TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Di saat publik ramai berspekulasi mengenai identitas korban melalui foto-foto tato yang beredar di media sosial, Kepolisian Daerah (Polda) Bali tak ingin buru-buru menyimpulkan sembari menanti hasil yang jauh lebih akurat uji DNA berbasis jaringan tulang.
Hingga kini publik masih menanti misteri potongan tubuh manusia yang menggegerkan pesisir Pantai Ketewel, Gianyar.
Kabid Humas Polda Bali, Kombes Pol Ariasandy, menegaskan bahwa proses autopsi di RS Prof. Ngoerah sedang berlangsung secara intensif.
Namun, kondisi jenazah yang telah mengalami pembusukan tingkat lanjut menjadi tantangan tersendiri bagi tim forensik.
Baca juga: BREAKING NEWS: Penculikan WN Ukraina di Bali, DNA Ibu Cocok dengan Sampel Darah di Lokasi Penyekapan
Menurutnya, banyak jaringan lunak yang kini dinyatakan tidak valid untuk dijadikan sampel pengujian.
"Karena terjadi pembusukan, sehingga banyak jaringan yang invalid untuk diambil. Kemungkinan hari ini sudah ada hasil yang kemudian diserahkan kepada Labfor kita untuk diambil DNA-nya. Kami masih menunggu hasil autopsi dan penyerahan sampel tersebut," ujar Kombes Pol Ariasandy, pada Selasa 3 Maret 2026.
Kombes Pol Ariasandy menekankan bahwa polisi tidak lagi mengandalkan jaringan kulit atau daging yang telah rusak. Tumpuan utama identifikasi kini berada pada struktur tulang korban.
"Bagian tulangnya yang diambil. Kalau untuk jaringan lain sudah tidak bisa karena sudah rusak, sudah invalid untuk diketahui DNA-nya," bebernya.
Pihaknya juga mengonfirmasi bahwa bagian kepala yang ditemukan pun sudah dalam kondisi tanpa rambut akibat proses alami pembusukan di laut.
Mengenai spekulasi netizen yang mencocokkan tato pada potongan tangan dengan identitas korban penculikan yang sempat viral, Ariasandy memberikan peringatan tegas untuk tidak terburu-buru menyimpulkan.
Baginya, kemiripan fisik bukanlah bukti hukum yang absolut di mata kepolisian.
"Kita tidak bisa memastikan hanya dari tato, siapa saja bisa membuat tato yang sama. Kami baru bisa menyampaikan kesimpulan setelah ada hasil tes DNA secara saintifik dan forensik," bebernya.
"Kemiripan bentuk tubuh itu hanya petunjuk awal bagi kami untuk menduga-duga, sehingga atas dasar itulah kami meminta sampel DNA untuk dicocokkan," sambung Kabid Humas.
Untuk mempercepat proses ini, Polda Bali telah mengantongi data DNA pembanding dari ibu kandung korban penculikan yang diduga kuat memiliki keterkaitan dengan temuan di Ketewel.
Data tersebut dikirim langsung dari daerah asal korban untuk disandingkan dengan hasil ekstraksi tulang yang akan dikoordinasikan dengan Labfor Mabes Polri. (*)