TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Konflik geopolitik di Timur Tengah baru-baru ini berdampak hingga ke sektor penerbangan.
Ketegangan antara Israel dan Iran ini memicu kekhawatiran masyarakat terhadap jemaah yang tengah beribadah di Tanah Suci.
Kabar baiknya, jemaah umrah asal Sulawesi Tenggara (Sultra) dinyatakan aman sebab menggunakan penerbangan langsung.
Seperti disampaikan Owner Travel Vacana, Ashari Salam, saat dikonfirmasi TribunnewsSultra.com, Senin (2/3/2026).
Ashari mengatakan jemaah umrah Vacana Travel menggunakan direct flight rute Jakarta/Makassar-Jeddah dan sebaliknya.
Baca juga: Kasus Penelantaran Jemaah Umrah, 2 Travel di Kendari Patok Harga di Bawah Standar
"Saat ini rutenya yang direct, alhamdulillah masih aman, tidak delay dan on schedule," katanya melalui WhatsApp.
Menurutnya, sebagian besar penerbangan yang mengalami penundaan merupakan penerbangan transit.
Yaitu melalui Uni Emirat Arab (UEA) khususnya Dubai dan Abu Dhabi, serta Qatar tepatnya di Doha.
Adapun jemaah yang saat ini masih menjalankan ibadah umrah berasal dari beberapa wilayah di Bumi Anoa.
Di antaranya adalah ibu kota Provinsi Sultra, Kota Kendari dengan total satu grup atau 40 pax.
Baca juga: Detik-detik Bos Travel di Kendari Diamankan Usai Menikah, Rumah Istri Dikepung Keluarga Jemaah Umrah
"Ada yang dari Kendari, dan ada dari wilayah lainnya juga," ujar dia.
Sebagai informasi, sebanyak 58.000 lebih jemaah umrah asal Indonesia dilaporkan masih tertahan di Arab Saudi.
Hal tersebut merupakan imbas pecahnya perang Iran vs Amerika Serikat-Israel sejak Sabtu (28/2/2026).
Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Ichsan Marsha mengatakan, puluhan ribu jemaah tersebut kini berada di berbagai hotel di Arab Saudi.
Situasi ini terjadi setelah sejumlah koridor udara internasional ditutup, sehingga banyak maskapai membatalkan penerbangan demi keselamatan penumpang.
Baca juga: 9 Jemaah Umrah Asal Sulawesi Tenggara Diduga Ditelantarkan di Jeddah, Sebut Kepulangan Ditunda
Pemerintah tengah mengupayakan pemulangan jemaah dengan berkoordinasi intensif bersama PPU serta otoritas penerbangan sipil internasional.
Sejumlah opsi pun disiapkan, mulai dari pengalihan rute, penjadwalan ulang penerbangan, hingga kemungkinan evakuasi khusus.
Selain itu, koordinasi dengan Pemerintah Arab Saudi juga dilakukan terkait perpanjangan akomodasi jika masa tunggu jemaah berlangsung lama. (*)
(TribunnewsSultra.com/Apriliana Suriyanti)