Travel Umrah Lampung Dihantui Gangguan Penerbangan Imbas Konflik Timur Tengah
Robertus Didik Budiawan Cahyono March 02, 2026 05:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Ketegangan di Timur Tengah antara Iran dan Amerika-Israel yang kian meningkat memicu gelombang kekhawatiran internasional. Termasuk jemaah umrah maupun penyedia jasa perjalanannya di Lampung.

Meski laporan menyebut ibadah di tanah suci masih kondusif, ancaman gangguan penerbangan dan ketidakpastian dana jemaah menjadi hantu yang membayangi jadwal keberangkatan berikutnya.

Muhammad Miftah Falah, Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) Bunda Lestari Lampung, mengungkap bahwa seluruh jemaahnya saat ini sudah kembali ke tanah air.

Namun. dia mengakui jadwal keberangkatan mendatang tetap menimbulkan kecemasan.

"Jemaah kami yang di sana Alhamdulillah sudah pulang semua, untuk jadwal keberangkatan berikutnya pada 30 Maret nanti," ujar Falah, Senin (2/3/2026).

Baca juga: 438 Jemaah Umrah Lampung Masih di Tanah Suci, Kanwil Kemenhaj Imbau Pihak Travel

Di satu sisi, Falah menyebutkan situasi di Makkah dan Madinah sebenarnya masih aman.

"KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) sampai sekarang masih menyatakan Makkah Madinah dalam keadaan kondusif," Kata dia.

Namun, Falah mengaku tetap waspada dan memantau eskalasi konflik yang terjadi di timur tengah. 

Di mana, dampak ketegangan ini mulai dirasakan pada sektor penerbangan internasional, terutama bagi maskapai yang memiliki rute transit di wilayah konflik.

Sejumlah negara yang dianggap mendukung atau menjadi pangkalan Amerika-Israel kini menjadi sasaran serangan balas dendam pasca gugurnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Hosseini Khamenei, pada (28/2/2026) lalu.

"Eskalasi ini berdampak langsung pada maskapai yang transit di negara asal seperti Qatar (Doha), Etihad di Abu Dhabi, dan Emirates di Dubai. Penerbangan di negara asal maskapai tersebut sempat ditutup karena terdampak langsung perang," jelas Falah.

Meski demikian, Falah menjelaskan bahwa untuk penerbangan langsung (direct flight) seperti Garuda Indonesia menuju Jeddah, hingga saat ini terpantau masih beroperasi normal.

"Kalau kami menggunakan Garuda, dan per hari ini informasinya masih ada jemaah yang berangkat, semoga saja tetap aman," Kata dia. 

Jika konflik berkepanjangan dan meluas, Falah menyoroti kerugian finansial yang  membayangi PPIU dan jemaah. 

Ia meminta Pemerintah Indonesia untuk melakukan langkah diplomasi konkret kepada Kerajaan Arab Saudi, melampaui sekadar imbauan penundaan.

"Dana jemaah untuk keberangkatan 30 Maret itu sudah kami salurkan semua ke hotel dan visa. Masalahnya, pihak hotel di sana tidak mau tahu dengan kondisi ini, mereka menyatakan dana tidak bisa kembali (non-refundable)," tegas Falah.

Ia berharap pemerintah pusat melakukan penekanan diplomatis agar otoritas Arab Saudi mengeluarkan instruksi kepada penyedia layanan hotel supaya biaya jemaah bisa dikembalikan atau dijadwalkan ulang (reschedule) jika terjadi pembatalan akibat situasi darurat.

"Harus ada langkah antisipasi. Jika ada instruksi langsung dari pemerintah Arab Saudi ke hotel-hotel di sana, tentu dampaknya akan berbeda bagi jemaah kita," pungkasnya.

(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.