Dr Boyke Ungkap Manfaat Puasa untuk Kesehatan: Picu Autofagi hingga Bikin Tubuh Lebih Awet Muda
Amirullah March 02, 2026 05:20 PM

SERAMBINEWS.COM - Dokter spesialis sekaligus seksolog nasional, dr Boyke Dian Nugraha, mengungkapkan bahwa puasa tak hanya berdampak pada spiritualitas, tetapi juga memiliki manfaat besar bagi kesehatan tubuh.

Hal itu disampaikan dr Boyke dalam tayangan di kanal YouTube Kacamata dr Boyke, dikutip Serambinews.com, Senin (2/3/2026).

Menurutnya, saat berpuasa tubuh mendapatkan waktu istirahat, terutama organ pencernaan yang setiap hari bekerja tanpa henti.

“Puasa itu bukan hanya untuk kesehatan saja sih ya, tapi juga bisa untuk keharmonisan rumah tangga. Namun untuk kesehatan, jelas bahwa tubuh kita ini butuh istirahat,” ujar dr Boyke.

Ia menjelaskan, berbagai penelitian menemukan bahwa puasa dapat memicu proses alami tubuh yang dikenal dengan istilah autofagi.

Proses ini terjadi ketika sel-sel tubuh yang kekurangan asupan energi mulai memanfaatkan cadangan lemak dan gula sebagai sumber energi.

Baca juga: Ternyata Ramadhan Bisa Pererat Keharmonisan Keluarga, Ini Kata Dr Boyke

“Ketika sel-sel pencernaan itu diistirahatkan dan dia kekurangan energi, maka ada yang namanya mekanisme autofagus. Di mana lemak jahat dan gula itu akan diubah menjadi energi, sehingga kita bisa menjadi lebih kurus,” jelasnya.

Tak hanya membantu pembakaran lemak, dr Boyke juga menyebut puasa berperan dalam mengoptimalkan produksi hormon-hormon penting di dalam tubuh.

“Hormon growth hormone, hormon-hormon untuk kebaikan tubuh itu diproduksi lebih optimal saat kita berpuasa. Jadi jangan takut untuk berpuasa, karena berpuasa itu untuk kesehatan,” katanya.

Ia menambahkan, dengan berfungsinya mekanisme tersebut, tubuh berpotensi menjadi lebih sehat dan segar.

Bahkan, menurutnya, kondisi ini dapat mendukung proses peremajaan sel sehingga tubuh terasa lebih bugar.

Selain manfaat fisik, dr Boyke juga menekankan bahwa puasa menjadi momentum memperbaiki pola hidup, termasuk mengatur asupan makanan saat berbuka.

Baca juga: Ibu Menyusui Boleh Makan Mi Instan? Ini Penjelasan dr Boyke Soal Risiko dan Kebutuhan Protein

Ia menyarankan agar tidak berlebihan dalam mengonsumsi makanan manis serta lebih memperbanyak makanan berserat, buah-buahan, dan protein alami.

“Kurangi gula-gula dan manis-manis, lebih banyak makanan berserat dan buah-buahan ketika buka puasa. Dengan begitu kita tetap sehat dan bugar,” ujarnya.

Menurut dr Boyke, jika dijalankan dengan pola makan yang tepat dan ibadah yang seimbang, puasa bukan hanya membuat tubuh lebih sehat, tetapi juga membantu menjaga kebugaran hingga momen Idul Fitri tiba.

“Harapannya ketika kita lebaran, ibadah kita oke, kesehatan kita oke, dan tubuh kita juga lebih bugar,” pungkasnya.

Dr Boyke Ungkap 4 Penyebab Hubungan Pasutri Turun 50 Persen Saat Ramadan, Bukan Sekadar Faktor Puasa

Bulan Ramadhan tidak hanya berdampak pada pola makan dan jam tidur, tetapi juga memengaruhi kehidupan rumah tangga, termasuk hubungan suami istri.

