IKHWANUL KIRAM, konten kreator dan sineas muda asal Aceh, melaporkan dari Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil
Sering dijuluki sebagai “Maldive-nya Indonesia”, Pulau Banyak di Kabupaten Aceh Singkil memang menyimpan gugusan pulau eksotis, hamparan pasir putih, serta air laut yang begitu jernih hingga tampak jelas ke dasar terumbu karang dari permukaan laut.
Gugus kepulauan sekitar 86 pulau ini menawarkan panorama yang seolah tak tersentuh waktu. Deretan pulau kecil seperti Palambak Ketek dan Palambak Gadang, Tailana, dan Pulau Rangit menghadirkan lanskap tropis yang memikat dan bikin takjub siapa pun yang datang.
Namun, perjalanan saya ke Pulau Banyak kali ini bukan sekadar perjalanan wisata untuk memanjakan mata. Ia menjadi perjalanan batin, sebuah pengalaman yang membuka mata dan hati karena saya berkesempatan mengikuti Program Sukarelawan Bermuda (Bersama Sukarelawan Muda) Chapter Ke-4.
Sebelumnya, kegiatan Bermuda telah dilaksanakan di berbagai wilayah Aceh, seperti Sabang, Pulo Aceh (Aceh Besar), dan Takengon (Aceh Tengah).
Setiap chapter menghadirkan cerita dan tantangan yang berbeda. Namun, di Pulau Banyak, kami merasakan kombinasi antara keindahan alam yang luar biasa dan realitas sosial yang mengajak kami untuk berpikir lebih dalam tentang arti pengabdian.
Tidak hanya menawarkan pesona laut biru dan gugusan pulau kecilnya, Pulau Banyak mengajarkan kepada kami arti tentang kepedulian dan makna hadir untuk sesama.
Program ini bertujuan untuk berkontribusi pada perubahan Indonesia di sektor pendidikan, kesehatan, dan pariwisata, sekaligus menjadi wadah bagi anak muda yang ingin mengabdikan diri demi kemajuan negeri.
Kami datang bukan sebagai wisatawan, melainkan sebagai pembelajar yang ingin memahami kehidupan masyarakat pesisir secara lebih dekat.
Setibanya di lokasi, sambutan hangat warga seakan menghapus rasa lelah perjalanan panjang yang kami tempuh dari Banda Aceh, kurang lebih 21 jam.
Senyum anak-anak yang polos dan penuh rasa ingin tahu menjadi energi baru bagi kami. Kehidupan masyarakat di kepulauan ini begitu sederhana, tetapi sarat dengan nilai kekeluargaan. Mereka menyambut kami dengan tangan terbuka, seolah
kami adalah bagian dari keluarga yang telah lama dinantikan.
Dalam kegiatan Bermuda Chapter 4, kami fokus pada tiga divisi utama: Edu-Culture (Pendidikan dan Kebudayaan), Eco-Craftour (Ekonomi Kreatif dan Pariwisata), serta Eco-Healthcare (Kesehatan dan Lingkungan).
Pada divisi Edu-Culture, kami menyelenggarakan kelas belajar sederhana untuk anak-anak. Kegiatan membaca, menulis, menggambar, hingga permainan edukatif kami rancang agar mereka dapat belajar sambil bersenang-senang.
Di divisi Eco-Craftour, kami berupaya mendorong kesadaran akan potensi ekonomi kreatif berbasis pariwisata. Pulau Banyak memiliki sumber daya alam yang luar biasa, tetapi belum sepenuhnya dikelola secara optimal.
Kami berdiskusi dengan masyarakat tentang peluang pengembangan kerajinan tangan, pengelolaan ‘homestay’, serta promosi wisata yang lebih terstruktur. Harapannya, masyarakat lokal dapat menjadi pelaku utama dalam pengembangan pariwisata, bukan sekadar penonton.
Sementara itu, melalui Eco-Healthcare, kami melakukan edukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Kami mengadakan kegiatan bersih-bersih pantai bersama warga. Namun, kegiatan ini bukan hanya tentang memungut sampah. Lebih dari itu, kami ingin membangun kesadaran bersama bahwa laut adalah sumber kehidupan yang harus dijaga, tak boleh dicemari.
