Sosok Mansoureh Khojasteh, 3 Hari Koma Susul Sang Suami Ali Khamenei Gugur Saat Serangan AS-Israel
Rusaidah March 03, 2026 11:03 AM

 

BANGKAPOS.COM -- Serangan AS-Israel menyisakan duka mendalam bagi warga Iran.

Di tengah peperangan yang kian membara, duka mendalam dirasakan menyusul gugurnya sang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Menyusul tewasnya sang Pemimpin Tertinggi, kini Mansoureh Khojasteh istri Ali Khamenei, dilaporkan meninggal dunia setelah tiga hari berjuang melewati masa kritis.

Luka serius yang dideritanya menjadi saksi bisu kedahsyatan serangan udara "Operation Epic Fury" yang diluncurkan AS dan Israel pada Sabtu lalu.

Baca juga: Identitas 5 Tersangka Selundupan 6,4 Ton Pasir Timah ke Malaysia, Satu Pelaku Domisili Pangkalpinang

Berusia 78 tahun kepergian Khojasteh menambah daftar korban dari lingkaran terdalam kepemimpinan Iran, memperdalam krisis politik dan militer yang kini mengguncang Timur Tengah.

Khamenei sendiri gugur saat serangan bersama putri, menantu dan cucunya.

20260303 ISTRI ALI KHAMENEI2
ISTRI KHAMENEI GUGUR -- Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Mansoureh Khojasteh (78) istri mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, meninggal dunia pada Senin (2/3/2026). Khojasteh (78) dilaporkan sempat koma selama tiga hari setelah mengalami luka serius akibat serangan udara AS-Israel, Sabtu (28/2/2026) pagi yang menewaskan suaminya dalam operasi gabungan Amerika Serikat–Israel bertajuk “Operation Epic Fury.” 

Menurut laporan media Iran, serangan presisi pada Sabtu menyasar kantor sekaligus kediaman resmi Pemimpin Tertinggi di Teheran.

Khojasteh berada di lokasi saat serangan terjadi dan mengalami luka kritis sebelum akhirnya meninggal dunia setelah tiga hari dirawat dalam kondisi koma.

Ia menikah dengan Khamenei sejak 1964 dan dikenal menjaga profil rendah hati selama lebih dari enam dekade kepemimpinan suaminya.

Kematian pasangan yang telah bersama lebih dari 60 tahun itu menandai berakhirnya sebuah era dalam struktur kekuasaan Republik Islam Iran.

Baca juga: Rincian Biaya Tambah Daya Listrik Diskon 50 Persen, Berlaku Sampai 10 Maret 2026

Namun, guncangan terbesar bagi Teheran bukan hanya kehilangan simbolis, melainkan musnahnya struktur komando militer dan politik mereka dalam satu serangan presisi tunggal yang diklaim Trump.

Presiden AS Donald Trump, dalam wawancara dengan Fox News, membeberkan detail mengejutkan mengenai serangan maut tersebut.

Trump mengeklaim bahwa intelijen AS berhasil melacak pertemuan rahasia tingkat tinggi yang dihadiri oleh 49 pemimpin paling senior Iran bersama pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei

Pertemuan tersebut dilakukan pada Sabtu pagi dalam sebuah sesi sarapan bersama lingkaran dalam Khamenei.

Mereka memilih waktu siang hari karena berasumsi AS tidak akan berani menyerang di siang bolong.

"Mereka pikir mereka aman karena hari terang benderang. Tapi kami mendapatkan mereka semua. Posisi kedua, ketiga, hingga ke-49, semuanya tewas," ujar Trump melansir dari Wartakotalive.com.

Kondisi Beit-e Rahbari

Begini kondisi Beit-e Rahbari, kediaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei pasca serangan udara besar-besaran  yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel, Sabtu (28/2/2026).

Penampakan rumah kediaman Ayatollah Ali Khamenei terungkap melalui tangkapan citra satelit.

