta, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, provinsi Sulut. 

Makam tersebut berjarak 11 kilometer dari Bandar Udara Sam Ratulangi. 

Dari pusat kota Manado berjarak sekitar 8 kilometer. 

​Selama bulan Ramadan, situs sejarah ini ramai dikunjungi wisatawan. 

Tak hanya pengunjung domestik dari berbagai penjuru Nusantara, tetapi 

juga turis mancanegara asal Eropa dan Cina.

​Saat Tribunmanado berkunjung ke sana Kamis (26/2/2026) pagi, suasana makam masih tampak sepi dan tenang. 

Di tengah kesunyian tersebut, bunga-bunga bermekaran indah di taman kompleks makam. 

Tangga menuju area utama dikelilingi oleh rumput hijau yang tertata rapi bak permadani alam.

Bangunan makam ini memiliki ciri khas yang unik dengan bentuk menyerupai Rumah Gadang, rumah adat Minangkabau. 

Bendera merah putih berkibar di depan Makam. 

Di dalamnya, pengunjung diwajibkan melepas alas kaki untuk menjaga kesucian ruangan.

​Di dekat pintu masuk, terdapat meja yang menyediakan buku surat Yasin dan buku absen. 

Tercatat pengunjung datang dari berbagai kota seperti Palembang, Malang, Cibubur, Jakarta Timur, Tangerang, Kediri, Solo, Cirebon, hingga Jogja.

​Makam berada di sisi kanan ruangan dengan bentuk yang sederhana namun khidmat, lengkap dengan nisan dan tali pengaman di sekelilingnya.

​Nuansa Islami di tempat ini berpadu erat dengan semangat nasionalisme. Pada dinding makam, terdapat relief yang menggambarkan perjuangan Tuanku Imam Bonjol. 

Sang ulama besar tersebut digambarkan dengan gagah mengenakan sorban, menaiki kuda putih, sembari mengangkat pedang di tangan kanannya.

Peninggalan Imam Bonjol di tempat itu tak hanya makam. 

Enny seorang pengunjung yang ditemui Tribunmanado mengaku datang untuk ziarah. 

"Saya datang ke sini untuk ziarah," kata dia. 

Enny tergolong rajin mengunjungi makam itu. 

Dalam setahun biasanya beberapa kali. 

"Ini yang pertama tahun ini," kata dia. 

Salah satu pihak keluarga yang berada di sekitar makam menyatakan, turis justru ramai jelang bulan Ramadhan. 

"Kala itu tamu datang sangat banyak dan tiap hari," katanya. 

Sebut dia, tamu yang berdatangan berasal dari seluruh Indonesia. 

Bahkan ada tamu dari Eropa dan Cina. (Art)

Baca juga: Ketua BPMS Pdt Adolf Wenas Lantik Panitia SMSI GMIM ke-82 di Imanuel Bahu, Bekerja dengan Hati Tulus

(TribunManado.co.id/Art)

-

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.