Keindahan Pulau Banyak bukanlah sesuatu yang dapat bertahan tanpa kepedulian kolektif.
Di balik segala keindahan dan semangat kebersamaan tersebut, ada satu hal yang sangat terasa selama kami berada di sini: kurangnya perhatian serius dari pemerintah terhadap potensi wisata yang dimiliki Pulau Banyak.
Wilayah ini sebenarnya memiliki daya tarik yang sangat besar, bahkan tak kalah dengan destinasi bahari lainnya di Indonesia. Namun, sayangnya, pengelolaannya masih berjalan apa adanya.
Salah satu contoh yang cukup mencolok adalah bangunan mercusuar yang kini terbengkalai. Mercusuar tersebut sebenarnya memiliki potensi besar untuk dijadikan ikon wisata sekaligus pusat edukasi maritim.
Dari puncaknya, pengunjung dapat menikmati panorama laut yang luas dan gugusan pulau yang memukau. Namun, kondisi bangunan yang kurang terawat mencerminkan belum adanya perencanaan jangka panjang yang serius dalam pengembangan kawasan ini.
Selain itu, promosi wisata juga masih minim, sehingga Pulau Banyak belum dikenal luas oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Padahal, dengan strategi yang tepat, kawasan ini berpotensi menjadi destinasi unggulan yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, Pulau Banyak berisiko tertinggal di tengah geliat pariwisata nasional yang terus berkembang.
Keindahan alam saja tidaklah cukup, tanpa dukungan kebijakan dan pengelolaan yang terarah. Pemerintah daerah dan pusat perlu mulai melihat Pulau Banyak sebagai aset strategis, bukan sekadar wilayah pinggiran.
Revitalisasi mercusuar dapat menjadi langkah awal yang simbolis sekaligus konkret.
Bangunan tersebut dapat dikembangkan menjadi pusat informasi wisata, museum maritim, atau spot fotografi ikonik.
Selain itu, pembangunan infrastruktur dasar yang ramah lingkungan harus menjadi prioritas. Akses transportasi yang lebih baik, pengelolaan sampah yang serius dan sistematis, serta pelatihan bagi masyarakat dalam bidang ‘hospitality’ (kermahtamahan) akan sangat membantu.
Yang tak kalah pentingnya adalah pelibatan masyarakat lokal dan komunitas sukarelawan dalam setiap proses pengembangan. Pendekatan kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan
pemuda akan menciptakan rasa memiliki yang kuat terhadap Pulau Banyak.
Ketika masyarakat diberdayakan sebagai pelaku utama, pariwisata tidak hanya menjadi sumber pendapatan, tetapi juga sarana pelestarian budaya dan lingkungan.
Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa pengabdian tidak hanya tentang memberi, tetapi juga tentang belajar dan memahami.
Pulau Banyak bukan sekadar destinasi wisata dengan laut biru dan pasir putih. Ia adalah ruang hidup, ruang harapan, dan ruang masa depan bagi warganya.
Setiap anak yang tersenyum di kelas sederhana, setiap warga yang ikut membersihkan pantai, dan setiap sukarelawan yang datang dengan niat tulus, adalah bagian dari mozaik perubahan kecil yang perlahan membentuk dampak besar.
Pulau Banyak memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjadi destinasi unggulan: alam yang memesona, masyarakat yang ramah, serta generasi muda yang peduli. Yang masih kurang hanyalah keberpihakan kebijakan dan keseriusan pengelolaan.
Sudah saatnya potensi besar ini tidak lagi diabaikan, melainkan dirawat dengan visi yang jelas dan langkah nyata yang berkelanjutan.
Karena pada akhirnya, kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari seberapa indah pemandangannya, tetapi dari seberapa besar perhatian dan tanggung jawab kita dalam menjaganya. Dan, Pulau Banyak, dengan segala pesonanya, sedang menunggu untuk benar-benar diperjuangkan bukan hanya sebagai surga tersembunyi, melainkan juga sebagai simbol kebangkitan wisata bahari Indonesia yang lahir dari kolaborasi, kepedulian, dan cinta terhadap negeri.