TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gianyar melalui Dinas Ketenagakerjaan terus menelusuri jumlah warganya yang sedang berada di kawasan Timur Tengah, lokasi konflik.
Per Selasa 3 Maret 2026 ini, baru dua orang terkonfirmasi.
Mereka berada di Kuwait namun pemerintah belum bisa mengkonfirmasi kondisi mereka saat ini.
Hal tersebut dikarenakan pemerintah belum bisa menghubungi yang bersangkutan.
Baca juga: PERANG Timur Tengah Pengaruhi Pariwisata Bali, KBRI di Doha Qatar Sebut 45 WNI asal Bali Masih Aman!
Diketahui mereka diketahui diberangkatkan melalui PT Alqurny.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Gianyar, Gede Suasana, saat dikonfirmasi, membenarkan hal tersebut.
Kata dia, saat ini masih menunggu keterangan resmi dari Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) maupun Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI).
Baca juga: MOHON DOA! Buntut Perang AS-Israel Vs Iran, Kondisi 12 PMI Asal Klungkung Masih Misterius
Suasana mengatakan pihaknya akan terus mengumpulkan informasi terkait warga Gianyar tengah berada di wilayah Timur Tengah.
Hal tersebut untuk memastikan aspek perlindungan dan keselamatan mereka.
Berdasarkan penelusuran Tribun Bali, salah satu pekerja migran yang berada di Kuwait berinisial DNK, yang juga tengah dalam proses hukum perdata di Pengadilan Negeri di Bali.
Namun DNK ini tak termasuk dalam Pekerja Migran Indonesia (PMI) Gianyar yang diakomodasi Disnaker Gianyar.
Baca juga: 12 PMI Asal Klungkung Bali Bekerja Di Negara Terdampak Langsung Perang Timur Tengah
Dua PMI yang dikonfirmasi Disnaker bernama Putu Kramania Sinta Dewi dan Ni Nyoman Juliantari.
I Nyoman Astana selaku Kuasa hukum DNK, mengatakan, pada Selasa 3 Maret 2026 siang ia sempat mengirim hasil putusan berupa foto melalui pesan WhatsApp.
Pesan tersebut telah dilihat yang bersangkutan dengan menunjukkan pesan WA centang biru. Namun tidak ada balasan dari yang bersangkutan.
Di waktu yang sama, Astana juga sempat mengirim tulisan singkat pada kliennya tersebut, menanyakan kondisi kliennya tersebut. Namun pesan tersebut tidak dibaca.
"Kami mengintensifkan komunikasi dengan yang bersangkutan karena sedang ada proses hukum perdata di Bali. Tadi sempat mengirim pesan hasil putusan, dan menanyakan kondisinya di sana, yang bersangkutan hanya melihat pesan hasil putusan, tapi tidak dibalas, sementara bagaimana kabar yang bersangkutan di sana, pesan tersebut belum dilihat," ujar Astana.
Namun berdasarkan keterangan keluarga yang bersangkutan, kata Astana, kliennya tersebut dalam keadaan baik-baik saja. Namun yang bersangkutan sempat ketakutan, karena melihat ledakan bom tak jauh dari apartemennya.
"Dari keterangan keluarga, yang bersangkutan katanya kondisinya sekarang baik, meski dirundung was-was karena dua hari lalu sempat ketakutan ada bom jatuh tidak jauh dari apartemennya," jelasnya. (*)