Dikabarkan. Ayatollah Ali Khamenei dikabarkan tewas dalam serangan Israel dan Amerika Serikat.

Tak hanya itu, diketahui pula putri, menantu dan cucu Ayatollah Ali Khamenei ikut menjadi korban dalam serangan masif tersebut.

Melalui tangkapan layar citra satelit dari Airbus Defence and Space yang dikutip Kompas.com, memperlihatkan bangunan utama di kompleks tersebut dalam kondisi hancur total.  

Beit-e Rahbari selama ini dikenal tidak hanya sebagai tempat tinggal sang pemimpin tertinggi, tetapi juga lokasi strategis untuk menjamu pejabat-pejabat senior Iran.

Berdasarkan foto udara tersebut, struktur bangunan yang menjadi kediaman langsung Khamenei beserta perimeter keamanan di sekitarnya tampak telah rata dengan tanah.

Analisis dari para ahli menunjukkan bahwa pola kawah dan dampak ledakan yang terlihat konsisten dengan penggunaan amunisi penghancur bunker (bunker-buster). 

Senjata jenis ini dirancang khusus untuk menembus lapisan beton bangunan guna menghancurkan fasilitas bawah tanah yang diperkuat.

Serangan Masif AS-Israel 

Sebelumnya, AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap target di Iran pada hari Sabtu. 

Serangan ini memicu ledakan di ibu kota Teheran dan peningkatan ketegangan di seluruh kawasan. 

Tak lama kemudian, Presiden AS Donald Trump mengunggah pernyataan video yang mengumumkan operasi tempur AS di Iran, dengan tujuan menghilangkan ancaman yang akan segera terjadi. 

Laporan lapangan menunjukkan asap tebal mengepul di atas distrik Pasteur, Teheran, yang merupakan lokasi kediaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. 

Otoritas Iran pun segera melakukan pengerahan keamanan besar-besaran di ibu kota. 

Pihak AS dan Israel menegaskan bahwa operasi ini menargetkan situs-situs militer. 

Baca juga: Pakai Kapal Hantu 6,4 Ton Pasir Timah Lolos ke Malaysia, Peran 5 Pelaku dari Sopir Truk Dibongkar

Militer Israel juga mengeluarkan peringatan agar warga sipil Iran menjauhi infrastruktur militer demi menghindari korban jiwa.  

Disebutkan bahwa serangan tersebut merupakan tindak lanjut dari perencanaan bersama selama berbulan-bulan antara AS dan Israel.

Profil Ayatollah Ali Khamenei

Ayatollah Ali Khamenei adalah Pemimpin Tertinggi Iran saat ini yang menjabat sejak 1989.

Di Iran, ucapan Ali Khamenei adalah mutlak.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei ((DW/Tasnim))

Dia pernah dinobatkan sebagai orang ke-21 dalam daftar “Orang Paling Berpengaruh di Dunia” oleh Forbes, karena dianggap sebagai otoritas politik paling kuat di Iran, bahkan lebih kuat daripada Presiden negaranya.

Sebelum menjadi Pemimpin Tertinggi Iran, dia pernah menjabat sebagai Presiden Iran selama beberapa tahun.

Dia memainkan peran kunci dalam Revolusi Iran 1979, ketika dinasti Pahlavi di bawah Mohammad Reza Shah Pahlavi digulingkan.

Setelah Grand Ayatollah Ruhollah Khomeini mendirikan Partai Republik Islam, Ali Khamenei mencapai kekuatan politik yang cukup besar sebagai orang kepercayaannya.

Dia mengambil alih jabatan presiden pada 1981, setelah pembunuhan Mohammad-Ali Rajai dan menjadi ulama pertama yang menjabat di posisi tersebut.

"Saya memiliki jiwa yang miskin, tubuh yang tidak lengkap, dan sedikit martabat yang telah Anda berikan kepada saya - saya akan mengorbankan semuanya untuk Revolusi dan untuk Islam," kata Ayatollah Ali Khamenei pada 2009.