Seksolog dan pakar keharmonisan keluarga, Dr Boyke Dian Nugraha, mengungkapkan bahwa aktivitas hubungan intim pasangan suami istri cenderung menurun selama bulan puasa.

Dalam penjelasannya, Dr Boyke menyebutkan bahwa berdasarkan pengamatan di klinik pasutri, frekuensi hubungan suami istri bisa turun hingga 50 persen selama Ramadhan. Namun, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut merupakan hal yang wajar.

Penyebab Aktivitas Intim Menurun

Dilansir dari YouTube Kacamata dr Boyke, Selasa (24/2/2026), dr Boyke mengatakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan penurunan tersebut.

Pertama, faktor fisik dan energi.

Selama berpuasa, tubuh menahan lapar dan haus sepanjang hari.

Energi yang biasanya tersedia untuk aktivitas tambahan menjadi lebih terbatas, apalagi jika pasangan tetap menjalani rutinitas kerja seperti biasa.

Kedua, perubahan pola tidur. Umat Muslim harus bangun lebih awal untuk sahur dan seringkali mengisi malam dengan ibadah seperti salat tarawih.

Waktu istirahat yang berkurang membuat tubuh lebih mudah lelah sehingga gairah pun ikut menurun.

Ketiga, fokus spiritual. Ramadhan identik dengan peningkatan ibadah dan pengendalian diri. Banyak pasangan memilih menahan diri sebagai bagian dari upaya menjaga kekhusyukan bulan suci.

Keempat, pola makan saat berbuka. Konsumsi makanan terlalu manis atau berlebihan dapat membuat tubuh terasa lemas dan mengantuk. Sistem pencernaan yang bekerja keras setelah berbuka juga memengaruhi kenyamanan untuk melakukan aktivitas fisik.

Puasa Baik untuk Kesehatan

Di sisi lain, Dr Boyke menekankan bahwa puasa justru memberikan banyak manfaat kesehatan.

Saat tubuh berpuasa, organ pencernaan mendapat kesempatan untuk beristirahat dan bekerja lebih optimal.

Ia juga menyinggung mekanisme autofagi, yaitu proses ketika tubuh menggunakan cadangan energi dari lemak dan gula saat asupan makanan berkurang.

Proses ini dinilai baik untuk regenerasi sel dan menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Karena itu, menurutnya, tidak perlu khawatir berlebihan terhadap penurunan frekuensi hubungan suami istri selama Ramadhan.

Tips Tetap Harmonis Saat Ramadhan

Meski frekuensi menurun, Dr Boyke menegaskan bahwa keharmonisan tetap bisa dijaga dengan pengaturan yang tepat.

Pertama, perhatikan pola makan saat berbuka.

Hindari konsumsi gula berlebihan dan makan terlalu banyak. Pilih makanan alami dan bergizi seperti protein, buah-buahan, kacang-kacangan, serta kurma dalam jumlah secukupnya.

Kedua, pilih waktu yang tepat. Hubungan suami istri dapat dilakukan setelah seluruh ibadah selesai dan tubuh sudah beristirahat, misalnya sebelum tidur atau menjelang sahur saat kondisi tubuh lebih stabil.

Ketiga, utamakan komunikasi dan suasana yang nyaman. Keharmonisan tidak hanya soal frekuensi, tetapi juga kualitas hubungan emosional antara pasangan.

Ia juga mengingatkan bahwa Ramadhan adalah momen untuk melatih pengendalian diri, bukan hanya dari lapar dan haus, tetapi juga emosi dan hawa nafsu.

Menurutnya, pasangan suami istri tetap bisa menjaga keintiman tanpa mengurangikekhusyukan ibadah.

“Ramadhan adalah latihan mental dan spiritual. Jika dijalani dengan seimbang, kesehatan terjaga, ibadah optimal, dan keharmonisan rumah tangga pun tetap terpelihara,” ujarnya. (Serambinews.com/Firdha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.