3 Tentara AS Tewas Diserang Drone Iran, Trump: Ini Sudah Terlalu Banyak Bagi Saya, Nanti Bisa Lebih
Budi Sam Law Malau March 02, 2026 02:16 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Konflik Amerika Serikat bersama Israel dengan Iran memasuki fase paling berbahaya, setelah tiga tentara AS tewas dalam serangan drone yang diduga dilakukan kelompok pro-Iran di Kuwait.

Kematian 3 tentara AS tersebut menjadi titik balik eskalasi, memicu operasi militer besar-besaran Washington bersama Israel yang diberi nama “Operasi Epic Fury" ini.

Presiden AS Donald Trump menyebut angka korban dari militer AS bisa jauh lebih tinggi berdasarkan proyeksi Pentagon.

Hal ini sekaligus mengindikasikan kampanye militer ini dapat berlangsung hingga empat atau lima minggu.

Baca juga: Siapa Pemimpin Iran Sekarang Setelah Ali Khamenei Tewas? Ini Pihak yang Berkuasa Berdasar Konstitusi

Kronologi: 3 Tentara AS Tewas, Pentagon Kaji Proyeksi Korban Lebih Besar

Tiga anggota militer AS dilaporkan tewas dalam serangan drone pada Minggu pagi di Kuwait, menurut sejumlah sumber yang memahami laporan intelijen awal.

Serangan itu terjadi di tengah memanasnya situasi setelah gelombang serangan gabungan AS–Israel terhadap target-target strategis Iran.

Dalam wawancara dengan The New York Times, Trump mengatakan angka korban saat ini kemungkinan belum mencerminkan proyeksi awal Pentagon.

“Tiga orang saja sudah terlalu banyak bagi saya. Jika Anda melihat proyeksi yang mereka buat, jumlahnya bisa jauh lebih tinggi dari itu,” ujar Trump.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemerintah AS telah mempersiapkan kemungkinan eskalasi besar, termasuk risiko korban tambahan di antara personel militernya di kawasan.

Serangan Masif ke Lebih dari 1.000 Target

Komando Pusat AS (CENTCOM) merilis cuplikan video operasi di platform X, menyatakan bahwa pasukan AS mengambil tindakan tegas untuk melenyapkan ancaman mendesak yang ditimbulkan oleh rezim Iran.

Menurut pernyataan resmi, lebih dari 1.000 target telah dihantam, termasuk:

  • Instalasi militer strategis
  • Fasilitas angkatan laut
  • Hanggar pesawat tempur
  • Struktur komando keamanan

AS dilaporkan mengerahkan pembom siluman B-2, sistem pertahanan Patriot, jet tempur, serta sejumlah kemampuan khusus yang tidak diungkapkan ke publik.

Citra satelit terbaru menunjukkan kerusakan luas di pangkalan militer Iran, termasuk kapal yang tenggelam dan fasilitas udara yang hancur.

Baca juga: Ditengah Duka Tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Israel Kembali Luncurkan Rudal Hingga 8 Orang Tewas

Klaim Penghancuran Struktur Komando Iran

Analisis berbagai rekaman video dan citra satelit menunjukkan operasi ini dirancang untuk melumpuhkan struktur komando rezim Iran secara sistematis.

Trump dalam pidato videonya menyebut:

  • Ratusan target telah dihancurkan
  • Sebagian besar angkatan laut Iran lumpuh
  • Struktur komando militer Iran “telah musnah”

Ia bahkan menyerukan anggota Garda Revolusi Iran untuk menyerah, dengan iming-iming imunitas penuh dan memperingatkan bahwa penolakan akan berujung pada kematian yang pasti.

Trump Sebut Perang Bisa Berlangsung 4–5 Minggu

Dalam wawancara dengan Daily Mail dan The New York Times, Trump mengisyaratkan bahwa operasi ini bisa berlangsung sekitar empat minggu, bahkan hingga lima minggu.

“Ini selalu merupakan proses empat minggu. Iran adalah negara besar. Ini akan memakan waktu empat minggu — atau kurang," kata Trump.

Ia juga menyatakan bahwa AS memiliki persediaan amunisi dalam jumlah besar yang ditempatkan di berbagai negara.

Pernyataan tersebut menjadi indikasi paling jelas bahwa Washington mempersiapkan kampanye militer jangka menengah, bukan sekadar operasi terbatas.

Kawasan Timur Tengah dalam Siaga Tinggi

Eskalasi ini memicu ketegangan regional yang meluas.

  • Negara-negara Teluk seperti Bahrain, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan UEA mengeluarkan pernyataan bersama mengutuk serangan rudal dan drone Iran.
  • Uni Emirat Arab menutup kedutaannya di Teheran dan menarik staf diplomatiknya.
  • Inggris melaporkan jet tempurnya menembak jatuh drone Iran yang menuju Qatar.
  • Di Irak, empat anggota Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) tewas akibat serangan.
  • Di Israel tengah, serpihan rudal menyebabkan kerusakan dan melukai enam orang di Yerusalem.

Sementara itu, aparat penegak hukum AS meningkatkan pengawasan domestik, menyelidiki potensi ancaman keamanan dalam negeri yang mungkin terpicu oleh konflik ini.

Pentagon Gelar Konferensi Pers

Pentagon dijadwalkan menggelar konferensi pers untuk pertama kalinya sejak “Operasi Epic Fury” dimulai.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine akan memberikan penjelasan resmi kepada publik.

Briefing juga akan dilakukan kepada pimpinan senior Kongres (“Kelompok Delapan”), diikuti pengarahan untuk seluruh anggota DPR dan Senat.

Konflik yang awalnya berupa serangan presisi kini berkembang menjadi konfrontasi terbuka yang melibatkan banyak negara.

Dengan tiga tentara AS telah tewas dan kemungkinan korban tambahan, tekanan politik terhadap Gedung Putih meningkat.

Iran belum memberikan pernyataan resmi terperinci terkait kematian tentara AS tersebut, namun serangan balasan drone dan rudal terus dilaporkan terjadi di berbagai titik kawasan.

Jika kampanye militer benar-benar berlangsung empat hingga lima minggu seperti yang disinyalir Trump, Timur Tengah berpotensi menghadapi salah satu eskalasi paling berbahaya dalam dekade terakhir.

 

 
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.