Ulama Sejak Muda 

Ali Khamenei Khamenei lahir pada 17 Juli 1939 sebagai anak kedua dari delapan bersaudara, pasangan Seyyed Javad Khamenei dan Khadijeh Mirdamadi di Mashhad, kota paling suci Iran.

Dia mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang ulama, meski itu bukan pilihan yang mudah.

Iran saat itu berada di bawah pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi, raja sekuler yang memandang agama sebagai sesuatu yang kuno dan mencurigakan.

"Khamenei menjadi ulama ketika dia masih sangat muda, pada usia 11 tahun," menurut kata Mehdi Khalaji, yang menulis biografi Ayatullah melansir BBC.

Baca juga: Jejak Moncer Firman Santyabudi, Anak Wapres Try Sutrisno, Jenderal Bintang 2 Jadi Direktur MIND ID

Status itu membuatnya menjalani masa pertumbuhan yang tidak mudah.

Banyak anak sepantarannya mengejek seragam ulamanya yang sering membuatnya kesulitan untuk bermain dengan anak-anak lain di jalanan.

Menurut salah satu anggota keluarga terdekatnya, Khamenei adalah pria pendiam yang menyukai puisi.

Meski begitu, dia juga sangat baik dan mudah bergaul.

Di tahun-tahun awalnya, Ali Khamenei juga suka merokok dan bahkan menghisap cerutu, kebiasaan yang sangat tidak biasa bagi seorang pria religius.

Khamenei kemudian menjadi pendukung dari musuh utama Raja Shah, ulama yang diasingkan Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Ayatollah ingin membawa ajaran Islam ke Iran.

Ali Khamenei yang pada akhirnya mencoba menyebarkan pesan ayatullah di Iran. Alhasil, polisi Raja Shah menangkapnya enam kali.

Dalam tahanan, ulama Ali Khamenei berbagi sel penjara dengan Houshang Asadi, seorang komunis muda.

Ulama dan komunis saat itu bergaul dengan cukup baik. Salah satunya karena selama 1970-an, kelompok-kelompok Marxis juga berusaha menyingkirkan Shah.

Teman-teman satu selnya mengenal Khamenei sebagai ulama yang sangat baik dan memiliki selera humor bahkan untuk hal terkecil sekalipun.

Tapi, ketika itu tidak ada yang pernah menyangka bahwa Khamenei akhirnya akan menjadi pemimpin tertinggi Iran.

Bukan Sekadar Pemimpin Iran

Banyak yang belum mengetahui, selain menjadi Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei juga dikenal sebagai seorang ulama Syiah yang memiliki pengaruh luas di kalangan pengikut Syiah. 

Dalam tradisi Islam Syiah, seorang ulama yang memiliki kualifikasi tinggi di bidang agama bisa diikuti sebagai marja’ (sumber rujukan dalam fiqh). Ada banyak orang—termasuk di luar Iran—yang mengaku mengikuti Ali Khamenei sebagai marja’ mereka dalam hal rujukan hukum Islam.

Bahkan, keputusan, dan fatwa Ali Khamenei sering diikuti atau dibaca oleh jutaan orang Syiah di berbagai negara. Ini membuat pengaruhnya melampaui batas Iran sendiri.

Apa yang akan terjadi dengan Iran usai Khamenei gugur?

Presiden Amerika Serikat Donald (AS) Donald Trump menyatakan di Truth Social bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia.

Tak pelak, klaim tersebut memicu pertanyaan besar di kawasan Timur Tengah mengenai masa depan Iran.

Selain tentang kebenaran dari klaim Trump, pertanyaan juga tertuju ke satu isu dasar, yakni apakah sistem Republik Islam iran akan ikut runtuh bersama sosok yang selama ini menjadi pusat otoritas tertinggi?

Sejak awal berdiri pada 1979, Republik Islam dirancang untuk melampaui figur individu.

Prinsip ini ditanamkan Ayatollah Ruhollah Khomeini bahwa negara harus lebih penting daripada siapa pun yang memimpinnya.

Namun, dikutip dari Forbes pada Sabtu (28/2/2026), situasi saat ini memunculkan kekhawatiran berbeda, terutama terkait bagaimana sistem militer Iran yang dirancang merespons otomatis akan berhenti ketika tak ada lagi otoritas tunggal yang memerintahkannya.

Cincin Berukir Khamenei Tersemat Ayat Alquran

Sosok Ayatullah Ali Khamenei pun menuai sorotan usai kabar kematiannya.

Kehidupannya menarik simpati warganet.

CINCIN KHAMENEI - Cincin bertuliskan penggalan ayat suci Alquran yang dipakai Ayatullah Ali Khamenei semasa hidup. 
CINCIN KHAMENEI - Cincin bertuliskan penggalan ayat suci Alquran yang dipakai Ayatullah Ali Khamenei semasa hidup.  (HO/Istimewa/https://english.khamenei.ir)

Bahkan, cincin yang dipakai pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei saat masih hidup, sempat mencuri perhatian, terutama di media sosial.

Dalam "tradisi" muslim Syiah, mengenakan cincin diyakini bagian dari praktik yang sangat ditekankan ajaran Nabi Muhammad serta Ahlulbait (keluarga nabi). 

Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, diketahui sebagai sosok yang mengikuti "tradisi" ini secara konsisten. 

Baca juga: Daftar 7 Anak Try Sutrisno, Wapres ke-6 RI Meninggal, Satu Putranya Jenderal Perwira Tinggi TNI AD

Dalam berbagai penampilan publik—baik pertemuan resmi, acara keagamaan, maupun seremoni—Ali Khamenei sering terlihat mengenakan cincin perak yang berbeda-beda. 

Cincin-cincin tersebut bukan sekadar perhiasan, melainkan dipilih berdasarkan makna mendalam dan sifat-sifat yang dikaitkan dengan setiap batu dalam tradisi Islam.

Misalnya, dalam acara tadarusan Alquran di Teheran, Ibu Kota Iran, hari-hari pertama bulan suci Ramadan, Ali Khamenei mengenakan cincin yang bertulisan sebuah penggalan ayat suci Alquran.

Di cincin itu terukir penggalan ayat berbahasa Arab: إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ (Inna ma‘iya rabbī sayahdīni) dari QS. Asy-Syu‘ara (26): 62.

Penggalan ayat tersebut memiliki terjemahan: “Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” 

Ini adalah ucapan Nabi Musa ketika dikejar Fir’aun dan laut terbentang di depan.

Ayat ini, oleh ulama-ulama Islam, ditafsirkan menggambarkan keteguhan iman dan tawakal Nabi Musa saat menghadapi situasi kritis, di mana ia dengan tegas menolak keputusasaan pengikutnya melalui kata "kalla" (sekali-kali tidak) demi meyakinkan mereka bahwa mereka tidak akan tertangkap oleh kejaran Fir'aun. 

Dengan keyakinan penuh bahwa Allah senantiasa menyertainya (inna ma'iya Rabbi), Musa memberikan jaminan bahwa pertolongan serta jalan keluar pasti akan datang sebagai petunjuk dari Allah bagi mereka yang menjalankan perintah-Nya. 

Daftar Jenderal dan Pejabat yang Tewas

Operasi ini secara efektif memenggal kepala rezim Teheran. Nama-nama besar yang dikonfirmasi tewas meliputi:

  • Letjen Abdolrahim Mousavi: Kepala Staf Angkatan Bersenjata.
  • Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh.
  • Mayjen Mohammad Pakpour: Komandan elit IRGC.
  • Ali Shamkhani: Penasihat pertahanan senior.
  • Keluarga Inti: Termasuk putri, cucu, menantu perempuan, dan menantu laki-laki Khamenei

(Kompas.com/Tribunnews.com/Wartakotalive.com/TribunSumsel.com/Bangkapos.com)

 

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.